Threesome

Posted in Uncategorized on August 24, 2009 by ceritaindo

Aku menikah cukup lama, 5 tahun. Banyak orang bilang umur pernikahan 5 tahun adalah masa masa genting. Akupun merasa hambar terutama setahun terakhir, dalam urusan sex. Suamiku kurang suka mengekploitasi teknik teknik dalam bercinta, terlalu monoton.

Terkadang aku berpikir, mengapa suamiku tidak ingin menyeleweng. Dia terlalu baik, padahal aku perlu merasa cemburu .Cemburu adalah rasa memiliki. Pernah aku berpikir untuk menyeleweng. Sebenarnya aku nggak suka tetapi aku ingin suamiku cemburu.

Kemarin suamiku pulang membawa film bokep, hmmm tumben..”Ayo ma nonton..lama kita gak nonton bareng…refreshing….OK ?” Ajak suamiku sambil tiduran.

Filmnya cukup heboh, karena penuh adegan satu cewek yang disetubuhi 2 cowok. AKu selama ini Cuma sekali dua kali nonton tapi tidak pernah melihat adegan bercinta model begitu. “ Bercinta model apaan itu pa ? kok kelihatannya enak banget” Tanyaku, terus terang aku menyukai gaya bercinta seperti itu.

“Itu threesome namanya ma, kenapa ? kelihatan enak ya…memang kamu suka ? “ Tanya suamiku, wajahnya agak cemberut.
Continue reading

Belajar threesome dari teman teman suamiku

Posted in Uncategorized on August 24, 2009 by ceritaindo

Aku menikah cukup lama, 5 tahun. Banyak orang bilang umur pernikahan 5 tahun adalah masa masa genting. Akupun merasa hambar terutama setahun terakhir, dalam urusan sex. Suamiku kurang suka mengekploitasi teknik teknik dalam bercinta, terlalu monoton.

Terkadang aku berpikir, mengapa suamiku tidak ingin menyeleweng. Dia terlalu baik, padahal aku perlu merasa cemburu .Cemburu adalah rasa memiliki. Pernah aku berpikir untuk menyeleweng. Sebenarnya aku nggak suka tetapi aku ingin suamiku cemburu.

Kemarin suamiku pulang membawa film bokep, hmmm tumben..”Ayo ma nonton..lama kita gak nonton bareng…refreshing….OK ?” Ajak suamiku sambil tiduran.

Filmnya cukup heboh, karena penuh adegan satu cewek yang disetubuhi 2 cowok. AKu selama ini Cuma sekali dua kali nonton tapi tidak pernah melihat adegan bercinta model begitu. “ Bercinta model apaan itu pa ? kok kelihatannya enak banget” Tanyaku, terus terang aku menyukai gaya bercinta seperti itu.

“Itu threesome namanya ma, kenapa ? kelihatan enak ya…memang kamu suka ? “ Tanya suamiku, wajahnya agak cemberut.

Hmmm kesempatan untuk melihat seberapa besar cemburunya. “ Kelihatannya asyik tuh pa…gimana ya rasanya disetubuhi 2 cowok ganteng begitu. Kepengen nehhh…” Kataku santai.

“Hmmm..gitu ya..bener kepengen nehh ? aku bilangin ma…kalo kamu nyeleweng main dengan 2 cowok gitu, aku cerai kamu, bener nih…!!” Katanya emosi.

“Haduh papa…ya deh..kalo gitu ngapain bawa film kayak begini…mestinya jangan dibawa dong..mending bawain yang ceweknya dua gitu..papa sendiri yang kepingin kan ?”Gerutuku.

“Ya deh…ya deeehhh…Sebenarnya aku memang penasaran aja, kata temen bercinta model threesome gitu asyik, tapi yang melibatkan istri…wah aku keberatan lah…masak kamu dinikmati cowok lain. Tapi memang aku terangsang banget sih membayangkannya. “ Kata suamiku bingung.

“ Sedari tadi aku coba bayangin kamu yang ada di adegan itu. Antara marah , cemburu, dan terangsang berat. Coba ma kamu lihat, coba kamu bayangin kamu yang disetubuhi berdua gitu, gimana menurut kamu…haduhhhh gila …”Mata suamiku tidak lepas dari televisi.

“Hmmm…kalo aku bilang enak,…papa marah…susah kan ? Kalo aku bilang gak pengen kenyataannya aku jadi kepikiran…bohong lagi.” Kataku pelan.
Mata Robert suamiku memandangku tajam : “ Sebenarnya kamu kepengen coba gak sih ma…?”

“Gak mau jawab !!! pikir aja sendiri…udah ah…aku mau bobo…” Kataku menghindar.

Sejak kejadian itu suamiku hampir setiap hari sebelum tidur selalu nonton bokep threesome tersebut. Sementara fantasiku kini malah melebar sambil terus membayangkan kalo disetubuhi lebih dari 2 cowok…hhhh tambah repot kan ? Sementara percintaan kami juga masih monoton. Rupanya suamiku juga merasa.

Sekarang setiap malam minggu, kegiatan suamiku bertambah dengan menonton bokep bersama 3 sahabatnya, Edo, Donny dan Rudi. Terus terang aku agak keberatan karena mereka terkadang suka menginap, atau tepatnya tertidur di sofa ruang tengah karena mabuk semalaman, dan yang paling parah adalah suamiku. Edo, Donny dan Rudi sebenarnya juga temanku kuliah juga, jadi kami sudah saling mengenal lama, bahkan Edo pernah pacaran denganku 3 bulan ketika belum mengenal suamiku sekarang.

Minggu pagi, Edo sudah nongol di dapur menemaniku. Sementara suamiku masih tertidur di bath up !!! kebangeten nggak ?

“Nggak mabuk semalem Do ? “Tanyaku

“Gak ah…bosan, masa setiap malem minggu abis nonton bokep terus mabuk. “Edo nyengir.

3 sahabat suamiku ini masih bujang, Aku yakin kalo dulu gak kebobolan, Robert juga gak bakalan menikah.

Kami ngobrol tentang macam macam sampai akhirnya Edo nyeletuk tentang obsesi threesome suamiku. “ Suamimu memang aneh, masa dia pernah bilang kalo pengen lihat kamu bercinta dengan cowok lain. Aku pikir dia serius, tapi setelah aku tanya beneran eh dia mundur lagi, rupanya Robert kebingungan Rin…kenapa sih dia jadi aneh begitu dan lagi kamu kan bukan tipe suka sex bebas..” Tanya Edo pelan.

“Ah Robert memang gak jelas, aku kapan itu juga sengaja menggoda dia, eh dia marah marah…”Jelas ku.

“Tapi sebenarnya kamu ingin mencoba gak sih Rin…ummm sorry terlalu to the point ya…hehehe” Edo meralat omongannya.

“Menurut kamu enak gak sih Do ? Kalo nonton sempat juga sih terlewat pengen coba, ah tapi aku kuatir nyesel setelahnya…dan lagi Robert kalo tahu bisa kacau semuanya…”Jawabku perlahan, aku nggak merasa jengah bicara dengan Edo, karena dia juga dulu eks pacar, selain itu ketika kuliah di teknik kami memang terbiasa bicara ceplas ceplos.

“Mengenai enaknya,hmmm laki laki pasti bilang enak, tapi aku belum pernah nyoba, Cuma yakin kalo enak aja hehehe, kalo dari sudut pandang si cewek wah aku nggak tahu, kamu sendiri yang bisa jawab Rin.. Jawabnya pelan.

Dalam hati sebenarnya aku pengen mencoba tapi gak mau dengan sembarangan orang. Kalo dengan Edo sih…hmmm boleh juga, dia kan bekas cowok ku.

“Hmmm, gini aja, kita coba dulu tapi kalo tiba tiba moodku ilang,kita harus berhenti. Bagaimana menurutmu ? sekarang aja mumpung suamiku masih tidur, kalo mabuk begitu paling 3 jam lagi baru bangun” Usulku ke Edo.

“Maksudmu “kita” itu siapa ? Kamu dan aku Rin ? “Tanya Edo gak yakin.

“Ya iyalah…kita coba dulu berdua, nanti kalau aku sudah merasa nyaman, ajak si Donny gabung…sementara Rudi jaga jaga kalo kalo suamiku bangun. selain itu aku gak mau suami ku mengajak threesome dengan cowok sembarangan. Kalo dengan kamu aku kan nggak malu dan kaku. Anggap aja ini belajar dulu“ Aku jadi teringat ketika bermesraan dengan Edo ketika pacaran dulu, kami tidak pernah melewati batas, maksimal petting.

Edo terlihat terkejut, dengan cepat aku tarik ke kamar tamu di lantai atas. Masih didepan pintu, Edo sudah menciumi leherku. “Do..kali ini kamu bisa masuk, nggak petting lagi….tapi pelan pelan ya.” Bisikku
Edo meciumi bibirku perlahan. Terus terang aku agak nervous, malu juga dengan Edo kenapa aku kelihatan begitu bernafsu ingin bercinta dengan orang lain, bagaimana penilaian dia terhadapku, hhhh..ah biarlah…terlanjur basah..semoga saja suamiku gak nongol tiba tiba.

Gaya bercinta Edo masih seperti dulu…lembut dan menghanyutkan, tiba tiba saja dia sudah mengulum payudaraku…hah kapan dia melepas bra-ku ? “ Do…pelan pelan ya…shhhh..”

Makin turun makin turun, mulutnya kini sibuk menyedot vaginaku…lidahnya menari nari di klit-ku ahhh bikin malu saja….”Do..jangan Do…aduhh..shhh”

Kemudian dia melepas celana dalamnya…batang Edo masih kalah dengan Robert suamiku, jauh malah. Mungkin kalau masuk tidak terasa, tapi bukankah sesuatu yang baru tetap bikin deg degan ?
Edo mendekatkan batangnya ke mulutku. Rupanya dia ingin aku mengoralnya.
“Do…sorry do, aku belum siap mengoral batang lain selain suamiku..maaf ya…” Aku kocok lembut batangnya.
Edo tampak mengerti dan tidak memaksa, perlahan batangnya mengarah ke vaginaku. Tiba tiba vaginaku terasa hangat…
Ahhhh…aku disetubuhi cowok lain !…aku disetubuhi cowok lain !!….ahhhhh aneh rasanya.
Benar milik Edo tidak terlalu terasa di vaginaku…tapi tetap saja membuatku gemetar. Tenyata begini rasanya bersetubuh dengan laki laki lain, nikmat juga, sensasinya yang tidak bisa aku jelaskan..

Aku lingkarkan kakiku ke pinggangnya, batangnya terasa mentok tapi tanpa gesekan. Edo tampaknya juga merasa. “ Sepertinya punya Robert lebih besar dari milikku”Bisiknya perlahan sambil menggigit lembut telingaku.

Aku tersenyum “ Hanya beda dikit kok…” Kataku menghibur, padahal jauuuuuhh….!

“Rin gimana kalo aku panggil Donny, kita coba threesome….”

Aku menganggu lemah sambil berpikir, apa nanti yang akan dilakukan oleh Donny karena aku nggak mau oral, nggak mau anal.
Rupanya Donny sudah berdiri dipintu sambil senyum senyum, sialan jadi dia sedari tadi sudah menonton pertunjukan gratis, dan aku tidak merasa sama sekali, aduhh kuatir juga kalo tiba tiba suamiku ikutan nongol. Ahhh biarlah..toh Robert juga ingin threesome tapi nggak berani mulai.

Dalam waktu singkat Donny sudah bugil, hmmm tubuhnya masih atletis tapi batangnya malah lebih kecil dari punya Edo…sial.
Donny mulai menciumi buah dadaku…hmmm enak juga, Satu laki laki memasukkan batangnya dan laki laki lain menciumi dadaku, sementara jemariku mngocok lembut batangnya. Ahhhh beginilah rasanya threesome…hehe enak juga.
Sebelum batangnya mendekat ke mulutku, Edo sudah memberi kode larangan ke Donny. Hmmm good…

Aku berpikir lagi harus mencoba variasi bagaimana lagi ya…ini cowok cowok kurang pinter eksplorasi. Payah….

Aku teringat di salah satu film bokep milik Robert ada adegan dua batang masuk barengan ke vagina…hmm kira kira sakit gak ya….mungkin nggak lah karena batang mereka cukup kecil, di dobel pun hanya sedikit lebih besar dari punya Robert, nggak ada salahnya dicoba.

Ide itu membuat mereka terkejut…ah bikin ilfil saja melihat tampang mereka.

“Wow !! beneran nih ? “ Tanya Donny

Gimana coba menurut kalian, nyebelin kan komentarnya…dasar laki laki.

Donny segera memposisikan tubuhnya di bawahku, WOT. Perlahan batangnya menyelusup di vaginaku. Edo memandangku dengan khawatir, perlahan batangnya diarahkan ke vaginaku tapi dari sisi atas.
Perlahan dia gesekkan ke klitorisku, pelan pelan mulai menyelusup diatas batang Donny.
Ahhhhh ternyata bisa masuk !! bisa masuk !! Vaginaku terasa penuh dan yang terpenting ternyata nikmat sekali !
“Pelan ngocoknya Do…pelan ya..takut sobek.. Don… jangan cepat cepat please…ahhhh”

Dua batang itu bergantian keluar masuk, terkadang bersama sama, gila !! nikmat sekali…apalagi Donny menciumi leherku dari belakang sementara Edo mengulum putting merah mudaku.
Semakin lama semakin cepat…tempat tidur berderit lebih keras. Hentakan pinggul Edo tambah mnghunjam, kocokan batang Donny lebih terasa.
“Rin…nikmat Rin…aaaahhh nikmat sekali” Wajah Edo memerah, sementara hembusan nafas memburu Donny menerpa telingaku.
Ahhhhh aku bisa orgasme nih…bisa orgasme nih…pahaku terasa menegang…

Tiba tiba Edo berteriak keras, terasa semburan spermanya ke rahimku, aduh enak banget…Donny ikutan melenguh…rupanya dia ikut memuncratkan spermanya.
Dua semburan sperma tersebut membuat tubuhku kaku sampai pada puncak orgasme, nafasku tercekat, Jantungku rasanya berhenti…ahhhhh aku sampai..aku sampai!!
“Do !! aku …aku …!! Ahhhh” Tubuhku melemas mengikuti dua tubuh laki laki di atas dan bawahku.

Sambil memejamkan mata aku mencoba menenangkan deburan jantungku, menarik nafasku yang tersengal sengal.

Tiba tiba aku teringat suamiku, ahh jangan jangan dia sudah bangun.
Pelan kubuka mataku dan melirik ke arah pintu…Dieeeggg !!! dadaku serasa dihantam palu godam.

Robert suamiku berdiri lemas di berpegangan handle pintu. Wajahnya merah padam. Nafasnya ngos ngosan…mulutnya terbuka..tiba tiba brrruuukk suamiku terkulai pingsan.

Mataku tiba tiba kabur..gelap….

Me & Adel : Our Private Game

Posted in Uncategorized on August 21, 2009 by ceritaindo

Aku sudah berpacaran dengan Adel selama lebih dari 2 tahun ( Februari ini menginjak 2 tahun 3 bulan ) dan selama itu hubungan kami fine – fine aja.
Terlebih soal hubungan sex, aku cukup beruntung punya pacar yang tergolong cukup aktif dan terbuka membicarakan ( dan tentu saja melakukan ) sex.
Adel adalah tipe cewek yang punya inisiatif dalam hal hubungan sex.
Sejak awal hubungan kita, soal sex adalah hal yang lumrah dibicarakan hingga akhirnya kita melakukannya saat baru berpacaran sekitar 2 bulan.
Aku adalah orang ke 3 yang pernah berhubungan sex dengannya – begitu menurut pengakuannya.
Adel sudah aktif berhubungan sex dengan pacarnya semasa kuliah dan so far saya melihat dia amat matang dan cukup dewasa dalam berhubungan sex.

Sejak awal berhubungan, saya sadar Adel sudah tidak virgin lagi but that’s ok mengingat saya pribadi tidak melihat virginity sebagai sebuah hal yang sakral atau mejadi patokan kualitas kepribadian seseorang.
Tapi saya memang tidak ingin menanyakan atau membicarakan hubungan sex Adel dgn pacarnya dulu sampai akhirnya dia menceritakannya sedikit karena tidak sengaja.
Hal itu terjadi gara – gara pembicaraan kita mengenai penisku yang agak bengkok ke kiri – sedikit sih Cuma kelihatan agak melengkung kalau sedang ereksi.
Saya menanyakan apakah hal itu mengganggu dia dalam berhubungan dan Adel menjawab bahwa hal itu normal.
Well, saya pun paham bahwa hal itu normal hanya agak sedikit ‘kaget’ karena akhirnya Adel menceritakan pengalamannya bahwa di masa kuliah, pacanya yang pertama kali mengambil keperawanannya malah lebih ‘bengkok’ dari punyaku.
Karena penasaran dan kepalang tanggung saya menanyakan sekalian sudah berapa pria yang pernah berhubungan dengan dia dan Adel menjawab bahwa sebelum saya sudah ada 2 pria yang pernah berhubungan sex dengannya.
Tambah penasaran dan kepalang tanggung saya bertanya pertanyaan yg tentunya agak ‘sensitif’ tapi saya yakin ada di benak rekan2 Bluefame sekalian “ Diantara kita bertiga, yang mana yang paling panjang? “
Cukup lama Adel berpikir untuk menjawab dan terus terang itu membuatku mendadak merasa ‘sensi’ dan pikiran buruk muncul “ jangan2 punya gua yang paling kecil nih’ – gawat!
Tapi Adel kemudian menjawab “hmm jangan tersinggung ya say, yang paling panjang itu yang pertama tapi beda dikit koq sama punya kamu ”
“Well, sedikit lega rasanya karena ternyata saya masih no.2 dan bukan yang paling pendek – tapi tetap saja ‘HIKS’ ( ternyata masih ada yg lebih panjang dari punyaku yang 15,5 cm ini )

Balik ke cerita saya lagi, setelah dua tahun lebih berpacaran, saya merasa hubungan sex menjadi standart alias hanya itu itu saja tanpa variasi.
Kami berdua punya fantasi sex yang cukup tinggi dan so far seringkali share satu dengan yang lain.
Akhirnya kita punya cara membuat hubungan ranjang kita lebih ‘hot’ dan ‘challenging’.

Adel adalah tipikal modern worker yang punya sex appeal tinggi dan bekerja sebagai purchasing manager di sebuah perusahaan pertambangan asing yang berkantor di daerah SCBD.
Pekerjaannya menuntut dia sering bertemu klien yang mayoritas pria dan dari situ tentu saja banyak yang menggoda atau sekedar mencoba flirting dengannya mengingat statusnya masih single
( well, status pacaran tidak dianggap – hikz lagi ).

Kami juga tidak pernah mengekang pergaulan satu dengan yang lain karena sama2 sibuk dan Adel masih aku berikan kebebasan untuk hangout dengan teman2nya di pub atau diskotik.
Tentu saja tawaran kencan atau sekedar ‘ngupi2’ sering dia terima baik dari kenalan2nya maupun dari klien2nya diluar jam kantor.

Solusi atas hubungan sex yang standar akhirnya kami temukan yaitu kita saling flirting dengan orang lain / stranger di hadapan pasangan kita.
Syaratnya adalah si teman kencan itu haruslah orang diluar lingkup pergaulan kita jadi bila Adel berkencan haruslah dgn pria yg tidak kenal dgn aku dan demikian sebaliknya.
Jadilah strategi itu kita jalankan gentian, bila aku ngedate dengan pasanganku maka kita janjian di satu tempat sementara Adel menyaksikan dari dekat tapi tetap berlagak tidak saling mengenal.
Demikian sebaliknya ketika Adel menerima tawaran ‘ngupi’ dari kliennya diluar jam kantor maka aku akan duduk tepat dimeja sebelah mereka berlagak tidak kenal sambil menyaksikan mereka saling flirting satu sama lain.
Ternyata hal itu amat membakar birahi dan menaikan hormone adrenalin.Melihat pria asing menggoda pacarku yang cantik, berusaha mengajaknya ‘check in’, menyentuh tangan pacarku diatas meja atau meletakkan tangan di pinggang Adel ketika meninggalkan ruangan membuat ereksiku tidak tertahan.
Hal itu biasanya dicurahkan setelah itu dengan hubungan sex yang hot dan panas karena terpicu oleh rasa cemburu dan sensasi erotis yang tinggi.
Namun hanya sebatas itu karena kami tetap berkomitmen bahwa hal itu Cuma ‘game’ yang dimainkan saat itu saja dengan batasan yang jelas dimana aku maupun dia tidak akan meneruskan dengan teman kencan masing2.
Setelah kencan kita masing2 harus berpisah dengan teman kencan kita dan membiarkan mereka penasaran.
Bila Adel yg kencan, setelah itu dia akan menolak bila diantar pulang atau diajak ‘lanjut’ karena aku siap menjemput dia dan demikian sebaliknya.

Hampir 3 bulan kita melakukan taktik ‘pemanasan’ seperti itu sebelum kita berhubungan sex sampai akhirnya kita berdua tidak bisa menahan godaan untuk melakukan yang lebih dari itu.
‘Bagaimana bila kita menyaksikan pasangan kita melakukan lebih dari itu?’
‘Tidakkah itu akan lebih hot dan erotis lagi?’

Tapi sebuah dilemma timbul karena bila kita sampai melakukan dengan teman kencan kita maka hal itu dikuatirkan akan berkepanjangan dan berlanjut hingga melibatkan emosi.
Aku dan Adel sama2 sepakat bukan itu yang kita butuhkan.
Kita tidak butuh perselingkuhan tapi hanya butuh rekreasi sex dengan pasangan yang tanpa resiko.
Pasangan yang bisa kita kendalikan dan bukan nantinya akan mengendalikan kita.
Dengan kata lain bila aku atau Adel yang melakukannya, kita akan melakukan dengan orang yang tidak memiliki akses untuk nantinya mengganggu dan merongrong hubungan kita.
Gigolo atau Call Girl bayaran?
No Way! Kilah Adel.
Akupun setuju karena kita butuh ‘orang ketiga’ yang intelek dan melakukan sex bukan karena dibayar
Akhirnya hal itu tetap menjadi angan – angan semata sampai suatu ketika aku sedang browsing di rumah dan menemukan sebuah milist khusus para swinger.
Setidaknya ada 3 milist serupa yang saya temukan dan akhirnya saya menunjukan ke Adel.

Kita kemudian sepakat memasang iklan di milist tersebut guna mencari ‘orang ketiga’ tersebut dengan cara yang lebih ‘safe’
Awalnya sempat terjadi perdebatan siapa yang akan lebih dulu mempraktekan hal itu, apakah kita akan mencari pasangan buatku atau pasangan buat Adel.
Akhirnya aku menyadari bahwa Adel lebih posesif kepadaku daripada sebaliknya.
So akhirnya aku mengalah dan setuju kita mulai dengan mencari pasangan untuk Adel baru kemudian bila sukses kita lakukan sebaliknya.
( Sejujurnya sih proposal awal yg aku ajukan adalah threesome 2 cewek, 1 cowok tapi ditentang habis oleh pacarku yang katanya tidak rela berbagi seranjang dgn wanita lain sementara bila sebaliknya, 2 cowok + 1 cewek, aku yang protes karena sama sekali
tidak terbayangkan olehku seranjang dengan pria lain dalam keadaan telanjang – bisa off nih rudal – heheh )
Akhirnya kita pasang iklan sebagai berikut :

pajamatimelovers@y…> wrote:
> Hi all,
>
> Kami berdua pacaran selama 2 tahun.
>
> Saya pria berusia 28 thn dan pacar saya 27 tahun.
> pacar kami mencari partner untuk one-on-one sex ( M-F )
> Kami memiliki fantasi ini sejak lama dan kali ini mencoba
> merealisasikannya.
>
> Kalau anda pria berusia antara 23 – 27 tahun silahkan kirim ke email
> kami ini : pajamatimelovers@y…
>
> Ceritakan ciri2 fisik, kemudian tulis apa yg akan kamu lakukan kalau kamu terpilih.
>
> Bila saya dan pacar saya setuju, nanti akan di beritahu via email utk
> membuat perjanjian utk interview berikutnya.
>
> Kami membutuhkan orang yang bisa dipercaya,
> memiliki kedewasaan dalam berhubungan sex serta punya fantasy sex yang unik.
> Tidak harus ganteng, yang penting sehat dan menarik.
> Harap diingat, ini hanya akan menjadi ONS ( One Night Stand ) tanpa kelanjutan.
> Bila berminat kirimkan juga foto diri anda terkini.

Terus terang kami tidak pernah melakukan hal itu jadi kami mencoba menulis ‘lowongan’ itu dengan bahasa sebisanya saja.

Seperti yang diduga jawaban dating lewat email amat banyak dan dalam waktu 2 hari saja sudah puluhan yang kita terima.
Tentu saja mayoritasnya adalah sampah karena isinya malah banyak yang vulgar dan childish.
Setelah lebih dari 2 minggu menunggu akhirnya kita mulai memilah ‘lamaran’ yang kita anggap serius dan ‘bisa dipertanggung – jawabkan’
Kita memilih pelamar yang mencantumkan foto atau yang menggunakan email kantor karena dari situ at least terlihat keseriusan dan kejujuran mereka.

Aku biarkan pacarku menseleksi dan menentukan siapa yang menurutnya sesuai atau mendekati seleranya.
Fase berikutnya kita coba kontak sekitar 5 pelamar dan meminta untuk melakukan chatting lewat yahoo messenger dengan menggunakan webcam ( kami tidak menggunakan webcam )
Akhirnya Adel menjatuhkan pilihannya pada seorang pria muda berusia 23 tahun, fresh graduate yang bekerja sebagai MT di sebuah perusahaan telekomunikasi.
Sebut saja namanya Don, dia cukup ganteng dan menurut pengakuannya memiliki tinggi badan 180cm – 2 centi lebih tinggi dari aku.

Berikutnya aku aja Don ‘interview’ langsung dengan datang ke kantornya ( sekaligus menyelidiki keabsahan datanya ).
Don bekerja di kawasan Thamrin dan kebetulan di lobby gedung kantornya ada coffeshop dan kami ngobrol disitu.
Adel hadir ditempat yang sama tapi duduk di lain meja tanpa sepengetahuan Don menyaksikan pembicaraan kami.
Pembicaraannya agak canggung karena kami berdua sama sekali belum pernah mengalami hal itu dan tentu saja perasaan saya berkecamuk karena saya sedang bicara dengan pria yang bakal menikmati tubuh kekasih yang saya cintai.
Awalnya Don bersikeras meminta foto pacar saya tapi tidak saya berikan kecuali saya memastikan bila saatnya nanti Don tidak merasa cocok dengan pacar saya, dia bisa membatalkan perjanjian di saat terakhir.
Saya pikir itu merupakan pilihan yang safe.
Don adalah anak muda yang punya fantasy sex yang cukup tinggi dan dari pengakuannya dia cukup berpengalaman dalam berhubungan sex.
Saya hanya tegaskan bahwa saya minta sex yang aman ( menggunakan kondom ) dan dia setuju serta saya mengajukan syarat bahwa hubungan ini hanya One Night Stand, tidak lebih.
Don mengiyakan, bagi dia bisa merasakan pengalaman ini saja sudah merupakan satu hal yang sensasional dalam kehidupan sex-nya.
Interview itu tidak lebih dari 20 menit saja dan kami berpisah.

Aku menjemput Adel di lobby karena kita keluar terpisah dan ketika kutanyakan pendapatnya Adel hanya melirik sambil senyum tanpa menjawab.
Kerlingan dan senyuman nakal itu cukup membuat rasa cemburuku terpicu karena aku paham betul gesture demikian adalah body language Adel dalam menunjukan suatu hal yang dia inginkan – HIKZ.

“ So, kapan nih ?’ ujarnya menggoda
Srrr jantungku serasa mau copot dan ingin rasanya aku membatalkan hal itu tapi tentunya sudah terlambat karena sudah jadi komitmen kita.
‘Ingat lo, setelah kamu nanti giliranku ya’ aku menjawabnya sedikit sewot.
Adelpun menaikan kaki jenjangnya diatas dashboard sambil membuka stocking yang dia kenakan, menurunkan g-string berwarna hitam yang dia kenakan dan kemudian menarik tangan kiriku dari persneling lalu dia letakan dibalik roknya tepat diatas
kewanitaannya yang sudah basah. Akupun langsung memacu mobil ke tempat kost Adel di daerah Karet dan kami melakukan sex yang panas dan penuh gairah.
Sekalipun demikian, pikiranku bercabang selama hubungan sex membayangkan tubuh mulus Adel digerayangi Don.

Hari itupun tiba ketika waktu istirahat makan siang aku kirimkan offline message ke YM Don :
“ Don, nanti jam 7 malam di Café Pisa, datang sendiri, jangan bawa hp, kalau tidak bisa msg aku sebelum jam 5 sore ini’

‘Bring no HP’ adalah keharusan demi privacy karena kami tidak mau ambil resiko bila Don merekam apapun lewat kamera hp-nya.

Dengan cara rasional dan praktis saja, aku dan Adel memutuskan ketemu di Pisa Cafe jam 19.00 wib. Kupikir ada baiknya Don juga kami temui dulu di tempat tersebut. Jadi kami sama-sama makan malam sekalian.
Adel merasa perlu ‘ice breaking’ dulu sebelum lanjut ke hotel karena tentu akan amat canggung bila langsung ketemu di kamar.
Ternyata aku dan Don datang lebih dulu. Adel belakangan karena terjebak macet dari kantornya yang di jalan Sudirman.
Sementara menunggu aku sempat sedikit memberikan introduksi kepada Don bagaimana hubungan kami di ranjang selama ini. Aku tidak tahu apakah hal ini ada gunanya. Lagipula toh mereka yang akan melakukannya bukan saya. Maybe perasaan khawatir bercampur ego saya membuat saya berusaha menjelaskan do’s dan donts dalam hal berhubungan sex dgn Adel pada Don.
Rencananya mereka akan merekam hubungan intim dengan kamera karena rencana awal sebenarnya adalah mereka having sex sementara saya menyaksikan langsung tapi dibatalkan mengingat Adel protes karena katanya canggung bila harus berhubungan dengan pria
lain didepan pacarnya.
Saya paham hal itu karena bila tiba giliran saya nanti saya pasti akan memilih opsi rekam kamera katimbang ada Adel duduk kayak satpam di pinggir ranjang.
So saya jelaskan dan meminta kerjasama Don dalam hal itu.
Dari percakapan itu juga saya mengetahui betapa Don amat antusias karena sebagai fresh graduate yang baru sekitar 4 bulan bekerja, dia mempunyai rasa kagum sekaligus turn on pada wanita2 kantoran yang menurutnya amat mature dan kelihatan amat paham bagaimana merawat tubuh dan penampilan.
Well, saya hanya bisa menghela nafas menanti reaksi Don bila bertemu Adel.

Nampak Adel di ambang pintu restoran mencari kami dan kemudian mengajukan langkahnya. Duh, cantik benar Adel ini. Mungkin dia datang terlambat untuk ke salon mempercantik diri dulu. Huh sepertinya dia amat antusias juga – keluhku membatin.
Adel mengenakan celana bahan yang cukup ketat hingga bagian pinggul dan pantatnya terbungkus rapat menunjukkan lekukan yang amat sexy dan ketika Adel membuka blazernya, hem putih yang dia kenakan rapat memperlihatkan pinggangnya yang ramping dan bagian dadanya yang ketat seolah tercekik kemejanya – HIKZ
Belum lagi rambutnya digelung keatas hingga lehernya yang putih jenjang itu makin terekspos kontras dengan pipinya yang sedikit merona menggunakan blush-on karena Adel kelihatannya well – prepared untuk kesempatan ini – huh!
Sesaat sebelum Adel mencapai meja kami, Don melirik kearahku dan berbisik pelan ‘ Bro, pacar lo hot abis’ – yea enjoy that mothafu*ka! demikian batinku bergolak.

Adel langsung menghampiri dan Don berdiri mengulurkan tangannya bersalaman.
“ mbak Adel cantik sekali’
Nyosss hampir saja tinjuku melayang kearah anak muda yang sepertinya berusaha memainkan perannya sebaik mungkin.
Normally Adel akan langsung protes dan nyerocos bila dipanggil ‘mbak’ dalam kesempatan non formal – ‘deeeuh biasa aja sih, emang gw mbak2?’
Tapi Adel sepertinya amat ‘behave’ dan tersenyum manis sambil membalas ‘ eh gak usah panggil mbak, just Adel aja ok’
Diapun segera duduk dengan tidak bersandar membiarkan lekuk panggulnya terlihat jelas di depan anak muda yang lagi horny itu
– DAMN!!

Sikap keduanya langsung cair yang ditunjukkan dengan senyumannya yang sangat menawan itu. Tentu saja, walaupun kobaran cemburuku menyala, hatiku gembira melihat perkembangan yang terjadi.
Syahwatku mengaliri urat-urat darahku. Kini aku sangat ingin selekasnya menyaksikan bagaimana kekasihku ini digauli orang lain. Selama makan malam, beberapa kali aku meninggalkannya dengan alasan ke toilet atau apa. Aku ingin memberikan kesempatan menjalin keakraban di antara mereka. Nampaknya mereka tahu dan memahami tingkahku. Mereka gunakan se-efektif mungkin untuk
saling lebih dekat.

Jam 20.30 wib, saat yang pas untuk menyelesaikan acara makan malam ini.
Kami pun segera bergegas menuju hotel ‘IBS’ di jalan Wahid Hasyim yg terletak dekat dgn lokasi Pisa Café.
Aku dengan Adel sementara Don dengan motornya lengkap dengan ransel di pundaknya.
Begitu mesin mobilku menyala, Adel langsung melancarkan pertanyaan “Kamu serius say?’
Tatap matanya penuh cinta dan pengertian, hatiku makin luruh karenanya.
“ Well, menurut kamu gimana?’
“ Say, begitu aku sama dia masuk ke kamar, then there will be no turning back’
‘ Honestly aku ini monogamist sejati, and you know that, tapi if u must play this game, then I will do it 100%’ ujarnya lagi dengan tatapan lekat kepadaku.
Tangannya yang halus meraih tanganku dan ditempelkan di pipinya.
Wajahnya yg kuning langsat campuran Sunda – Menado itu semakin menggemaskanku.
“ Say its our game dan aku siap koq’ jawabku lirih.
Sudah kubuang keraguan yang ada dan tampaknya Adel juga demikian.
‘ Just remember ya say, if anything happen just call me ya’ ucapku lagi.
“ Hey silly, pasti something happen lah, emangnya aku mau ngapain kalo bukan mau ‘itu’ sama dia’
Ujarnya sambil mendorong kepalaku menggoda.
“ Iyeee I know that, puasss?’ ujarku sewot
Mata Adel yang cerdas itu terlihat mengerling nakal dan menjawab
“ gak tau deh puas apa nggak nih sama tuh brondong, menurut kamu gimana? Bakal puas gak sih aku?
Oh my God, Adel teasing me.
Perasaanku makin gemas, langsung ku ciumi bibirnya penuh nafsu.
Adel membalas dengan buas dan bibir kami berpagutan cukup lama hingga aku hampir menerobos lampu merah.
Rem berdecit seiring kami berdua tertawa lepas menuntaskan semua keraguan akan rencana kami malam itu.
“ Hey jangan terlalu hot say, ntar make up aku rusak nih kan malam ini bukan untuk kamu’
Well, Adek sebenarnya bukan tipe wanita yg gemar memakai make up tebal dan malam itu seperti biasa dia memulas wajahnya cukup

alami sebagaimana kesehariannya sbg seorang professional muda.
Hanya blush on di pipi dan lipstick warna natural melengkapi alis alaminya yang indah itu – HIKZ HIKZ HIKZ
Dan Adelpun merebahkan tubuhnya memelukku erat sepanjang sisa perjalanan yg singkat tersebut.

20:45
Di lobby hotel Don yang tiba lebih dulu sudah duduk menanti di sofa dan tatapannya berbinar melihat kedatangan kami berdua – well lebih tepatnya melihat kedatangan Adel.
Kami bertiga duduk di sofa selama sekitar 2 atau 3 menit tanpa sepatah katapun seolah saling menanti inisiatif.
Don menatapku seolah meminta persetujuan semantara aku kemudian memalingkan wajahku ke Adel nanar. Aku pasrah saja menanti reaksi Adel.
Adel kemudian menarik nafas panjang, membetulkan blazernya lalu berdiri.
Cukup lama Don terbengong sampai akhirnya Adel mengulurkan tangannya dengan gerakan tegas seperti seorang guru menuntun muridnya yg canggung kearah Don.
“ Yuk Don’ ujar Adel singkat.
Don berdiri setengah ditarik Adel.
Jantungku berhenti sejenak.
Begitu keduanya berdiri aku berbicara spontan dengan nada halus “ well, have a good time’
Tenggorokanku kering ketika mereka berbalik meninggalkanku dan tangan kiri Don meraih pinggang Adel dan keduanya beranjak menuju lift.
Aku terpana dengan tatapanku kearah sepatu nine west warna krem dgn high heel stiletto yang dikenakan Adel mengetuk ngetuk lantai lobby hotel dengan pasti dan kian menjauh hingga menghilang dibalik kelokan menuju lift.
Aku duduk memandang lantai mendengar ketukan hak sepatu Adel kian menjauh, kian menjauh kemudian berhenti.
Aku tetap mendengar ketika bunyi bel lift terdengar lalu kembali ketukan hak sepatu itu terdengar dan akhirnya menghilang seiring bunyi bel pintu lift tertutup.

5 menit, 10 menit, 15 menit hingga 30 menit berlalu aku masih duduk termenung di lobby yg sepi itu.
Terbayang apa yang mereka lakukan diatas sana.
Pasti Don yang sedang hot2nya itu langsung menyergap tubuh Adel, menelanjanginya lalu menyetubuhinya, menikmati payudara kekasihku yang ukurannya tidak besar tapi ranum dan bentuknya indah, mengulum pentilnya, menjilati kawanitaan Adel yang bulu2nya tercukur rapih – brazillian wax’, kemudian menyusupkan penisnya kedalam kewanitaan Adel dan … tiba2 nada panggil standar NOKIA berbunyi dari balik kantong celanaku!

Segera kuangkat dan dari ujung sana terdengar suara Adel.
“ Sayang, kamu masih di lobby? “
“ eh eh iya say,emm kenapa?’
“ Hmm kamu jalan2 dulu kemana gitu, ngopi2 dulu gak usah nunggu sendirian dibawah, ntar aku call lagi deh kalo udah selesai”
suara Adel terdengar normal, tidak ada desah nafas atau bunyi – bunyian orang yang sedang dibakar gairah.
Perasaanku mendingan, aku segera menjawabnya
“ Oh hmm ok, eh mm iya deh aku nongkrong ke O La la depan Sarinah aja ya’
‘’ Ok dear’ ujar Adel
‘ Hmm ok deh hmm eh e nanti jam sete… ‘ belum habis kalimat itu selesai hp Adel ditutup.
DAMN! Adrenalinku naik dan perasaan campur aduk berkecamuk dalam dadaku.
Yah ini adalah konsekwensinya dan aku akhirnya pasrah.
Dengan gontai aku melangkah keluar lobby dan meninggalkan hotel.

22.00
Jam sepuluh malam, sudah sejam mereka aku tinggalkan disana.
Aku terhenyak karena dari tadi suntuk memandangi buih cream capucinno yang mendadak rasanya jadi tawar dan spontan aku menekan tombol fast dial.
Terdengar nada tunggu, nada tunggu dan nada tunggu …
Serasa berabad abad hingga aku mendengar suara Adel diseberang sana.
“ Yes dear’
Kini jantungku benar2 berhenti.
Aku terdiam kehilangan kata2.
Suara kekasihku kini terdengar lirih dan agak berat.
Ada helaan nafas yang lebih cepat terdengar disana.
Aku mengenal betul suara itu!
Adel sedang dalam keadaan amat terangsang dan sesuatu atau seseorang sedang memberikannya kenikmatan di seberang sana !
“ Eh oh sory sory .. gak apa2 koq, ehm just call me kalo dah selesai ya “ aku gugup menjawab.
“ he’eh’ Adel menjawab terburu buru dan sekenanya saja seolah sedang diburu atau mengejar sesuatu dan kemudian hpnya ditutup.
Seolah Adel sedang terfokus sesuatu hingga dia menjawabku sekedarnya.
DAMN! DAMN! DAMN!
Hatiku bergolak tapi aku merasakan birahiku pada kekasihku juga muncul di saat bersamaan.
Saat ini, detik ini, seseorang sedang memberikan kenikmatan pada kekasihku tercinta dan aku hanya bisa mendengar tanpa bisa berbuat apa apa.

22.50
Hampir 2 jam aku menanti ketika ponselku kembali berbunyi.
Kali ini kubiarkan dering ponselku berbunyi beberapa kali baru kuraih perlahan tanpa terburu – buru.
What else? Pikirku.
Apapun itu biarlah sudah terjadi.
“ Mas ini Don, emm kita sudah selesai, mbak Adel minta dijemput 10 menit lagi di lobby’
Suara Don membuatku terhenyak sesaat.
DAMN!! Kurang ajar bener nih, pikirku tidak rela Don menggunakan ponsel Adel.
“ Oh oke, aku on the way kesana deh’ aku berusaha menghilangkan emosi apapun dari suaraku.

10 menit kemudian…

Kujumpai Don di sofa lobby hotel duduk dengan wajah berseri sementara Adel mengurus check out.
Kuhampiri dia dengan langkah gontai sambil tersenyum kecut.
Don bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya hendak bersalaman tapi entah kenapa reaksi spontan aku menghindari tangannya dan malam menepuk pundaknya coba bersikap ramah.
“ So, is everything ok?’ ucapan bodoh basa basiku berusaha segera mengakhiri malam itu.
“ Mmm, ok mas, ok banget ‘ Don sepertinya tidak bisa menyembunyikan kepuasannya.
Tampak rambutnya masih basah dan bau cologne masih menyengat tanda habis mandi.
Don rupanya merasa tidak enak dengan ucapannya itu dan berusaha menyembunyikan senyum puasnya.
“ Mas beruntung punya pacar secantik mbak Adel ‘ ujarnya sopan.
Tanganku yang masih dipundaknya secara halus menariknya mengajaknya meninggalkan lobby.
Cukup sudah bagiku, aku tidak mau Don memperpanjang lagi basa basinya.
Don paham dan mengikutiku ke pintu lobby hotel seraya menoleh kearah Adel yang masih di front desk dan mengangguk pamit.
Kulihat Adel tersenyum dan melambaikan tangannya tanpa kata kata.
“ Kamu tahu kan rulesnya?’ ujarku dengan tatapan tajam kearah anak muda itu.
“ Ok mas, thanks juga ya “
Dan diapun segera bergegas ke parkiran.

10 menit kemudian..

Aku dan Adel dalam perjalanan pulang ke tempat kost Adel dan kami duduk membisu tanpa kata.
Adel terlihat letih namun sejak tadi tidak henti menatapku dengan ekspresi menyelidik ingin tahu reaksiku.
Dia diam saja menungguku memulai percakapan.
Bathinku bergolak dengan seribu satu perasaan tapi lama kelamaan ketika cemburuku sirna kurasakan sensasi erotis dan rasa ingin tahu yang tinggi.
“ Well, my dear ‘ kalimat pembukaanku diiringi senyum puas.
“ Akhirnya kita lakuin juga ya’ nada suaraku antusias.
Adel tersenyum nakal dan kembali mengikat rambutnya yang sejak tadi sudah terurai.
“ Hmm gimana dia tadi ?’ aku penasaran.
“ Nih liat aja sendiri “ Adel menyerahkan digital kameranya kepadaku.
“ Tapi jangan diliat sekarang ya ‘ ujarnya.
Ketika aku coba mengaktifkan rekaman kamera Adel merebut kamera itu dari tanganku.
“ Yeee jangan sekarang dong say, malu nih aku’ wajahnya memerah.
Ok aku paham perasaannya dan mengiyakan permintaannya.
“ Aku horny berat nih jadinya .. gimana dong’ ucapku menggoda sambil mulai mengelus pahanya.
“ Kamu nonton dulu aja dirumah, besok kita bahas bareng ok?’ suara Adel lirih.
Akhirnya aku pulang setelah mengantar pacarku ke kostnya.

Malam itu dirumah segera aku putar kembali rekaman tersebut dengan perasaan antusias.
Jantungku berdebar dan lututku lemas ketika memencet tombol play di kamera tersebut.
Perasaan yang sama pernah kurasakan semasa SMP dulu ketika pertama kali nonton blue film.
Adegan pertama yang muncul di layar adalah Adel sedang duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap sedang mengaktifkan notebooknya dan menerima telpon.
Rupanya di menit2 pertama pacarku masih mendapat telpon dari atasannya dan masih sempat mengirim email.
Don mengambil adegan tersebut dari jarak yang agak jauh.
Adel tampak sibuk sendiri dan tidak begitu memperhatikan dirinya sedang direkam.
Tampak adel bicara di telpon sambil menatap layar notebooknya.
Don berulangkali men-zoom kamera kearah bibir Adel yang sedang sibuk berbicara kemudian menurunkan focus kebawah menangkap gerakan tangan kiri Adel melepas sepatu hak tingginya hingga kakinya yang putih mulus terkspos memperlihatkan jari2 kakinya
yang lentik dengan kuku yang terawatt bersih.
Kemudian focus naik lagi kearah wajah Adel yang kini menatap kamera sambil tersenyum mengedipkan mata dengan nakal.
Sesaat kemudian tampak Adel melangkah mendekati kamera sambil menelpon.
Suaranya tertangkap kamera dan aku ingat bahwa itu adalah ketika pertama kali dia menelponku saat aku masih di lobby dan memintaku pergi ngopi dulu.
Aku menelpon sambil tangan satunya melepas rambutnya yang digelung ke atas hingga terurai.
Adel berdiri dekat kamera dan Don menurunkan fokus kamera kebagian dada Adel yang dibalut hem berwarna putih.
Mendadak darahku berdesir dan jantungku berpacu keras ketika tampak tangan seorang pria melepas kancing kemeja Adel satu persatu sementara Adel masih menelponku.
Terdengar suara Adel menelponku
“ Hmm kamu jalan2 dulu kemana gitu, ngopi2 dulu gak usah nunggu sendirian dibawah, ntar aku call lagi deh kalo udah
selesai”
Seluruh kancing kemejanya sudah terbuka.
“ Oke Dear’ suara Adel kembali terdengar.
Aku ingat itu ketika Adel menutup telpon sebelum aku selesai menjawabnya.
Terlihat tangan berbulu milik seorang pria menelusup ke balik kemeja Adel yang sudah terbuka kancingnya meremas payudara kekasihku. HIKZ

Fokus kamera diperjelas lagi ketika tangan milik Don menurunkan bra krem Adel hingga putting payudara kekasihku itu menyeruak keluar lalu kemudian tampak jemari Don menjepit dan mulai memainkannya.
Sesaat kemudian gambar kamera agak terganggu karena kamera rupanya pindah tangan ke Adel.
Kini wajah Don yang penuh birahi terlihat jelas ketika mulutnya menempel di payudara kekasihku.
Mulutnya rakus mengulum puting Adel hingga beberapa kali layar kamera terlihat bergoyang karena Adel sedikit menggelinjang kegelian. Ereksiku tak tertahankan menyaksikan itu.

Berikutnya layar kembali bergerak cepat dan rupanya Don menghempaskan tubuh Adel ke kursi.
Adel mengambil adegan ini memperlihatkan Don berdiri dihadapannya sambil membuka kemejanya.
Dadanya cukup atletis dan berbulu.
Terdengar suara Adel menggoda
‘Wow’
Adegan berikutnya tampak tangan kanan Adel menunjuk bagian celana Don sepertinya Adel memerintahkan Don menanggalkan celananya.
‘ Don bergegas hendak membuka celana Adel tapi tangan Adel menampik halus
‘ No no no, kamu dulu please ‘
Don kembali berdiri dan menurunkan celana panjangnya kemudian disusul celana dalamnya hingga tubuh anak muda itu berdiri didepan focus kamera kekasihku dengan penisnya mulai teracung dilanda ereksi.
Aku sedikit terkesiap melihat postur penis Don yang cukup ‘kekar’, kokoh berurat.
Ukurannya kurang lebih sama dengan punyaku tapi kelihatannya lebih ‘gempal’
Rasa ego seorang pria menguasaiku.
Don memainkan penisnya di hadapan Adel hingga akhirnya tampak tangan Adel meraih kejantanan Don dan mulai mempermainkannya.
Jemari lentik kekasihku mengelus penis dan kemudian bagian buah zakar Don.
Ereksiku makin mengeras.
Adel adalah wanita yang paham betul bagaimana merangsang lelaki lewat ‘belaian’ halus di sekujur penis.
Aku sejenak membayangkan itu penisku yang dipermainkan Adel.
Teringat jelas betapa mudahnya kekasihku itu membuatku ejakulasi hanya dengan belaian lembut yang intens seperti itu.
Kemudian menarik tangannya dan posisi kamera sedikit menengadah keatas.
Rupanya Adel merubah posisi dudukunya yg semula tegak menjadi bersandar hingga kini bisa terlihat juga bagian perut hingga pinggang kebawah Adel yang masih mengenakan celana panjang.
Tampak Don membungkuk, membuka kancing, retsleting dan kemudian menarik celana panjang Adel hingga kedua betis jenjangnya yang kuning langsat itu terpapar jelas.
Tampak tangan kiri Adel memegang bra dan diletakan di meja sebelah kursi.
Lalu Don kembali mengulum sepasang payudara milik kekasihku dengan rakusnya.
Tarikan nafas berat dan panjang milik Adel terekam jelas ketika tubuhnya berkali kali menggelinjang kegelian menahan nikmat.
Kemudian kamera berpindah tangan dan kini tampak Adel duduk terkulai di kursi hanya mengenakan g-string berwarna krem.
Wajahnya merona dan matanya terlihat memancarkan birahi yang tinggi.
Adel kemudian menurunkan g-stringnya di depan kamera dan kemudian tangan Don menarik g-string itu hingga lepas dari kaki Adel.
Kini pemandangan indah tampak di layar.
Kekasihku terekspos polos dengan kulit kuning langsatnya nan bening dan mulus terlihat kontras dengan warna hitam bulu kemaluannya yang tipis diatas vaginanya.
Wajah Adel terlihat nakal ketika tangannya mengelus bagian rahasianya itu didepan kamera.

‘Mbak pahanya buka dong biar jelas direkam’ terdengar suara Don setengah memohon diselingi nafas yang mulai berat.
Adel tersenyum nakal dan menjawab “ ini udah dibuka ‘
Rupanya Don masih penasaran dan terlihat tangannya mendorong paha Adel kanan dan kiri dan mengaturnya dalam posisi mengangkang.
Kedua paha Adel direntangkan dan diletakan di sandaran kursi hingga Adel mengangkan dalam posisi ‘M’
Jantungku berdegup kencang penuh sensasi erotis ketika Don merekam kekasihku polos telanjang mengangkang sempurna hingga bagian vaginanya terkspos jelas.
Warna kemerahan bibir bagian dalam kewanitaany Adel terlihat dan sengaja difokus oleh Don.
Jari telunjuk Don mulai memainkan klitoris Adel dan dalam waktu singkat kemaluan pacarku itu mulai terlihat basah oleh cairan kenikmatan.
‘Oh mbak Adel, ini pengalamanku yang paling indah’ suara Don terdengar menjengkelkan nyaris bikin aku kehilangan gairah.

Kamerapun kembali pindah tangan dan kali ini jelas terlihat wajah Don dibenamkan diantara kedua paha pacarku.
Sedemikian intensnya hingga seolah wajah Don lenyap diantara selangkangan Adel.
Adel memajukan fokusnya dan kini terlihat jelas lidah Don memainkan klitorisnya dengan jilatan yang sesekali diselingi kuluman – kuluman yang diserspons jeritan – jeritan singkat Adel.
Sekitar 5 menit terlihat Don menggerayangi kemaluan pacarku diselingi gigitan2 di bagian paha Adel.
Fokus kamera makin lama makin bergoncang hingga kulihat tangan kiri Adel menjambak rambut Don lalu kemudian focus kamera mendadak bergerak tidak beraturan kearah langit langit kamar diiringi rintihan rintihan Adel yang keras tapi singkat berulang ulang hingga akhirnya ditutup dengan sebuah rintihan menggigil yang panjang.
Kukenali suara itu tiap kali kekasihku mencapai orgasme!
Layar kamera menjadi gelap sesaat dan aku menekan tombol pause untuk memberikan waktu bagi jantungku beristirahat sejenak.
Lututku lemas dan perutku mual tapi ereksiku makin menjadi.
Sial kamu DON!!

Kukuatkan diriku lagi dan kembali meneruskan rekaman itu.
Sepertinya rekaman pertama berhenti setelah Adel orgasme karena di oral Don.
Kini tampak keduanya tanpa busana diatas tempat tidur.
Rupanya mereka meletakan kamera itu diatas meja dengan sudut yang cukup luas untuk merekam posisi mereka diatas ranjang.
Dan saat tak ada lagi keraguan dan kecanggungan di antara keduanya, dan saat perkembangan di lapangan demikian maju yang ditandai dengan bibir ketemu bibir antara Don dengan pacarku, aku langsung berdiri dengan limbung sambil tetap memegang erat kamera ditanganku.
Kusaksikan bibir pacarku Adel menjemput bibir lelaki lain yang baru ditemuinya malam itu. Bibir tipis Adel mengatup menggigit kecil bibir Don. Anak muda itu me-respon dengan penuh nafsu yang memang sejak jumpa pada awalnya tadi aku sudah perhatikan bahwa Don ini sangat terpesona akan sex appeal pacarku. Mereka semua akhirnya tanpa canggung melakukan itu di depan kamera.
Aku berusaha cari pegangan untuk meneguhkan hati. Bukankah itu game yang kita rencanakan sendiri, dan juga karena aku sudah setuju, mengatur dan membolehkannya.

Tak ada suara-suara kecuali pukulan jantung pada dadaku. Yang kemudian kudengar ialah bunyi halus gesekan lembut dari gerakan Don dan Adel. Tubuh keduanya bergulingan diatas kasur saling mencumbu, berciuman penuh nafsu dan lengan Adel terlihat melingkari tubuh Don erat.
Pacarku Adel nampak amat sensual. Aku merasa agak heran karena sudah biasa aku melihatnya telanjang dan sudah ribuan kali aku mencumbuinya tapi bersama lelaki lain dia terlihat jauh lebih sexy dan menggairahkan.
Well aku sadar dan menemukan esensi dari permainan ini yaitu rasa posesif dan ego sebagai kekasih bisa diproyeksikan dengan cara ini hingga berubah menjadi gairah dan erotisme yang amat unik dan sensasional.
Beberapa kali tampak mereka berdua menghentikan gerakannya, sejenak saling memandang. Dari raut wajahnya nampak sekali mereka saling mengagumi dan terpesona. Kemudian dengan senyuman-senyuman yang penuh syahwat mereka saling berangkulan.
Bermenit-menit mereka berpagut, saling memainkan bibir dan lidah dan sedot-menyedot sebelum akhirnya kembali berguling ke kasur.

Untuk ukuran usianya, Don tampak cukup prima dan berpengalaman dalam bermain birahi diatas ranjang.
Dia tidak terburu – buru dan pandai memainkan emosi serta birahi Adel.
Variasinya banyak, mulai dari memainkan puting payurdara Adel kemudian menjilati sekujur tubuhnya, mulai dari telinga, leher, perut, kemudian sengaja melewati bagian kemaluan, menjilati paha, betis hingga tumit dan bahkan menghisap jemari kaki pacarku yg indah dan lentik satu persatu sambil tangannya memainkan klitoris Adel hingga tubuh kekasihku beberapa kali terguncang
dilanda kenikmatan yang menggelitik dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Don membalikan tubuh Adel, membuatnya telungkup lalu menjilatinya dari bagian tumit kaki hingga ke bagian punggung dan leher.
Terlihat jelas ketika lidah Don menjilati bagian tengkuknya Adel meronta dan tangannya terkepal mengejang sementara Don terus memainkan tangannya di kemaluan Adel.
Sesaat kemudian tampak Adel sudah tidak tahan lagi dan ketika Don melepaskan pagutan bibirnya dari tengkuknya Adel menaikan posisi tubuhnya dalam posisi doggy style memohon Don segera memasuki tubuhnya.
Keringat dingin membasahi tubuhku karena aku paham betul Adel senantiasa ingin memulai intercourse dengan doggy style sebagai posisi pembuka.
“ Don, Don please masukin sekarang, masukin sekarang please’
Adel lirih memohon dengan penuh gairah.
Tapi Don pandai memainkan perannya.
Dia menunduk, menjilati pinggang pacarku, menggigit pantatnya dengan gigitan2 birahi lalu terlihat menjilati bagian anus Adel.
Adel menggelinjang penuh hawa nafsu “ ah! “ terdengar jerit khas Adel yang keras dan singkat tiap kali syaraf erotisnyadisentuh.

Don kemudian memutar tubuhnya rebah di kasur dan menyelipkan kepalanya diantara kedua paha Adel yang dalam posis doggy style hingga wajah Don face – to – face dengan vagina Adel.
Adel paham maksud Don dan langsung mengangkat tubuhnya yang tadinya nungging dalam posisi doggy berubah jadi posisi duduk berlutut diatas wajah Don.
Di layar kamera tampak beberapa kali tubuh langsing pacarku tersentak keras mengiringi jeritan khasnya ‘ah!’ ‘ah!’ ‘ah!’ seirama dengan jilatan Don di kemaluannya.
Sesaat kemudian Adel ganti posisi balik badan hingga dia bisa meneruskan gerakan semula sambil mengocok penis Don.
Tubuhku bergetar dan darah berdesir ketika Adel menurunkan pundaknya dan wajahnya mendekati penis Don.
Oh GOD! – dlm hatiku, kekasihku akan mengoral pria itu.
Dugaanku tepat dan Adel sempat menoleh kearah kamera dengan ekspresi lucu seolah aku hadir disitu dan dia seperti ingin meminta persetujuanku sebelum mengulum penis Don.
Sesaat dia menatap kamera dengan wajah nanar penuh birahi dan kemudian seolah merasa mendapat persetujuan, dia langsung mengulum penis Don yang kekar dan kokoh itu dengan rakusnya.
Tubuh Don terlihat menggelinjang ketika mulut Adel memompa kejantanannya hingga tampak kepala Adel turun naik ketika dia berusaha menelan batang kemaluan Don semaksimal mungkin.

Sesaat kemudian rupanya Don tidak tahan lagi dan sedikit berontak untuk melepaskan kepalanya dari jepitan selangkangan pacarku yang sedang hot melumat penisnya.
Rupanya Adel tidak sadar Don ingin menyudahi permainan 69 itu karena keasyikan menikmati batang kokoh milik pria yang baru dikenalnya itu.
Sedikit rikuh Adel mengangkat pantatnya dan memindahkan posisi pahanya membebaskan kepala Don dari jepitannya.
“ hah sory ‘ ujar Adel singkat disela deru nafas yang memburu namun Don tidak bersuara langsung merenggut tubuhnya dan ditelentangkan diatas ranjang siap untuk penetrasi.
Sesaat sebelum itu Adel tampak berbicara dan menunjuk kearah tas kantornya.

Don turun dari ranjang dan mengambil sesuatu dari tas kantor Adel.
Sebagaimana direncanakan sebelumnya, Adel membawa kondom untuk dipakai Don.
Safety first adalah rule number one permainan ini.
Don berdiri disamping ranjang memasang kondom sementara Adel tampak membetulkan posisinya,
Sebagaimana kebiasaannya, Adel membalikan tubuhnya dalam posisi doggy style, meraih bantal dan diletakan dibawah kepalanya sementara tangannya tetap dia mainkan di kemaluannya menjaga supaya bagian sensitifnya itu tetap basah untuk menerima penetrasi.
“Mbak bisa telentang aja gak?’ Don minta Adel dalam posisi missionary.
Tampak Adel menoleh ke belakang dan menggelengkan kepalanya “ no, gini aja dulu, cepetan sih’ suaranya tidak sabar.
Don kembali naik ranjang, mendekatkan posisinya pas dibelakang pantat Adel dan menggesekkan penisnya yang keras itu di vagina Adel.
Sesaat kemudian Don mendorong maju dan kekasihku tercinta membenamkan wajahnya di bantal hingga jeritan panjangnya sedikit teredam bantal.
‘uuuuuuuuh, uuuuuh’ Adel merintih menahan penetrasi Don yang lambat tapi pasti menelusup kedalam kemaluannya.
Adel membetulkan posisinya dengan merendahkan bagian atas tubuhnya hingga terlihat dia nungging dengan lekukan di bagian pinggang hingga pantatnya benar2 naik.
Sesaat kemudian kulihat ranjang bergoncang keras ketika Don mulai memompa tubuh pacarku dari belakang.
Tubuh Adel bergetar namun jeritannya diredam oleh bantal yang menutupi wajahnya sementara suara desahan berat Don mendominasi ruangan.
Makin cepat dan kian ganas hingga pantat Adel yang beradu dengan pinggang Don menimbulkan bunyi seperti tamparan.
‘’plak plak plak’ !!
‘Oh yesssssss fu*k me!’ jerit Adel ketika akhirnya dia mengangkat wajahnya melepas semua gairah.
Don menjambak rambut Adel hingga wajah manis kekasihku terlihat jelas merah merona bersimbah peluh.
Pipinya memerah dan matanya terpejam rapat sementara mulutnya menganga mengeluarkan jeritan2 khasnya ‘ah! Ah! Ah! Ah! Ah!’
menjawab tiap dorongan penis Don menerobos kemaluannya.

Beberapa menit kemudian permainan makin ganas, ranjang berderak kasar dan Adel tampaknya mendekati klimaks.
Kedua kakinya dia kaitkan ke paha Don seolah turut mendorong Don melesakkan penisnya yang kokoh dan kekar itu kian dalam ke kemaluannya dan jeritannya makin intens diimbangi desahan erotis Don yang berpacu cepat.
Akhirnya ‘penderitaanku’ berhenti dengan rintihan Adel yang seperti menggigil sambil menutup wajahnya dengan bantal ketika Don juga mencapai ejakulasi.
Sesaat tubuh keduanya mengejang hingga akhirnya Don lunglai di punggung pacarku.

1 menit berlalu hingga Adel bangkit dan berjalan limbung kearah kamera.
Tubuh kuning langsatnya dipenuhi peluh dan bulu2 kemaluannya tampak basah kuyup akibat cairan kenikmatannya sendiri.
Tangan Adel terulur kearah kamera dan wajah cantiknya tampak pucat dan matanya sayu penuh kenikmatan sebelum layar kamera kembali gelap.

Kembali kutekan tombol pause dan aku mengambil tissue untuk membersihkan sperma yang berceceran akibat aku tanpa sadar masturbasi melihat permainan sex kekasihku dengan pria yang baru dikenalnya itu.
Kunyalakan rokok dan meneguk segelas air dingin menyiapkan diri untuk menyaksikan kelanjutan rekaman kamera yang menunjukan masih ada sisa rekaman lagi.

2 batang rokok kemudian aku kembali meraih kamera itu dan menekan tombol ‘play’
Rupanya pacarku dan Don sempat beristirahat dan di layar tampak Adel telungkup diatas ranjang didepan notebooknya sambil mengenakan kacamatanya.
Well, kekasihku adalah tipe workaholic bahkan disela sela permainan ini masih sempat dia mengecek email.
Biasanya Adel mengenakan contact lens tapi tentunya sudah dia lepas sebelum bercumbu hingga dia mengenakan kacamata bacanya.
Wajahnya yang tadi penuh gairah dan kenikmatan berubah menjadi serius hingga makin tampak cantik dan anggun sekalipun agak kontras melihat tubuh telanjang tanpa busananya diatas ranjang.
Don rupanya mengambil gambar sambil ngobrol.
“ Mbak masih aja kerja sih, udah jam berapa nih?’
“ Ya gitu deh, aku harus update ke kantor pusat di oz karena ada email dari lapangan yang musti aku forward kesana biar besok gak bikin repot’ ujar Adel sambil tetap serius memperhatikan layar LCD dihadapanya.
Tampangnya bila sedang bekerja tampak acuh dengan sekeliling.
“ Don ambilin rokok gw dong’ pintanya dingin.
Terlihat tangan Don menyerahkan sebungkus sampoerna menthol kemudian menyodorkan lighter yang disambut Adel menyulut rokok.
Kepulan asap tampak di layar kamera “ eh say, itunya di lap dulu sih’ ucap Adel enteng sambil menyodorkan tissue kearah kamera. Terdengar tawa lirih Don dan tangannya mengambil tissue dari Adel
“ Matiin dulu sih, ngapain rekam sekarang’ ujar Adel cuek sambil tatapannya tetap serius kearah layar LCD didepannya.

Adegan pun berganti cepat dan kini terpampang di layar Adel sedang berdiri di samping ranjang sambil mereguk segelas air putih dari botol aqua compliment hotel.
Tangannya masih memegang rokok dan kacamata bacanya masih dia kenakan.
Don rupanya mengambil adegan itu dalam posisi duduk di kursi yang tadinya diduduki Adel di adegan awal.Tubuh langsing kuning langsat dengan sepasang kaki jenjang milik Adel tampak polos tanpa busana mondar mandir sambil menghisap rokok menthonya seperti tidak sabar.
‘Gimana? Udah bisa lagi?’ ucapnya sambil menghembuskan asap rokok.
‘Hmm bentar mbak, belum ada 10 menit nih, bentar lagi bisa lagi koq’ ucap Don
Rupanya Don sedang berusaha membangunkan lagi penisnya yang baru bekerja keras.
Tampak di layar tangan kiri Don mengocok penisnya yang sudah mulai berdiri sementara di latar belakang Adel berjalan mondar mandir seperti gelisah.
‘Hurry up say, cowok aku parno nih kalo kelamaan’ ucap Adel cuek.
‘ wait a second mbak’ Don mempercepat kocokan penisnya.
‘ lambret nih’ ujar Adel sambil tersenyum nakal.
Adel berjalan menghampiri kamera hingga di layar hanya tampak bagian pusar hingga pahanya.
‘ U need help dear?’
Adel memainkan jarinya diatas klitorisnya yang tampak mulai basah lagi.
‘Ah that’s good’ Don antusias.

Sesaat kemudian focus dimundurkan dan Adel terlihat mengangkat kakinya dan meletakan telapak kaki kanannya diatas pangkuan paha kiri Don hingga kewanitaannya makin terekspos kemerahan dan tapak licin basah.
Terdengar nafas Don makin berpacu dan akhirnya Adel duduk bersimpuh didepan Don, wajahnya tepat didepan penis Don yang mulai mengeras.
Serta merta Adel meraih penis Don dan mulai menjilatinya.
Bibir tipis kekasihku kemudian mendarat menciumi batang kemaluan Don yang mulai mengeluarkan urat2 kokohnya.
Adel menjilati kearah pangkal kemaluan hingga lidahnya mencapai buah zakar Don.
Rupanya Adel lupa melepas kacamata bacanya hingga tersangkut di penis Don
‘’Ups sory, lupa aku’ ujarnya nakal sambil melepas kacamata bacanya.
Tanpa kacamata wajah pacarku kembali memperlihatkan erotisme dan segera Adel mengulum penis Don.
Adel mengulumnya dalam2 hingga hamper tersedak karena mencoba teknik ‘Deep Throat’
Don mendesah lirih menikmati service nikmat kekasihku tercinta.
Tepat bersamaan ereksiku kembali bagkit.

Adegan berpindah kali ini kamera tetap di tangan Don dan di layar tampak Adel terlentang diatas ranjang, pahanya membuka dan ujung kemaluan Don tertangkap layar bergerak mendekati vagina kekasihku.
‘Pelan – pelan ya say’ ucap Adel sambil berusaha menaikan posisi badannya.
Adel yang tubuhnya terlentang menggunakan dua siku tangannya menopang supaya badannya bisa sedikit tegak untuk melihat penis Don melakukan penetrasi kedua.
Somehow karena posisi itu Don agak susah memasukan penisnya hingga Adel membantunya dgn menuntun batang kemaluan Don menemukan liang kewanitaannya.
Tampak Adel berusaha menempatkan posisi kepala menunduk utk bisa melihat proses penetrasi tersebut.
Don tampak penasaran dan coba mengalihkan ujung penisnya kearah anus Adel namun Adel sigap meraih penis Don dan diarahkan ke vaginanya.
‘No no, yang itu Cuma buat cowok aku aja’ ujar Adel memperingatkan Don dengan tatapan tajam.
Well aku menyaksikannya agak terharu at least pacarku masih menyisakan tempat special itu khusus untuk aku.

Sesaat kemudian kepala penis Don sudah setengah terbenam dibalik bibir dalam kemaluan Adel yang merah dan licin.
‘Ok say, nice and slow’ ujar Adel memerintah.
Penis Don meluncur perlahan.
‘ Fokusin please’ suara Adel lirih memohon.
Fokus kamera di perjelas dan tampak kemaluan Don perlahan membelesak kedalam lipatan bibir dalam vagina kekasihku yang merah basah.
‘Perfect’ ujar Adel singkat dan kemudian focus kembali menjauh dan tampak Adel sudah rebah dengan kedua tungkai kakinya terlipat membentuk huruf ‘M’ dan kedua telapak kakinya menempel di pinggang Don.
Sesaat kemudian Don mulai memompa keluar masuk dengan irama yang pelan.
Adel merespon dengan memainkan klitorisnya dengan ujung jemarinya yang lentik.
Wajah kekasihku tampak berkonsentrasi dan tatapannya kosong kearah langit langit kamar.
Sesaat kemudian Don mulai masuk ‘gigi 2’ dengan kecepatan dipercepat tapi tusukannya dia batasi hanya setengah ukuran batangnya.
Tiap gerakan mundur, Don mengaturnya sedemikian rupa hingga kepala penisnya nyaris mencelat keluar vagina Adel.
Dengan begini jelas terlihat bibir dalam vagina Adel seperti ‘monyong’ tertarik keluar mengikuti gerak mundur penis Don.
‘Cream’ kental berwarna putih mulai terlihat menempel di batang penis Don tiap kali ditarik mundur pertanda kekasihku mulai terangsang seiring suara nafas Adel makin nyaring.

Sesaat kemudian Adel sudah benar2 basah dan kecipak cairan vaginanya terdengar berirama seiring tusukuan2 Don.
Don memegang kamera dan mengaturnya hingga seluruh tubuh Adel hingga bagian pinggang Don tertangkap layar kamera.
Darahku berdesir melihat kekasihku kian lama kian dikuasai gairah syahwat.
Awalnya hanya bunyi nafas saja tapi lama2 rintihan2 kecil Adel mulai terdengar.
‘uh uh uh’ wajah pacarku amat erotis dan seolah memohon Don memberikan kenikmatan yang lebih dan lebih lagi.
Pipinya merona dan matanya kian sayu seiring peluh membasahi tubuhnya.
2 menit berlalu dan Don akhirnya melakukan tekanan dengan lebih cepat lagi.
Kini dia membenamkan penisnya sedalam mungkin kedalam vagina Adel hingga tiap kali mendorong, bulu kemaluan keduanya seolah menyatu sebelum kembali terpisah seiring gerakan mundur penis Don.
Adel pun merentangkan kedua pahanya lebar – lebar ibarat burung merpati mengepakan sayapnya.
Pemandangan indah sekaligus membakar ego dan birahiku melihat kekasihku tercinta membuka pahanya lebar2 dengan bantuan kedua tangannya hingga penis Don bebas keluar masuk maju mundur.
Suara kecipak cairan vagina tidak lagi terdengar karena Don melakukan full penetrasi hingga tidak ada lagi ruang udara digantikan suara desah nafas Don dan rintihan2 kenikmatan Adel.
Uh uh uh uh wajah Adel sudah berubah dari wajah wanita professional yg tadinya serius didepan notebook menjadi wajah wanita yang dilanda birahi dahsyat.
Terlihat Adel juga berusaha mengatur stamina dan menahan orgasmenya selama mungkin hingga dia menahan diri tidak menjerit keras. Adel mengatur nafasnya dengan mengeluarkan suara rintihan pelan Uh uh uh uh! Bibirnya yg tipis dan indah itu terlihat agak monyong mengeluarkan suara tersebut.
Pemandangan indah dan erotis itu membuatku kembali menggenggam penisku yg sejak tadi sudah keras ereksi.

5 menit kemudian Adel menyerah, Don memang lambat berdiri tapi sekali berdiri staminanya amat mengagumkan.
Adel kembali mengeluarkan jeritan khasnya ‘ah!’ ‘ah!’ ‘ah!’
Jeritan keras dan singkat mengikuti tiap tusukan penis Don hingga akhirnya tampak Don agak membungkuk dan tangan kirinya dia gunakan menopang ke ranjang hinga tubuhnya yg tadi dlm posisi duduk tegak jadi membungkuk hingga tusukan penisnya dia lakukan
dengan bantuan bobot tubuhnya.
Kesadaran Adel mulai hilang dan dan kepalanya menggeleng ke kanan dan kekiri seiring alisnya tampak menyatu di dahinya karena matanya dipejamkan menahan nikmat.
Kedua tangan Adel memegang dan membuka pahanya selebar mungkin nyaris dalam posisi ‘Split’ sempurna dan deru nafas Don makin berat dan ranjang makin bergoncang merespons tiap tekanan tubuh Don menghujamkan penisnya ke kemaluan pacarku.
Akhirnya Adel tidak tahan dan dia mencapai puncak.
Wajahnya merah padam sambil menggigit bibirnya menggigil sementara kakinya yg sebelumnya dia rentangkan mengangkang lebar dilipat diatas perutnya.
Terlihat Don melakukan penetrasi maksimal hingga ranjang bergetar hebat dan tubuh kekasihku terguncang naik turun.
Adel tidak kuasa menahan kenikmatan ribuan volt itu akhirnya gigitan bibirnya terlepas dan dari mulutnya terdengar jerit menggigil khas tiap kali dia orgasme.
Don mengendorkan tusukannya saat Adel orgasme dan tubuh kekasihku sejenak terdiam kemudian bergetar seperti menggigil beberapa kali sebelum akhirnya matanya menjadi sayu dan wajahnya menjadi pucat.
Kedua tungkai kakinya yg tadinya melipat kini tergeletak lunglai disamping pinggang Don.
‘ Oh shit, enak bangeeeet, damn good !!’ ujar Adel sambil tetap memejamkan mata lemas.
Nafas kekasihku masih memburu dan dia berusaha menormalkan kembali.
Tampak berapa kali Adel menelan ludah karena tenggorokannya kering habis dipacu kenikmatan.
Sementara Don dengan amat mengagumkan ternyata belum mencapai ejakulasi tapi dia menurunkan temponya jadi lambat.
Penisnya tetap keluar masuk vagina Adel sementara tangan kirinya membelai payudara kekasihku dengan lembut dan mesra lalu merapikan rambut Adel yang kusut. Adel tampak menatap sayu tanpa ekspresi sambil menormalkan deru nafasnya.

Mendadak bunyi ponsel terekam kamera dan Adel yg masih lemas tampak meraih ponselnya dan kemudian di layar tampak Adel meletakan kamera di telinganya dalam posisi masih menerima penetrasi pelan dari Don.
Jantungku mau copot menyadari bahwa itu adalah saat ketika aku menelpon Adel.
Rupanya kekasihku baru saja menerima kenikmatan dari anak muda itu.

“ Yes dear’ tampak Adel menjawab dengan tatapan sayu.
Adel memberikan kode dengan mulutnya kepada Don yg masih memompa vaginanya
‘COWOK GUA NIH’ terbaca jelas dari gerak mulut Adel yg memberitahu Don tanpa bersuara.
‘He’eh’ ujar Adel menjawab singkat lalu menutup ponselnya.
DAMN! Aku ingat saat itu tadi.

Setelah menerima telpon, Adel yg masih dalam ekspresi penuh kenikmatan menatap kearah kamera dan berkata.
“ Ayo say, buruan sih, kasihan cowok aku nunggu’
Kekasihku rupanya mengkhawatirkan aku yg menunggu tapi sepertinya Adel mengerti bahwa Don belum menjapai ejakulasi dan membiarkan Don menyelesaikan.
Kamerapun pandah tangan dan kini Adel memegang kamera dan Don tampak di layar mulai memacu untuk mendapatkan jatah kenikmatannya.
Don memompa sebisa mungkin dengan desahan yang kian berat sementara Adel yg sudah mendapatkan kenikmatannya serius merekam dan membiarkan tubuhnya di bolak balik berbagai posisi oleh Don.
Setelah posisi missionary Don mencoba posisi menyamping menusuk dari samping hingga posisi Adel miring dengan kaki diangkat.
Terbayang olehku Adel pasti sulit mengambil angle itu tapi dia bisa tetap focus mengambil gambar tersebut.
1 menit, 2 menit, 3 menit berlalu Don tidak kunjung ejakulasi dan aku mulai mendengar rintihan2 lirih kekasihku lagi.
DAMN! Adel kembali mendaki kenikmatan!
Posisi berganti, kini Adel tetap memegang kamera mengambil posisi ‘woman on top’ duduk diatas penis Don sementara Don terlentang. Untuk menjaga supaya kamera tidak bergoncang, Adel tidak melakukn gerakan naik turun tapi memainkan pinggulnya maju mundur dan juga melakukn gerakan ‘mengulek’ alias memutar pinggangnya bak penari hula hula.
Lututku lemas menyaksikan kekasihku melakukan gerakan erotis dimana penis Don secara penuh ‘ditelan’ vaginanya kemudian diputer dengan gerakanmengulek.
Glek! Aku masturbasi makin cepat.
Don tidak lagi mendesah tapi mulai bersuara keras “ Oh oh, yes baby!! Faster!!’
‘hmmmm hmmmm uuuuh’ rintihan erotis Adel seiring gerakan goyang pinggulnya melumat penis Don amat dalam menembus liang kenikmatannya.

Akhirnya Adel tidak tahan dan menyerahkan kamera ke tangan Don hingga terpampang kembali di layar tubuh kekasihku menggeliat bak penari hula hula memainkan penis Don dalam kemaluannya.
Sesaat kemudian keduanya sudah diambang puncak kenikmatan dan Adel mulai melakukan gerakan memompa naik turun dengan keras dan makin ganas.
Kamera agak terguncang karena gerakan Adel membuat pegas ranjang bergerak naik turun dengan cepat.
“ Oh yeas fu*k me fu*k meeee!’ jerit Adel
‘ Ah my dear … aku dah mau keluar nih’ suara Don tenggelam dibalik deru nafasnya sendiri.
‘ Uuuuuh yes .. me too Me too !!! Adel menjerit, peluhnya seperti jagung menetes dari pipinya ke payudaranya yang seperti terlempar naik turun karena guncangan.
Sesaat kemudian jemari Adel tampak mencakar dada Don ketika tubuhnya mengejang melengkung kebelakang sementara Don mendesah panjang.
Keduanya menjemput kenikmatan bersama setelah permainan panjang yang liar.

Spermaku muncrat membasahi celana dalamku.
Belum pernah kurasakan sensasi kenikmatan menyaksikan kekasihku menikmati birahi dengan orang yang baru kita kenal.
YESSS GOD DAMN YESSS!!!!

Tampilan layar kemudian berganti dan kini tampak di kamar mandi Adel sedang duduk di closet mengarahkan jet washer kearah selangkangannya membersihkan dari sisa2 cairan kewanitaannya yg bercampur cairan spermicide dari kondom yg dikenakan Don.
Wajah Adel tampak berseri sekalipun matanya masih sayu dan pipinya pucat.
“ Ngapain kamu rekam sih adegan gak penting ini’ suara Adel sewot.
‘Eh Don tolong ambilin hp-ku dan teken tombol no 2, itu speed dial ke pacarku’
Tangan Don tampak menggenggam ponsel Adel dan menelponku.
DAMN!!
‘Sini aku bersihin punya kamu’ ujar Adel seraya menjentikan jari telunjuknya memanggil Don mendekat.
Don mendekat sambil tetap merekam.
Terlihat penisnya masih belepotan sperma kemudian digenggam Adel yg masih duduk di closet.
‘Aku bersihin ya’ Adel tampak tersenyum nakal.
Adegan berikutnya cukup membuatku terkejut.
Kekasihku mengulum penis Don yg sudah lunglai bersimbah sperma itu, kemudian menjilati sisa2 sperma yang masih tercecer sebelum menyemprotnya dgn air.
Bersamaan dengan itu terdengar suara Don bicara di ponsel
“ Mas ini Don, emm kita sudah selesai, mbak Adel minta dijemput 10 menit lagi di lobby’
GOD DAMN! Rupanya waktu Don menelpon minta jemput itu dia sedang dioral kekasihku!!
DAMN DAMN DAMN!
Terdengar lagi suara Don dari balik kamera “ Udah mbak, katanya lagi mau on the way kemari’
Tampak ponsel Adel diletakkan di samping meja rias lalu kamera diletakan Don diatas meja yg sama.

Di layar kemudian tampak Adel bangkit dari closet menuju shower, menyalakannya dan mengerling ke arah Don dan berkata “ Yuk bareng aja Don’
Dan di layar kamera tampak sosok pria bugil menghampiri kekasihku dibawah siraman shower dan mereka mandi bersama.
Mereka saling bergantian menyabuni dan membersihkan badan satu sama lain, kemudian kulihat Don mendekap tubuh Adel dari belakang dan keduanya menikmati siraman air panas di shower itu.
Tepat ketika kupikir permainannya berakhir, mendadak Adel menolek ke belakang kearah Don, membisikan sesuatu yg tidak bisa ditangkap kamera karena tersama bunyi air, lalu Adel terlihat memberikan kode menunjuk ke bagian bawah lalu Don kemudian duduk bersimpuh dan Adel mengangkat kaki kirinya tinggi hingga telapak kakinya dilatakan di keran air lalu Don kembali
mendaratkan pagutan bibirnya ka arah vagina kekasihku dan kembali mengoralnya.
Adel tampak tersenyum penuh gairah dan Don terlihat amat bersemangat menjilati kemaluan kekasihku.

Darahku kembali berdesir panas dan gairahku kembali aktif namun permainan terakhir mereka di bawah shower tidak bisa
kusaksikan sepenuhnya karena durasi recording kamera sudah keburu berakhir dan layar mendadak jadi gelap.
Ternyata mereka masih sempat 1 ronde lagi disaat aku sedang bergegas menjemput kekasihku.

GOD DAMN!!!!!!!

Gairahku membara dan kutemukan kenikmatan unik dalam permainan itu.
Malam itu juga kutelpon Adel dan mengutarakan semua perasaan dan komentarku mengenai rekaman tersebut.
Adel memastikan bahwa itu hanya One night stand dan dia tidak sabar untuk melakukan permainan berikutnya kali ini dia yg kebagian menyaksikan aku dengan perempuan lain.

‘that was a great experience my dear’ ucapnya lirih di telpon
‘ Don lumayan juga tuh’ ucapnya menggoda
‘Lumayan?’ kataku sinis
‘’Eh nggak deh, gak lumayan tapi luar biasa sih, 5 orgasm dalam 2 jam tentu luar biasa dong say, at least aku musti kasih
kredit atas servicenya dong’ ujarnya nakal.
‘ U know I can givu more than him my dear’ jawabku tidak mau kalah.
‘Yes you are darling’ ucapnya lirih ( tentu saja – aku pernah bikin dia orgasme lebih dari itu koq )
‘’So?’ jawabku lagi.
‘ So, aku udah nggak sabar liat kamu sama perempuan lain, tantangan lho, bisa gak kamu bikin rekaman sehebat yang aku bikin
sama si Don’ ucapnya.
‘ Pasti !!! ‘ jawabku tidak mau kalah.
‘ Ok deh gak sabar nunggu nih, btw my dear, kamu tetap satu2nya yang ada di hati aku, malah aku tambah sayang sama kamu’
suaranya berubah serius dan penuh perasaan.
‘Me too darling, I love you more’ Hatiku dipenuhi kehangatan.

Sejak saat itu hubungan sex kami tidak pernah standar lagi tapi malah makin hot dan menggairahkan.
Hubungan cinta makin lekat dan dekat karena kami berdua sudah saling share intimate fantasy yang paling dahsyat.
Setelah pengalaman itu tentu saja giliran aku yg melakukan permainan tsb dan kami juga melakukan hal itu beberapa kali hingga
kini.

Me & Adel : Our Private Game

Posted in Uncategorized on August 21, 2009 by ceritaindo

Aku sudah berpacaran dengan Adel selama lebih dari 2 tahun ( Februari ini menginjak 2 tahun 3 bulan ) dan selama itu hubungan kami fine – fine aja.
Terlebih soal hubungan sex, aku cukup beruntung punya pacar yang tergolong cukup aktif dan terbuka membicarakan ( dan tentu saja melakukan ) sex.
Adel adalah tipe cewek yang punya inisiatif dalam hal hubungan sex.
Sejak awal hubungan kita, soal sex adalah hal yang lumrah dibicarakan hingga akhirnya kita melakukannya saat baru berpacaran sekitar 2 bulan.
Aku adalah orang ke 3 yang pernah berhubungan sex dengannya – begitu menurut pengakuannya.
Adel sudah aktif berhubungan sex dengan pacarnya semasa kuliah dan so far saya melihat dia amat matang dan cukup dewasa dalam berhubungan sex.

Sejak awal berhubungan, saya sadar Adel sudah tidak virgin lagi but that’s ok mengingat saya pribadi tidak melihat virginity sebagai sebuah hal yang sakral atau mejadi patokan kualitas kepribadian seseorang.
Tapi saya memang tidak ingin menanyakan atau membicarakan hubungan sex Adel dgn pacarnya dulu sampai akhirnya dia menceritakannya sedikit karena tidak sengaja.
Hal itu terjadi gara – gara pembicaraan kita mengenai penisku yang agak bengkok ke kiri – sedikit sih Cuma kelihatan agak melengkung kalau sedang ereksi.
Saya menanyakan apakah hal itu mengganggu dia dalam berhubungan dan Adel menjawab bahwa hal itu normal.
Well, saya pun paham bahwa hal itu normal hanya agak sedikit ‘kaget’ karena akhirnya Adel menceritakan pengalamannya bahwa di masa kuliah, pacanya yang pertama kali mengambil keperawanannya malah lebih ‘bengkok’ dari punyaku.
Karena penasaran dan kepalang tanggung saya menanyakan sekalian sudah berapa pria yang pernah berhubungan dengan dia dan Adel menjawab bahwa sebelum saya sudah ada 2 pria yang pernah berhubungan sex dengannya.
Tambah penasaran dan kepalang tanggung saya bertanya pertanyaan yg tentunya agak ‘sensitif’ tapi saya yakin ada di benak rekan2 Bluefame sekalian “ Diantara kita bertiga, yang mana yang paling panjang? “
Cukup lama Adel berpikir untuk menjawab dan terus terang itu membuatku mendadak merasa ‘sensi’ dan pikiran buruk muncul “ jangan2 punya gua yang paling kecil nih’ – gawat!
Tapi Adel kemudian menjawab “hmm jangan tersinggung ya say, yang paling panjang itu yang pertama tapi beda dikit koq sama punya kamu ”
“Well, sedikit lega rasanya karena ternyata saya masih no.2 dan bukan yang paling pendek – tapi tetap saja ‘HIKS’ ( ternyata masih ada yg lebih panjang dari punyaku yang 15,5 cm ini )

Balik ke cerita saya lagi, setelah dua tahun lebih berpacaran, saya merasa hubungan sex menjadi standart alias hanya itu itu saja tanpa variasi.
Kami berdua punya fantasi sex yang cukup tinggi dan so far seringkali share satu dengan yang lain.
Akhirnya kita punya cara membuat hubungan ranjang kita lebih ‘hot’ dan ‘challenging’.

Adel adalah tipikal modern worker yang punya sex appeal tinggi dan bekerja sebagai purchasing manager di sebuah perusahaan pertambangan asing yang berkantor di daerah SCBD.
Pekerjaannya menuntut dia sering bertemu klien yang mayoritas pria dan dari situ tentu saja banyak yang menggoda atau sekedar mencoba flirting dengannya mengingat statusnya masih single
( well, status pacaran tidak dianggap – hikz lagi ).

Kami juga tidak pernah mengekang pergaulan satu dengan yang lain karena sama2 sibuk dan Adel masih aku berikan kebebasan untuk hangout dengan teman2nya di pub atau diskotik.
Tentu saja tawaran kencan atau sekedar ‘ngupi2’ sering dia terima baik dari kenalan2nya maupun dari klien2nya diluar jam kantor.

Solusi atas hubungan sex yang standar akhirnya kami temukan yaitu kita saling flirting dengan orang lain / stranger di hadapan pasangan kita.
Syaratnya adalah si teman kencan itu haruslah orang diluar lingkup pergaulan kita jadi bila Adel berkencan haruslah dgn pria yg tidak kenal dgn aku dan demikian sebaliknya.
Jadilah strategi itu kita jalankan gentian, bila aku ngedate dengan pasanganku maka kita janjian di satu tempat sementara Adel menyaksikan dari dekat tapi tetap berlagak tidak saling mengenal.
Demikian sebaliknya ketika Adel menerima tawaran ‘ngupi’ dari kliennya diluar jam kantor maka aku akan duduk tepat dimeja sebelah mereka berlagak tidak kenal sambil menyaksikan mereka saling flirting satu sama lain.
Ternyata hal itu amat membakar birahi dan menaikan hormone adrenalin.Melihat pria asing menggoda pacarku yang cantik, berusaha mengajaknya ‘check in’, menyentuh tangan pacarku diatas meja atau meletakkan tangan di pinggang Adel ketika meninggalkan ruangan membuat ereksiku tidak tertahan.
Hal itu biasanya dicurahkan setelah itu dengan hubungan sex yang hot dan panas karena terpicu oleh rasa cemburu dan sensasi erotis yang tinggi.
Namun hanya sebatas itu karena kami tetap berkomitmen bahwa hal itu Cuma ‘game’ yang dimainkan saat itu saja dengan batasan yang jelas dimana aku maupun dia tidak akan meneruskan dengan teman kencan masing2.
Setelah kencan kita masing2 harus berpisah dengan teman kencan kita dan membiarkan mereka penasaran.
Bila Adel yg kencan, setelah itu dia akan menolak bila diantar pulang atau diajak ‘lanjut’ karena aku siap menjemput dia dan demikian sebaliknya.

Hampir 3 bulan kita melakukan taktik ‘pemanasan’ seperti itu sebelum kita berhubungan sex sampai akhirnya kita berdua tidak bisa menahan godaan untuk melakukan yang lebih dari itu.
‘Bagaimana bila kita menyaksikan pasangan kita melakukan lebih dari itu?’
‘Tidakkah itu akan lebih hot dan erotis lagi?’

Tapi sebuah dilemma timbul karena bila kita sampai melakukan dengan teman kencan kita maka hal itu dikuatirkan akan berkepanjangan dan berlanjut hingga melibatkan emosi.
Aku dan Adel sama2 sepakat bukan itu yang kita butuhkan.
Kita tidak butuh perselingkuhan tapi hanya butuh rekreasi sex dengan pasangan yang tanpa resiko.
Pasangan yang bisa kita kendalikan dan bukan nantinya akan mengendalikan kita.
Dengan kata lain bila aku atau Adel yang melakukannya, kita akan melakukan dengan orang yang tidak memiliki akses untuk nantinya mengganggu dan merongrong hubungan kita.
Gigolo atau Call Girl bayaran?
No Way! Kilah Adel.
Akupun setuju karena kita butuh ‘orang ketiga’ yang intelek dan melakukan sex bukan karena dibayar
Akhirnya hal itu tetap menjadi angan – angan semata sampai suatu ketika aku sedang browsing di rumah dan menemukan sebuah milist khusus para swinger.
Setidaknya ada 3 milist serupa yang saya temukan dan akhirnya saya menunjukan ke Adel.

Kita kemudian sepakat memasang iklan di milist tersebut guna mencari ‘orang ketiga’ tersebut dengan cara yang lebih ‘safe’
Awalnya sempat terjadi perdebatan siapa yang akan lebih dulu mempraktekan hal itu, apakah kita akan mencari pasangan buatku atau pasangan buat Adel.
Akhirnya aku menyadari bahwa Adel lebih posesif kepadaku daripada sebaliknya.
So akhirnya aku mengalah dan setuju kita mulai dengan mencari pasangan untuk Adel baru kemudian bila sukses kita lakukan sebaliknya.
( Sejujurnya sih proposal awal yg aku ajukan adalah threesome 2 cewek, 1 cowok tapi ditentang habis oleh pacarku yang katanya tidak rela berbagi seranjang dgn wanita lain sementara bila sebaliknya, 2 cowok + 1 cewek, aku yang protes karena sama sekali
tidak terbayangkan olehku seranjang dengan pria lain dalam keadaan telanjang – bisa off nih rudal – heheh )
Akhirnya kita pasang iklan sebagai berikut :

pajamatimelovers@y…> wrote:
> Hi all,
>
> Kami berdua pacaran selama 2 tahun.
>
> Saya pria berusia 28 thn dan pacar saya 27 tahun.
> pacar kami mencari partner untuk one-on-one sex ( M-F )
> Kami memiliki fantasi ini sejak lama dan kali ini mencoba
> merealisasikannya.
>
> Kalau anda pria berusia antara 23 – 27 tahun silahkan kirim ke email
> kami ini : pajamatimelovers@y…
>
> Ceritakan ciri2 fisik, kemudian tulis apa yg akan kamu lakukan kalau kamu terpilih.
>
> Bila saya dan pacar saya setuju, nanti akan di beritahu via email utk
> membuat perjanjian utk interview berikutnya.
>
> Kami membutuhkan orang yang bisa dipercaya,
> memiliki kedewasaan dalam berhubungan sex serta punya fantasy sex yang unik.
> Tidak harus ganteng, yang penting sehat dan menarik.
> Harap diingat, ini hanya akan menjadi ONS ( One Night Stand ) tanpa kelanjutan.
> Bila berminat kirimkan juga foto diri anda terkini.

Terus terang kami tidak pernah melakukan hal itu jadi kami mencoba menulis ‘lowongan’ itu dengan bahasa sebisanya saja.

Seperti yang diduga jawaban dating lewat email amat banyak dan dalam waktu 2 hari saja sudah puluhan yang kita terima.
Tentu saja mayoritasnya adalah sampah karena isinya malah banyak yang vulgar dan childish.
Setelah lebih dari 2 minggu menunggu akhirnya kita mulai memilah ‘lamaran’ yang kita anggap serius dan ‘bisa dipertanggung – jawabkan’
Kita memilih pelamar yang mencantumkan foto atau yang menggunakan email kantor karena dari situ at least terlihat keseriusan dan kejujuran mereka.

Aku biarkan pacarku menseleksi dan menentukan siapa yang menurutnya sesuai atau mendekati seleranya.
Fase berikutnya kita coba kontak sekitar 5 pelamar dan meminta untuk melakukan chatting lewat yahoo messenger dengan menggunakan webcam ( kami tidak menggunakan webcam )
Akhirnya Adel menjatuhkan pilihannya pada seorang pria muda berusia 23 tahun, fresh graduate yang bekerja sebagai MT di sebuah perusahaan telekomunikasi.
Sebut saja namanya Don, dia cukup ganteng dan menurut pengakuannya memiliki tinggi badan 180cm – 2 centi lebih tinggi dari aku.

Berikutnya aku aja Don ‘interview’ langsung dengan datang ke kantornya ( sekaligus menyelidiki keabsahan datanya ).
Don bekerja di kawasan Thamrin dan kebetulan di lobby gedung kantornya ada coffeshop dan kami ngobrol disitu.
Adel hadir ditempat yang sama tapi duduk di lain meja tanpa sepengetahuan Don menyaksikan pembicaraan kami.
Pembicaraannya agak canggung karena kami berdua sama sekali belum pernah mengalami hal itu dan tentu saja perasaan saya berkecamuk karena saya sedang bicara dengan pria yang bakal menikmati tubuh kekasih yang saya cintai.
Awalnya Don bersikeras meminta foto pacar saya tapi tidak saya berikan kecuali saya memastikan bila saatnya nanti Don tidak merasa cocok dengan pacar saya, dia bisa membatalkan perjanjian di saat terakhir.
Saya pikir itu merupakan pilihan yang safe.
Don adalah anak muda yang punya fantasy sex yang cukup tinggi dan dari pengakuannya dia cukup berpengalaman dalam berhubungan sex.
Saya hanya tegaskan bahwa saya minta sex yang aman ( menggunakan kondom ) dan dia setuju serta saya mengajukan syarat bahwa hubungan ini hanya One Night Stand, tidak lebih.
Don mengiyakan, bagi dia bisa merasakan pengalaman ini saja sudah merupakan satu hal yang sensasional dalam kehidupan sex-nya.
Interview itu tidak lebih dari 20 menit saja dan kami berpisah.

Aku menjemput Adel di lobby karena kita keluar terpisah dan ketika kutanyakan pendapatnya Adel hanya melirik sambil senyum tanpa menjawab.
Kerlingan dan senyuman nakal itu cukup membuat rasa cemburuku terpicu karena aku paham betul gesture demikian adalah body language Adel dalam menunjukan suatu hal yang dia inginkan – HIKZ.

“ So, kapan nih ?’ ujarnya menggoda
Srrr jantungku serasa mau copot dan ingin rasanya aku membatalkan hal itu tapi tentunya sudah terlambat karena sudah jadi komitmen kita.
‘Ingat lo, setelah kamu nanti giliranku ya’ aku menjawabnya sedikit sewot.
Adelpun menaikan kaki jenjangnya diatas dashboard sambil membuka stocking yang dia kenakan, menurunkan g-string berwarna hitam yang dia kenakan dan kemudian menarik tangan kiriku dari persneling lalu dia letakan dibalik roknya tepat diatas
kewanitaannya yang sudah basah. Akupun langsung memacu mobil ke tempat kost Adel di daerah Karet dan kami melakukan sex yang panas dan penuh gairah.
Sekalipun demikian, pikiranku bercabang selama hubungan sex membayangkan tubuh mulus Adel digerayangi Don.

Hari itupun tiba ketika waktu istirahat makan siang aku kirimkan offline message ke YM Don :
“ Don, nanti jam 7 malam di Café Pisa, datang sendiri, jangan bawa hp, kalau tidak bisa msg aku sebelum jam 5 sore ini’

‘Bring no HP’ adalah keharusan demi privacy karena kami tidak mau ambil resiko bila Don merekam apapun lewat kamera hp-nya.

Dengan cara rasional dan praktis saja, aku dan Adel memutuskan ketemu di Pisa Cafe jam 19.00 wib. Kupikir ada baiknya Don juga kami temui dulu di tempat tersebut. Jadi kami sama-sama makan malam sekalian.
Adel merasa perlu ‘ice breaking’ dulu sebelum lanjut ke hotel karena tentu akan amat canggung bila langsung ketemu di kamar.
Ternyata aku dan Don datang lebih dulu. Adel belakangan karena terjebak macet dari kantornya yang di jalan Sudirman.
Sementara menunggu aku sempat sedikit memberikan introduksi kepada Don bagaimana hubungan kami di ranjang selama ini. Aku tidak tahu apakah hal ini ada gunanya. Lagipula toh mereka yang akan melakukannya bukan saya. Maybe perasaan khawatir bercampur ego saya membuat saya berusaha menjelaskan do’s dan donts dalam hal berhubungan sex dgn Adel pada Don.
Rencananya mereka akan merekam hubungan intim dengan kamera karena rencana awal sebenarnya adalah mereka having sex sementara saya menyaksikan langsung tapi dibatalkan mengingat Adel protes karena katanya canggung bila harus berhubungan dengan pria
lain didepan pacarnya.
Saya paham hal itu karena bila tiba giliran saya nanti saya pasti akan memilih opsi rekam kamera katimbang ada Adel duduk kayak satpam di pinggir ranjang.
So saya jelaskan dan meminta kerjasama Don dalam hal itu.
Dari percakapan itu juga saya mengetahui betapa Don amat antusias karena sebagai fresh graduate yang baru sekitar 4 bulan bekerja, dia mempunyai rasa kagum sekaligus turn on pada wanita2 kantoran yang menurutnya amat mature dan kelihatan amat paham bagaimana merawat tubuh dan penampilan.
Well, saya hanya bisa menghela nafas menanti reaksi Don bila bertemu Adel.

Nampak Adel di ambang pintu restoran mencari kami dan kemudian mengajukan langkahnya. Duh, cantik benar Adel ini. Mungkin dia datang terlambat untuk ke salon mempercantik diri dulu. Huh sepertinya dia amat antusias juga – keluhku membatin.
Adel mengenakan celana bahan yang cukup ketat hingga bagian pinggul dan pantatnya terbungkus rapat menunjukkan lekukan yang amat sexy dan ketika Adel membuka blazernya, hem putih yang dia kenakan rapat memperlihatkan pinggangnya yang ramping dan bagian dadanya yang ketat seolah tercekik kemejanya – HIKZ
Belum lagi rambutnya digelung keatas hingga lehernya yang putih jenjang itu makin terekspos kontras dengan pipinya yang sedikit merona menggunakan blush-on karena Adel kelihatannya well – prepared untuk kesempatan ini – huh!
Sesaat sebelum Adel mencapai meja kami, Don melirik kearahku dan berbisik pelan ‘ Bro, pacar lo hot abis’ – yea enjoy that mothafu*ka! demikian batinku bergolak.

Adel langsung menghampiri dan Don berdiri mengulurkan tangannya bersalaman.
“ mbak Adel cantik sekali’
Nyosss hampir saja tinjuku melayang kearah anak muda yang sepertinya berusaha memainkan perannya sebaik mungkin.
Normally Adel akan langsung protes dan nyerocos bila dipanggil ‘mbak’ dalam kesempatan non formal – ‘deeeuh biasa aja sih, emang gw mbak2?’
Tapi Adel sepertinya amat ‘behave’ dan tersenyum manis sambil membalas ‘ eh gak usah panggil mbak, just Adel aja ok’
Diapun segera duduk dengan tidak bersandar membiarkan lekuk panggulnya terlihat jelas di depan anak muda yang lagi horny itu
– DAMN!!

Sikap keduanya langsung cair yang ditunjukkan dengan senyumannya yang sangat menawan itu. Tentu saja, walaupun kobaran cemburuku menyala, hatiku gembira melihat perkembangan yang terjadi.
Syahwatku mengaliri urat-urat darahku. Kini aku sangat ingin selekasnya menyaksikan bagaimana kekasihku ini digauli orang lain. Selama makan malam, beberapa kali aku meninggalkannya dengan alasan ke toilet atau apa. Aku ingin memberikan kesempatan menjalin keakraban di antara mereka. Nampaknya mereka tahu dan memahami tingkahku. Mereka gunakan se-efektif mungkin untuk
saling lebih dekat.

Jam 20.30 wib, saat yang pas untuk menyelesaikan acara makan malam ini.
Kami pun segera bergegas menuju hotel ‘IBS’ di jalan Wahid Hasyim yg terletak dekat dgn lokasi Pisa Café.
Aku dengan Adel sementara Don dengan motornya lengkap dengan ransel di pundaknya.
Begitu mesin mobilku menyala, Adel langsung melancarkan pertanyaan “Kamu serius say?’
Tatap matanya penuh cinta dan pengertian, hatiku makin luruh karenanya.
“ Well, menurut kamu gimana?’
“ Say, begitu aku sama dia masuk ke kamar, then there will be no turning back’
‘ Honestly aku ini monogamist sejati, and you know that, tapi if u must play this game, then I will do it 100%’ ujarnya lagi dengan tatapan lekat kepadaku.
Tangannya yang halus meraih tanganku dan ditempelkan di pipinya.
Wajahnya yg kuning langsat campuran Sunda – Menado itu semakin menggemaskanku.
“ Say its our game dan aku siap koq’ jawabku lirih.
Sudah kubuang keraguan yang ada dan tampaknya Adel juga demikian.
‘ Just remember ya say, if anything happen just call me ya’ ucapku lagi.
“ Hey silly, pasti something happen lah, emangnya aku mau ngapain kalo bukan mau ‘itu’ sama dia’
Ujarnya sambil mendorong kepalaku menggoda.
“ Iyeee I know that, puasss?’ ujarku sewot
Mata Adel yang cerdas itu terlihat mengerling nakal dan menjawab
“ gak tau deh puas apa nggak nih sama tuh brondong, menurut kamu gimana? Bakal puas gak sih aku?
Oh my God, Adel teasing me.
Perasaanku makin gemas, langsung ku ciumi bibirnya penuh nafsu.
Adel membalas dengan buas dan bibir kami berpagutan cukup lama hingga aku hampir menerobos lampu merah.
Rem berdecit seiring kami berdua tertawa lepas menuntaskan semua keraguan akan rencana kami malam itu.
“ Hey jangan terlalu hot say, ntar make up aku rusak nih kan malam ini bukan untuk kamu’
Well, Adek sebenarnya bukan tipe wanita yg gemar memakai make up tebal dan malam itu seperti biasa dia memulas wajahnya cukup

alami sebagaimana kesehariannya sbg seorang professional muda.
Hanya blush on di pipi dan lipstick warna natural melengkapi alis alaminya yang indah itu – HIKZ HIKZ HIKZ
Dan Adelpun merebahkan tubuhnya memelukku erat sepanjang sisa perjalanan yg singkat tersebut.

20:45
Di lobby hotel Don yang tiba lebih dulu sudah duduk menanti di sofa dan tatapannya berbinar melihat kedatangan kami berdua – well lebih tepatnya melihat kedatangan Adel.
Kami bertiga duduk di sofa selama sekitar 2 atau 3 menit tanpa sepatah katapun seolah saling menanti inisiatif.
Don menatapku seolah meminta persetujuan semantara aku kemudian memalingkan wajahku ke Adel nanar. Aku pasrah saja menanti reaksi Adel.
Adel kemudian menarik nafas panjang, membetulkan blazernya lalu berdiri.
Cukup lama Don terbengong sampai akhirnya Adel mengulurkan tangannya dengan gerakan tegas seperti seorang guru menuntun muridnya yg canggung kearah Don.
“ Yuk Don’ ujar Adel singkat.
Don berdiri setengah ditarik Adel.
Jantungku berhenti sejenak.
Begitu keduanya berdiri aku berbicara spontan dengan nada halus “ well, have a good time’
Tenggorokanku kering ketika mereka berbalik meninggalkanku dan tangan kiri Don meraih pinggang Adel dan keduanya beranjak menuju lift.
Aku terpana dengan tatapanku kearah sepatu nine west warna krem dgn high heel stiletto yang dikenakan Adel mengetuk ngetuk lantai lobby hotel dengan pasti dan kian menjauh hingga menghilang dibalik kelokan menuju lift.
Aku duduk memandang lantai mendengar ketukan hak sepatu Adel kian menjauh, kian menjauh kemudian berhenti.
Aku tetap mendengar ketika bunyi bel lift terdengar lalu kembali ketukan hak sepatu itu terdengar dan akhirnya menghilang seiring bunyi bel pintu lift tertutup.

5 menit, 10 menit, 15 menit hingga 30 menit berlalu aku masih duduk termenung di lobby yg sepi itu.
Terbayang apa yang mereka lakukan diatas sana.
Pasti Don yang sedang hot2nya itu langsung menyergap tubuh Adel, menelanjanginya lalu menyetubuhinya, menikmati payudara kekasihku yang ukurannya tidak besar tapi ranum dan bentuknya indah, mengulum pentilnya, menjilati kawanitaan Adel yang bulu2nya tercukur rapih – brazillian wax’, kemudian menyusupkan penisnya kedalam kewanitaan Adel dan … tiba2 nada panggil standar NOKIA berbunyi dari balik kantong celanaku!

Segera kuangkat dan dari ujung sana terdengar suara Adel.
“ Sayang, kamu masih di lobby? “
“ eh eh iya say,emm kenapa?’
“ Hmm kamu jalan2 dulu kemana gitu, ngopi2 dulu gak usah nunggu sendirian dibawah, ntar aku call lagi deh kalo udah selesai”
suara Adel terdengar normal, tidak ada desah nafas atau bunyi – bunyian orang yang sedang dibakar gairah.
Perasaanku mendingan, aku segera menjawabnya
“ Oh hmm ok, eh mm iya deh aku nongkrong ke O La la depan Sarinah aja ya’
‘’ Ok dear’ ujar Adel
‘ Hmm ok deh hmm eh e nanti jam sete… ‘ belum habis kalimat itu selesai hp Adel ditutup.
DAMN! Adrenalinku naik dan perasaan campur aduk berkecamuk dalam dadaku.
Yah ini adalah konsekwensinya dan aku akhirnya pasrah.
Dengan gontai aku melangkah keluar lobby dan meninggalkan hotel.

22.00
Jam sepuluh malam, sudah sejam mereka aku tinggalkan disana.
Aku terhenyak karena dari tadi suntuk memandangi buih cream capucinno yang mendadak rasanya jadi tawar dan spontan aku menekan tombol fast dial.
Terdengar nada tunggu, nada tunggu dan nada tunggu …
Serasa berabad abad hingga aku mendengar suara Adel diseberang sana.
“ Yes dear’
Kini jantungku benar2 berhenti.
Aku terdiam kehilangan kata2.
Suara kekasihku kini terdengar lirih dan agak berat.
Ada helaan nafas yang lebih cepat terdengar disana.
Aku mengenal betul suara itu!
Adel sedang dalam keadaan amat terangsang dan sesuatu atau seseorang sedang memberikannya kenikmatan di seberang sana !
“ Eh oh sory sory .. gak apa2 koq, ehm just call me kalo dah selesai ya “ aku gugup menjawab.
“ he’eh’ Adel menjawab terburu buru dan sekenanya saja seolah sedang diburu atau mengejar sesuatu dan kemudian hpnya ditutup.
Seolah Adel sedang terfokus sesuatu hingga dia menjawabku sekedarnya.
DAMN! DAMN! DAMN!
Hatiku bergolak tapi aku merasakan birahiku pada kekasihku juga muncul di saat bersamaan.
Saat ini, detik ini, seseorang sedang memberikan kenikmatan pada kekasihku tercinta dan aku hanya bisa mendengar tanpa bisa berbuat apa apa.

22.50
Hampir 2 jam aku menanti ketika ponselku kembali berbunyi.
Kali ini kubiarkan dering ponselku berbunyi beberapa kali baru kuraih perlahan tanpa terburu – buru.
What else? Pikirku.
Apapun itu biarlah sudah terjadi.
“ Mas ini Don, emm kita sudah selesai, mbak Adel minta dijemput 10 menit lagi di lobby’
Suara Don membuatku terhenyak sesaat.
DAMN!! Kurang ajar bener nih, pikirku tidak rela Don menggunakan ponsel Adel.
“ Oh oke, aku on the way kesana deh’ aku berusaha menghilangkan emosi apapun dari suaraku.

10 menit kemudian…

Kujumpai Don di sofa lobby hotel duduk dengan wajah berseri sementara Adel mengurus check out.
Kuhampiri dia dengan langkah gontai sambil tersenyum kecut.
Don bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya hendak bersalaman tapi entah kenapa reaksi spontan aku menghindari tangannya dan malam menepuk pundaknya coba bersikap ramah.
“ So, is everything ok?’ ucapan bodoh basa basiku berusaha segera mengakhiri malam itu.
“ Mmm, ok mas, ok banget ‘ Don sepertinya tidak bisa menyembunyikan kepuasannya.
Tampak rambutnya masih basah dan bau cologne masih menyengat tanda habis mandi.
Don rupanya merasa tidak enak dengan ucapannya itu dan berusaha menyembunyikan senyum puasnya.
“ Mas beruntung punya pacar secantik mbak Adel ‘ ujarnya sopan.
Tanganku yang masih dipundaknya secara halus menariknya mengajaknya meninggalkan lobby.
Cukup sudah bagiku, aku tidak mau Don memperpanjang lagi basa basinya.
Don paham dan mengikutiku ke pintu lobby hotel seraya menoleh kearah Adel yang masih di front desk dan mengangguk pamit.
Kulihat Adel tersenyum dan melambaikan tangannya tanpa kata kata.
“ Kamu tahu kan rulesnya?’ ujarku dengan tatapan tajam kearah anak muda itu.
“ Ok mas, thanks juga ya “
Dan diapun segera bergegas ke parkiran.

10 menit kemudian..

Aku dan Adel dalam perjalanan pulang ke tempat kost Adel dan kami duduk membisu tanpa kata.
Adel terlihat letih namun sejak tadi tidak henti menatapku dengan ekspresi menyelidik ingin tahu reaksiku.
Dia diam saja menungguku memulai percakapan.
Bathinku bergolak dengan seribu satu perasaan tapi lama kelamaan ketika cemburuku sirna kurasakan sensasi erotis dan rasa ingin tahu yang tinggi.
“ Well, my dear ‘ kalimat pembukaanku diiringi senyum puas.
“ Akhirnya kita lakuin juga ya’ nada suaraku antusias.
Adel tersenyum nakal dan kembali mengikat rambutnya yang sejak tadi sudah terurai.
“ Hmm gimana dia tadi ?’ aku penasaran.
“ Nih liat aja sendiri “ Adel menyerahkan digital kameranya kepadaku.
“ Tapi jangan diliat sekarang ya ‘ ujarnya.
Ketika aku coba mengaktifkan rekaman kamera Adel merebut kamera itu dari tanganku.
“ Yeee jangan sekarang dong say, malu nih aku’ wajahnya memerah.
Ok aku paham perasaannya dan mengiyakan permintaannya.
“ Aku horny berat nih jadinya .. gimana dong’ ucapku menggoda sambil mulai mengelus pahanya.
“ Kamu nonton dulu aja dirumah, besok kita bahas bareng ok?’ suara Adel lirih.
Akhirnya aku pulang setelah mengantar pacarku ke kostnya.

Malam itu dirumah segera aku putar kembali rekaman tersebut dengan perasaan antusias.
Jantungku berdebar dan lututku lemas ketika memencet tombol play di kamera tersebut.
Perasaan yang sama pernah kurasakan semasa SMP dulu ketika pertama kali nonton blue film.
Adegan pertama yang muncul di layar adalah Adel sedang duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap sedang mengaktifkan notebooknya dan menerima telpon.
Rupanya di menit2 pertama pacarku masih mendapat telpon dari atasannya dan masih sempat mengirim email.
Don mengambil adegan tersebut dari jarak yang agak jauh.
Adel tampak sibuk sendiri dan tidak begitu memperhatikan dirinya sedang direkam.
Tampak adel bicara di telpon sambil menatap layar notebooknya.
Don berulangkali men-zoom kamera kearah bibir Adel yang sedang sibuk berbicara kemudian menurunkan focus kebawah menangkap gerakan tangan kiri Adel melepas sepatu hak tingginya hingga kakinya yang putih mulus terkspos memperlihatkan jari2 kakinya
yang lentik dengan kuku yang terawatt bersih.
Kemudian focus naik lagi kearah wajah Adel yang kini menatap kamera sambil tersenyum mengedipkan mata dengan nakal.
Sesaat kemudian tampak Adel melangkah mendekati kamera sambil menelpon.
Suaranya tertangkap kamera dan aku ingat bahwa itu adalah ketika pertama kali dia menelponku saat aku masih di lobby dan memintaku pergi ngopi dulu.
Aku menelpon sambil tangan satunya melepas rambutnya yang digelung ke atas hingga terurai.
Adel berdiri dekat kamera dan Don menurunkan fokus kamera kebagian dada Adel yang dibalut hem berwarna putih.
Mendadak darahku berdesir dan jantungku berpacu keras ketika tampak tangan seorang pria melepas kancing kemeja Adel satu persatu sementara Adel masih menelponku.
Terdengar suara Adel menelponku
“ Hmm kamu jalan2 dulu kemana gitu, ngopi2 dulu gak usah nunggu sendirian dibawah, ntar aku call lagi deh kalo udah
selesai”
Seluruh kancing kemejanya sudah terbuka.
“ Oke Dear’ suara Adel kembali terdengar.
Aku ingat itu ketika Adel menutup telpon sebelum aku selesai menjawabnya.
Terlihat tangan berbulu milik seorang pria menelusup ke balik kemeja Adel yang sudah terbuka kancingnya meremas payudara kekasihku. HIKZ

Fokus kamera diperjelas lagi ketika tangan milik Don menurunkan bra krem Adel hingga putting payudara kekasihku itu menyeruak keluar lalu kemudian tampak jemari Don menjepit dan mulai memainkannya.
Sesaat kemudian gambar kamera agak terganggu karena kamera rupanya pindah tangan ke Adel.
Kini wajah Don yang penuh birahi terlihat jelas ketika mulutnya menempel di payudara kekasihku.
Mulutnya rakus mengulum puting Adel hingga beberapa kali layar kamera terlihat bergoyang karena Adel sedikit menggelinjang kegelian. Ereksiku tak tertahankan menyaksikan itu.

Berikutnya layar kembali bergerak cepat dan rupanya Don menghempaskan tubuh Adel ke kursi.
Adel mengambil adegan ini memperlihatkan Don berdiri dihadapannya sambil membuka kemejanya.
Dadanya cukup atletis dan berbulu.
Terdengar suara Adel menggoda
‘Wow’
Adegan berikutnya tampak tangan kanan Adel menunjuk bagian celana Don sepertinya Adel memerintahkan Don menanggalkan celananya.
‘ Don bergegas hendak membuka celana Adel tapi tangan Adel menampik halus
‘ No no no, kamu dulu please ‘
Don kembali berdiri dan menurunkan celana panjangnya kemudian disusul celana dalamnya hingga tubuh anak muda itu berdiri didepan focus kamera kekasihku dengan penisnya mulai teracung dilanda ereksi.
Aku sedikit terkesiap melihat postur penis Don yang cukup ‘kekar’, kokoh berurat.
Ukurannya kurang lebih sama dengan punyaku tapi kelihatannya lebih ‘gempal’
Rasa ego seorang pria menguasaiku.
Don memainkan penisnya di hadapan Adel hingga akhirnya tampak tangan Adel meraih kejantanan Don dan mulai mempermainkannya.
Jemari lentik kekasihku mengelus penis dan kemudian bagian buah zakar Don.
Ereksiku makin mengeras.
Adel adalah wanita yang paham betul bagaimana merangsang lelaki lewat ‘belaian’ halus di sekujur penis.
Aku sejenak membayangkan itu penisku yang dipermainkan Adel.
Teringat jelas betapa mudahnya kekasihku itu membuatku ejakulasi hanya dengan belaian lembut yang intens seperti itu.
Kemudian menarik tangannya dan posisi kamera sedikit menengadah keatas.
Rupanya Adel merubah posisi dudukunya yg semula tegak menjadi bersandar hingga kini bisa terlihat juga bagian perut hingga pinggang kebawah Adel yang masih mengenakan celana panjang.
Tampak Don membungkuk, membuka kancing, retsleting dan kemudian menarik celana panjang Adel hingga kedua betis jenjangnya yang kuning langsat itu terpapar jelas.
Tampak tangan kiri Adel memegang bra dan diletakan di meja sebelah kursi.
Lalu Don kembali mengulum sepasang payudara milik kekasihku dengan rakusnya.
Tarikan nafas berat dan panjang milik Adel terekam jelas ketika tubuhnya berkali kali menggelinjang kegelian menahan nikmat.
Kemudian kamera berpindah tangan dan kini tampak Adel duduk terkulai di kursi hanya mengenakan g-string berwarna krem.
Wajahnya merona dan matanya terlihat memancarkan birahi yang tinggi.
Adel kemudian menurunkan g-stringnya di depan kamera dan kemudian tangan Don menarik g-string itu hingga lepas dari kaki Adel.
Kini pemandangan indah tampak di layar.
Kekasihku terekspos polos dengan kulit kuning langsatnya nan bening dan mulus terlihat kontras dengan warna hitam bulu kemaluannya yang tipis diatas vaginanya.
Wajah Adel terlihat nakal ketika tangannya mengelus bagian rahasianya itu didepan kamera.

‘Mbak pahanya buka dong biar jelas direkam’ terdengar suara Don setengah memohon diselingi nafas yang mulai berat.
Adel tersenyum nakal dan menjawab “ ini udah dibuka ‘
Rupanya Don masih penasaran dan terlihat tangannya mendorong paha Adel kanan dan kiri dan mengaturnya dalam posisi mengangkang.
Kedua paha Adel direntangkan dan diletakan di sandaran kursi hingga Adel mengangkan dalam posisi ‘M’
Jantungku berdegup kencang penuh sensasi erotis ketika Don merekam kekasihku polos telanjang mengangkang sempurna hingga bagian vaginanya terkspos jelas.
Warna kemerahan bibir bagian dalam kewanitaany Adel terlihat dan sengaja difokus oleh Don.
Jari telunjuk Don mulai memainkan klitoris Adel dan dalam waktu singkat kemaluan pacarku itu mulai terlihat basah oleh cairan kenikmatan.
‘Oh mbak Adel, ini pengalamanku yang paling indah’ suara Don terdengar menjengkelkan nyaris bikin aku kehilangan gairah.

Kamerapun kembali pindah tangan dan kali ini jelas terlihat wajah Don dibenamkan diantara kedua paha pacarku.
Sedemikian intensnya hingga seolah wajah Don lenyap diantara selangkangan Adel.
Adel memajukan fokusnya dan kini terlihat jelas lidah Don memainkan klitorisnya dengan jilatan yang sesekali diselingi kuluman – kuluman yang diserspons jeritan – jeritan singkat Adel.
Sekitar 5 menit terlihat Don menggerayangi kemaluan pacarku diselingi gigitan2 di bagian paha Adel.
Fokus kamera makin lama makin bergoncang hingga kulihat tangan kiri Adel menjambak rambut Don lalu kemudian focus kamera mendadak bergerak tidak beraturan kearah langit langit kamar diiringi rintihan rintihan Adel yang keras tapi singkat berulang ulang hingga akhirnya ditutup dengan sebuah rintihan menggigil yang panjang.
Kukenali suara itu tiap kali kekasihku mencapai orgasme!
Layar kamera menjadi gelap sesaat dan aku menekan tombol pause untuk memberikan waktu bagi jantungku beristirahat sejenak.
Lututku lemas dan perutku mual tapi ereksiku makin menjadi.
Sial kamu DON!!

Kukuatkan diriku lagi dan kembali meneruskan rekaman itu.
Sepertinya rekaman pertama berhenti setelah Adel orgasme karena di oral Don.
Kini tampak keduanya tanpa busana diatas tempat tidur.
Rupanya mereka meletakan kamera itu diatas meja dengan sudut yang cukup luas untuk merekam posisi mereka diatas ranjang.
Dan saat tak ada lagi keraguan dan kecanggungan di antara keduanya, dan saat perkembangan di lapangan demikian maju yang ditandai dengan bibir ketemu bibir antara Don dengan pacarku, aku langsung berdiri dengan limbung sambil tetap memegang erat kamera ditanganku.
Kusaksikan bibir pacarku Adel menjemput bibir lelaki lain yang baru ditemuinya malam itu. Bibir tipis Adel mengatup menggigit kecil bibir Don. Anak muda itu me-respon dengan penuh nafsu yang memang sejak jumpa pada awalnya tadi aku sudah perhatikan bahwa Don ini sangat terpesona akan sex appeal pacarku. Mereka semua akhirnya tanpa canggung melakukan itu di depan kamera.
Aku berusaha cari pegangan untuk meneguhkan hati. Bukankah itu game yang kita rencanakan sendiri, dan juga karena aku sudah setuju, mengatur dan membolehkannya.

Tak ada suara-suara kecuali pukulan jantung pada dadaku. Yang kemudian kudengar ialah bunyi halus gesekan lembut dari gerakan Don dan Adel. Tubuh keduanya bergulingan diatas kasur saling mencumbu, berciuman penuh nafsu dan lengan Adel terlihat melingkari tubuh Don erat.
Pacarku Adel nampak amat sensual. Aku merasa agak heran karena sudah biasa aku melihatnya telanjang dan sudah ribuan kali aku mencumbuinya tapi bersama lelaki lain dia terlihat jauh lebih sexy dan menggairahkan.
Well aku sadar dan menemukan esensi dari permainan ini yaitu rasa posesif dan ego sebagai kekasih bisa diproyeksikan dengan cara ini hingga berubah menjadi gairah dan erotisme yang amat unik dan sensasional.
Beberapa kali tampak mereka berdua menghentikan gerakannya, sejenak saling memandang. Dari raut wajahnya nampak sekali mereka saling mengagumi dan terpesona. Kemudian dengan senyuman-senyuman yang penuh syahwat mereka saling berangkulan.
Bermenit-menit mereka berpagut, saling memainkan bibir dan lidah dan sedot-menyedot sebelum akhirnya kembali berguling ke kasur.

Untuk ukuran usianya, Don tampak cukup prima dan berpengalaman dalam bermain birahi diatas ranjang.
Dia tidak terburu – buru dan pandai memainkan emosi serta birahi Adel.
Variasinya banyak, mulai dari memainkan puting payurdara Adel kemudian menjilati sekujur tubuhnya, mulai dari telinga, leher, perut, kemudian sengaja melewati bagian kemaluan, menjilati paha, betis hingga tumit dan bahkan menghisap jemari kaki pacarku yg indah dan lentik satu persatu sambil tangannya memainkan klitoris Adel hingga tubuh kekasihku beberapa kali terguncang
dilanda kenikmatan yang menggelitik dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Don membalikan tubuh Adel, membuatnya telungkup lalu menjilatinya dari bagian tumit kaki hingga ke bagian punggung dan leher.
Terlihat jelas ketika lidah Don menjilati bagian tengkuknya Adel meronta dan tangannya terkepal mengejang sementara Don terus memainkan tangannya di kemaluan Adel.
Sesaat kemudian tampak Adel sudah tidak tahan lagi dan ketika Don melepaskan pagutan bibirnya dari tengkuknya Adel menaikan posisi tubuhnya dalam posisi doggy style memohon Don segera memasuki tubuhnya.
Keringat dingin membasahi tubuhku karena aku paham betul Adel senantiasa ingin memulai intercourse dengan doggy style sebagai posisi pembuka.
“ Don, Don please masukin sekarang, masukin sekarang please’
Adel lirih memohon dengan penuh gairah.
Tapi Don pandai memainkan perannya.
Dia menunduk, menjilati pinggang pacarku, menggigit pantatnya dengan gigitan2 birahi lalu terlihat menjilati bagian anus Adel.
Adel menggelinjang penuh hawa nafsu “ ah! “ terdengar jerit khas Adel yang keras dan singkat tiap kali syaraf erotisnyadisentuh.

Don kemudian memutar tubuhnya rebah di kasur dan menyelipkan kepalanya diantara kedua paha Adel yang dalam posis doggy style hingga wajah Don face – to – face dengan vagina Adel.
Adel paham maksud Don dan langsung mengangkat tubuhnya yang tadinya nungging dalam posisi doggy berubah jadi posisi duduk berlutut diatas wajah Don.
Di layar kamera tampak beberapa kali tubuh langsing pacarku tersentak keras mengiringi jeritan khasnya ‘ah!’ ‘ah!’ ‘ah!’ seirama dengan jilatan Don di kemaluannya.
Sesaat kemudian Adel ganti posisi balik badan hingga dia bisa meneruskan gerakan semula sambil mengocok penis Don.
Tubuhku bergetar dan darah berdesir ketika Adel menurunkan pundaknya dan wajahnya mendekati penis Don.
Oh GOD! – dlm hatiku, kekasihku akan mengoral pria itu.
Dugaanku tepat dan Adel sempat menoleh kearah kamera dengan ekspresi lucu seolah aku hadir disitu dan dia seperti ingin meminta persetujuanku sebelum mengulum penis Don.
Sesaat dia menatap kamera dengan wajah nanar penuh birahi dan kemudian seolah merasa mendapat persetujuan, dia langsung mengulum penis Don yang kekar dan kokoh itu dengan rakusnya.
Tubuh Don terlihat menggelinjang ketika mulut Adel memompa kejantanannya hingga tampak kepala Adel turun naik ketika dia berusaha menelan batang kemaluan Don semaksimal mungkin.

Sesaat kemudian rupanya Don tidak tahan lagi dan sedikit berontak untuk melepaskan kepalanya dari jepitan selangkangan pacarku yang sedang hot melumat penisnya.
Rupanya Adel tidak sadar Don ingin menyudahi permainan 69 itu karena keasyikan menikmati batang kokoh milik pria yang baru dikenalnya itu.
Sedikit rikuh Adel mengangkat pantatnya dan memindahkan posisi pahanya membebaskan kepala Don dari jepitannya.
“ hah sory ‘ ujar Adel singkat disela deru nafas yang memburu namun Don tidak bersuara langsung merenggut tubuhnya dan ditelentangkan diatas ranjang siap untuk penetrasi.
Sesaat sebelum itu Adel tampak berbicara dan menunjuk kearah tas kantornya.

Don turun dari ranjang dan mengambil sesuatu dari tas kantor Adel.
Sebagaimana direncanakan sebelumnya, Adel membawa kondom untuk dipakai Don.
Safety first adalah rule number one permainan ini.
Don berdiri disamping ranjang memasang kondom sementara Adel tampak membetulkan posisinya,
Sebagaimana kebiasaannya, Adel membalikan tubuhnya dalam posisi doggy style, meraih bantal dan diletakan dibawah kepalanya sementara tangannya tetap dia mainkan di kemaluannya menjaga supaya bagian sensitifnya itu tetap basah untuk menerima penetrasi.
“Mbak bisa telentang aja gak?’ Don minta Adel dalam posisi missionary.
Tampak Adel menoleh ke belakang dan menggelengkan kepalanya “ no, gini aja dulu, cepetan sih’ suaranya tidak sabar.
Don kembali naik ranjang, mendekatkan posisinya pas dibelakang pantat Adel dan menggesekkan penisnya yang keras itu di vagina Adel.
Sesaat kemudian Don mendorong maju dan kekasihku tercinta membenamkan wajahnya di bantal hingga jeritan panjangnya sedikit teredam bantal.
‘uuuuuuuuh, uuuuuh’ Adel merintih menahan penetrasi Don yang lambat tapi pasti menelusup kedalam kemaluannya.
Adel membetulkan posisinya dengan merendahkan bagian atas tubuhnya hingga terlihat dia nungging dengan lekukan di bagian pinggang hingga pantatnya benar2 naik.
Sesaat kemudian kulihat ranjang bergoncang keras ketika Don mulai memompa tubuh pacarku dari belakang.
Tubuh Adel bergetar namun jeritannya diredam oleh bantal yang menutupi wajahnya sementara suara desahan berat Don mendominasi ruangan.
Makin cepat dan kian ganas hingga pantat Adel yang beradu dengan pinggang Don menimbulkan bunyi seperti tamparan.
‘’plak plak plak’ !!
‘Oh yesssssss fu*k me!’ jerit Adel ketika akhirnya dia mengangkat wajahnya melepas semua gairah.
Don menjambak rambut Adel hingga wajah manis kekasihku terlihat jelas merah merona bersimbah peluh.
Pipinya memerah dan matanya terpejam rapat sementara mulutnya menganga mengeluarkan jeritan2 khasnya ‘ah! Ah! Ah! Ah! Ah!’
menjawab tiap dorongan penis Don menerobos kemaluannya.

Beberapa menit kemudian permainan makin ganas, ranjang berderak kasar dan Adel tampaknya mendekati klimaks.
Kedua kakinya dia kaitkan ke paha Don seolah turut mendorong Don melesakkan penisnya yang kokoh dan kekar itu kian dalam ke kemaluannya dan jeritannya makin intens diimbangi desahan erotis Don yang berpacu cepat.
Akhirnya ‘penderitaanku’ berhenti dengan rintihan Adel yang seperti menggigil sambil menutup wajahnya dengan bantal ketika Don juga mencapai ejakulasi.
Sesaat tubuh keduanya mengejang hingga akhirnya Don lunglai di punggung pacarku.

1 menit berlalu hingga Adel bangkit dan berjalan limbung kearah kamera.
Tubuh kuning langsatnya dipenuhi peluh dan bulu2 kemaluannya tampak basah kuyup akibat cairan kenikmatannya sendiri.
Tangan Adel terulur kearah kamera dan wajah cantiknya tampak pucat dan matanya sayu penuh kenikmatan sebelum layar kamera kembali gelap.

Kembali kutekan tombol pause dan aku mengambil tissue untuk membersihkan sperma yang berceceran akibat aku tanpa sadar masturbasi melihat permainan sex kekasihku dengan pria yang baru dikenalnya itu.
Kunyalakan rokok dan meneguk segelas air dingin menyiapkan diri untuk menyaksikan kelanjutan rekaman kamera yang menunjukan masih ada sisa rekaman lagi.

2 batang rokok kemudian aku kembali meraih kamera itu dan menekan tombol ‘play’
Rupanya pacarku dan Don sempat beristirahat dan di layar tampak Adel telungkup diatas ranjang didepan notebooknya sambil mengenakan kacamatanya.
Well, kekasihku adalah tipe workaholic bahkan disela sela permainan ini masih sempat dia mengecek email.
Biasanya Adel mengenakan contact lens tapi tentunya sudah dia lepas sebelum bercumbu hingga dia mengenakan kacamata bacanya.
Wajahnya yang tadi penuh gairah dan kenikmatan berubah menjadi serius hingga makin tampak cantik dan anggun sekalipun agak kontras melihat tubuh telanjang tanpa busananya diatas ranjang.
Don rupanya mengambil gambar sambil ngobrol.
“ Mbak masih aja kerja sih, udah jam berapa nih?’
“ Ya gitu deh, aku harus update ke kantor pusat di oz karena ada email dari lapangan yang musti aku forward kesana biar besok gak bikin repot’ ujar Adel sambil tetap serius memperhatikan layar LCD dihadapanya.
Tampangnya bila sedang bekerja tampak acuh dengan sekeliling.
“ Don ambilin rokok gw dong’ pintanya dingin.
Terlihat tangan Don menyerahkan sebungkus sampoerna menthol kemudian menyodorkan lighter yang disambut Adel menyulut rokok.
Kepulan asap tampak di layar kamera “ eh say, itunya di lap dulu sih’ ucap Adel enteng sambil menyodorkan tissue kearah kamera. Terdengar tawa lirih Don dan tangannya mengambil tissue dari Adel
“ Matiin dulu sih, ngapain rekam sekarang’ ujar Adel cuek sambil tatapannya tetap serius kearah layar LCD didepannya.

Adegan pun berganti cepat dan kini terpampang di layar Adel sedang berdiri di samping ranjang sambil mereguk segelas air putih dari botol aqua compliment hotel.
Tangannya masih memegang rokok dan kacamata bacanya masih dia kenakan.
Don rupanya mengambil adegan itu dalam posisi duduk di kursi yang tadinya diduduki Adel di adegan awal.Tubuh langsing kuning langsat dengan sepasang kaki jenjang milik Adel tampak polos tanpa busana mondar mandir sambil menghisap rokok menthonya seperti tidak sabar.
‘Gimana? Udah bisa lagi?’ ucapnya sambil menghembuskan asap rokok.
‘Hmm bentar mbak, belum ada 10 menit nih, bentar lagi bisa lagi koq’ ucap Don
Rupanya Don sedang berusaha membangunkan lagi penisnya yang baru bekerja keras.
Tampak di layar tangan kiri Don mengocok penisnya yang sudah mulai berdiri sementara di latar belakang Adel berjalan mondar mandir seperti gelisah.
‘Hurry up say, cowok aku parno nih kalo kelamaan’ ucap Adel cuek.
‘ wait a second mbak’ Don mempercepat kocokan penisnya.
‘ lambret nih’ ujar Adel sambil tersenyum nakal.
Adel berjalan menghampiri kamera hingga di layar hanya tampak bagian pusar hingga pahanya.
‘ U need help dear?’
Adel memainkan jarinya diatas klitorisnya yang tampak mulai basah lagi.
‘Ah that’s good’ Don antusias.

Sesaat kemudian focus dimundurkan dan Adel terlihat mengangkat kakinya dan meletakan telapak kaki kanannya diatas pangkuan paha kiri Don hingga kewanitaannya makin terekspos kemerahan dan tapak licin basah.
Terdengar nafas Don makin berpacu dan akhirnya Adel duduk bersimpuh didepan Don, wajahnya tepat didepan penis Don yang mulai mengeras.
Serta merta Adel meraih penis Don dan mulai menjilatinya.
Bibir tipis kekasihku kemudian mendarat menciumi batang kemaluan Don yang mulai mengeluarkan urat2 kokohnya.
Adel menjilati kearah pangkal kemaluan hingga lidahnya mencapai buah zakar Don.
Rupanya Adel lupa melepas kacamata bacanya hingga tersangkut di penis Don
‘’Ups sory, lupa aku’ ujarnya nakal sambil melepas kacamata bacanya.
Tanpa kacamata wajah pacarku kembali memperlihatkan erotisme dan segera Adel mengulum penis Don.
Adel mengulumnya dalam2 hingga hamper tersedak karena mencoba teknik ‘Deep Throat’
Don mendesah lirih menikmati service nikmat kekasihku tercinta.
Tepat bersamaan ereksiku kembali bagkit.

Adegan berpindah kali ini kamera tetap di tangan Don dan di layar tampak Adel terlentang diatas ranjang, pahanya membuka dan ujung kemaluan Don tertangkap layar bergerak mendekati vagina kekasihku.
‘Pelan – pelan ya say’ ucap Adel sambil berusaha menaikan posisi badannya.
Adel yang tubuhnya terlentang menggunakan dua siku tangannya menopang supaya badannya bisa sedikit tegak untuk melihat penis Don melakukan penetrasi kedua.
Somehow karena posisi itu Don agak susah memasukan penisnya hingga Adel membantunya dgn menuntun batang kemaluan Don menemukan liang kewanitaannya.
Tampak Adel berusaha menempatkan posisi kepala menunduk utk bisa melihat proses penetrasi tersebut.
Don tampak penasaran dan coba mengalihkan ujung penisnya kearah anus Adel namun Adel sigap meraih penis Don dan diarahkan ke vaginanya.
‘No no, yang itu Cuma buat cowok aku aja’ ujar Adel memperingatkan Don dengan tatapan tajam.
Well aku menyaksikannya agak terharu at least pacarku masih menyisakan tempat special itu khusus untuk aku.

Sesaat kemudian kepala penis Don sudah setengah terbenam dibalik bibir dalam kemaluan Adel yang merah dan licin.
‘Ok say, nice and slow’ ujar Adel memerintah.
Penis Don meluncur perlahan.
‘ Fokusin please’ suara Adel lirih memohon.
Fokus kamera di perjelas dan tampak kemaluan Don perlahan membelesak kedalam lipatan bibir dalam vagina kekasihku yang merah basah.
‘Perfect’ ujar Adel singkat dan kemudian focus kembali menjauh dan tampak Adel sudah rebah dengan kedua tungkai kakinya terlipat membentuk huruf ‘M’ dan kedua telapak kakinya menempel di pinggang Don.
Sesaat kemudian Don mulai memompa keluar masuk dengan irama yang pelan.
Adel merespon dengan memainkan klitorisnya dengan ujung jemarinya yang lentik.
Wajah kekasihku tampak berkonsentrasi dan tatapannya kosong kearah langit langit kamar.
Sesaat kemudian Don mulai masuk ‘gigi 2’ dengan kecepatan dipercepat tapi tusukannya dia batasi hanya setengah ukuran batangnya.
Tiap gerakan mundur, Don mengaturnya sedemikian rupa hingga kepala penisnya nyaris mencelat keluar vagina Adel.
Dengan begini jelas terlihat bibir dalam vagina Adel seperti ‘monyong’ tertarik keluar mengikuti gerak mundur penis Don.
‘Cream’ kental berwarna putih mulai terlihat menempel di batang penis Don tiap kali ditarik mundur pertanda kekasihku mulai terangsang seiring suara nafas Adel makin nyaring.

Sesaat kemudian Adel sudah benar2 basah dan kecipak cairan vaginanya terdengar berirama seiring tusukuan2 Don.
Don memegang kamera dan mengaturnya hingga seluruh tubuh Adel hingga bagian pinggang Don tertangkap layar kamera.
Darahku berdesir melihat kekasihku kian lama kian dikuasai gairah syahwat.
Awalnya hanya bunyi nafas saja tapi lama2 rintihan2 kecil Adel mulai terdengar.
‘uh uh uh’ wajah pacarku amat erotis dan seolah memohon Don memberikan kenikmatan yang lebih dan lebih lagi.
Pipinya merona dan matanya kian sayu seiring peluh membasahi tubuhnya.
2 menit berlalu dan Don akhirnya melakukan tekanan dengan lebih cepat lagi.
Kini dia membenamkan penisnya sedalam mungkin kedalam vagina Adel hingga tiap kali mendorong, bulu kemaluan keduanya seolah menyatu sebelum kembali terpisah seiring gerakan mundur penis Don.
Adel pun merentangkan kedua pahanya lebar – lebar ibarat burung merpati mengepakan sayapnya.
Pemandangan indah sekaligus membakar ego dan birahiku melihat kekasihku tercinta membuka pahanya lebar2 dengan bantuan kedua tangannya hingga penis Don bebas keluar masuk maju mundur.
Suara kecipak cairan vagina tidak lagi terdengar karena Don melakukan full penetrasi hingga tidak ada lagi ruang udara digantikan suara desah nafas Don dan rintihan2 kenikmatan Adel.
Uh uh uh uh wajah Adel sudah berubah dari wajah wanita professional yg tadinya serius didepan notebook menjadi wajah wanita yang dilanda birahi dahsyat.
Terlihat Adel juga berusaha mengatur stamina dan menahan orgasmenya selama mungkin hingga dia menahan diri tidak menjerit keras. Adel mengatur nafasnya dengan mengeluarkan suara rintihan pelan Uh uh uh uh! Bibirnya yg tipis dan indah itu terlihat agak monyong mengeluarkan suara tersebut.
Pemandangan indah dan erotis itu membuatku kembali menggenggam penisku yg sejak tadi sudah keras ereksi.

5 menit kemudian Adel menyerah, Don memang lambat berdiri tapi sekali berdiri staminanya amat mengagumkan.
Adel kembali mengeluarkan jeritan khasnya ‘ah!’ ‘ah!’ ‘ah!’
Jeritan keras dan singkat mengikuti tiap tusukan penis Don hingga akhirnya tampak Don agak membungkuk dan tangan kirinya dia gunakan menopang ke ranjang hinga tubuhnya yg tadi dlm posisi duduk tegak jadi membungkuk hingga tusukan penisnya dia lakukan
dengan bantuan bobot tubuhnya.
Kesadaran Adel mulai hilang dan dan kepalanya menggeleng ke kanan dan kekiri seiring alisnya tampak menyatu di dahinya karena matanya dipejamkan menahan nikmat.
Kedua tangan Adel memegang dan membuka pahanya selebar mungkin nyaris dalam posisi ‘Split’ sempurna dan deru nafas Don makin berat dan ranjang makin bergoncang merespons tiap tekanan tubuh Don menghujamkan penisnya ke kemaluan pacarku.
Akhirnya Adel tidak tahan dan dia mencapai puncak.
Wajahnya merah padam sambil menggigit bibirnya menggigil sementara kakinya yg sebelumnya dia rentangkan mengangkang lebar dilipat diatas perutnya.
Terlihat Don melakukan penetrasi maksimal hingga ranjang bergetar hebat dan tubuh kekasihku terguncang naik turun.
Adel tidak kuasa menahan kenikmatan ribuan volt itu akhirnya gigitan bibirnya terlepas dan dari mulutnya terdengar jerit menggigil khas tiap kali dia orgasme.
Don mengendorkan tusukannya saat Adel orgasme dan tubuh kekasihku sejenak terdiam kemudian bergetar seperti menggigil beberapa kali sebelum akhirnya matanya menjadi sayu dan wajahnya menjadi pucat.
Kedua tungkai kakinya yg tadinya melipat kini tergeletak lunglai disamping pinggang Don.
‘ Oh shit, enak bangeeeet, damn good !!’ ujar Adel sambil tetap memejamkan mata lemas.
Nafas kekasihku masih memburu dan dia berusaha menormalkan kembali.
Tampak berapa kali Adel menelan ludah karena tenggorokannya kering habis dipacu kenikmatan.
Sementara Don dengan amat mengagumkan ternyata belum mencapai ejakulasi tapi dia menurunkan temponya jadi lambat.
Penisnya tetap keluar masuk vagina Adel sementara tangan kirinya membelai payudara kekasihku dengan lembut dan mesra lalu merapikan rambut Adel yang kusut. Adel tampak menatap sayu tanpa ekspresi sambil menormalkan deru nafasnya.

Mendadak bunyi ponsel terekam kamera dan Adel yg masih lemas tampak meraih ponselnya dan kemudian di layar tampak Adel meletakan kamera di telinganya dalam posisi masih menerima penetrasi pelan dari Don.
Jantungku mau copot menyadari bahwa itu adalah saat ketika aku menelpon Adel.
Rupanya kekasihku baru saja menerima kenikmatan dari anak muda itu.

“ Yes dear’ tampak Adel menjawab dengan tatapan sayu.
Adel memberikan kode dengan mulutnya kepada Don yg masih memompa vaginanya
‘COWOK GUA NIH’ terbaca jelas dari gerak mulut Adel yg memberitahu Don tanpa bersuara.
‘He’eh’ ujar Adel menjawab singkat lalu menutup ponselnya.
DAMN! Aku ingat saat itu tadi.

Setelah menerima telpon, Adel yg masih dalam ekspresi penuh kenikmatan menatap kearah kamera dan berkata.
“ Ayo say, buruan sih, kasihan cowok aku nunggu’
Kekasihku rupanya mengkhawatirkan aku yg menunggu tapi sepertinya Adel mengerti bahwa Don belum menjapai ejakulasi dan membiarkan Don menyelesaikan.
Kamerapun pandah tangan dan kini Adel memegang kamera dan Don tampak di layar mulai memacu untuk mendapatkan jatah kenikmatannya.
Don memompa sebisa mungkin dengan desahan yang kian berat sementara Adel yg sudah mendapatkan kenikmatannya serius merekam dan membiarkan tubuhnya di bolak balik berbagai posisi oleh Don.
Setelah posisi missionary Don mencoba posisi menyamping menusuk dari samping hingga posisi Adel miring dengan kaki diangkat.
Terbayang olehku Adel pasti sulit mengambil angle itu tapi dia bisa tetap focus mengambil gambar tersebut.
1 menit, 2 menit, 3 menit berlalu Don tidak kunjung ejakulasi dan aku mulai mendengar rintihan2 lirih kekasihku lagi.
DAMN! Adel kembali mendaki kenikmatan!
Posisi berganti, kini Adel tetap memegang kamera mengambil posisi ‘woman on top’ duduk diatas penis Don sementara Don terlentang. Untuk menjaga supaya kamera tidak bergoncang, Adel tidak melakukn gerakan naik turun tapi memainkan pinggulnya maju mundur dan juga melakukn gerakan ‘mengulek’ alias memutar pinggangnya bak penari hula hula.
Lututku lemas menyaksikan kekasihku melakukan gerakan erotis dimana penis Don secara penuh ‘ditelan’ vaginanya kemudian diputer dengan gerakanmengulek.
Glek! Aku masturbasi makin cepat.
Don tidak lagi mendesah tapi mulai bersuara keras “ Oh oh, yes baby!! Faster!!’
‘hmmmm hmmmm uuuuh’ rintihan erotis Adel seiring gerakan goyang pinggulnya melumat penis Don amat dalam menembus liang kenikmatannya.

Akhirnya Adel tidak tahan dan menyerahkan kamera ke tangan Don hingga terpampang kembali di layar tubuh kekasihku menggeliat bak penari hula hula memainkan penis Don dalam kemaluannya.
Sesaat kemudian keduanya sudah diambang puncak kenikmatan dan Adel mulai melakukan gerakan memompa naik turun dengan keras dan makin ganas.
Kamera agak terguncang karena gerakan Adel membuat pegas ranjang bergerak naik turun dengan cepat.
“ Oh yeas fu*k me fu*k meeee!’ jerit Adel
‘ Ah my dear … aku dah mau keluar nih’ suara Don tenggelam dibalik deru nafasnya sendiri.
‘ Uuuuuh yes .. me too Me too !!! Adel menjerit, peluhnya seperti jagung menetes dari pipinya ke payudaranya yang seperti terlempar naik turun karena guncangan.
Sesaat kemudian jemari Adel tampak mencakar dada Don ketika tubuhnya mengejang melengkung kebelakang sementara Don mendesah panjang.
Keduanya menjemput kenikmatan bersama setelah permainan panjang yang liar.

Spermaku muncrat membasahi celana dalamku.
Belum pernah kurasakan sensasi kenikmatan menyaksikan kekasihku menikmati birahi dengan orang yang baru kita kenal.
YESSS GOD DAMN YESSS!!!!

Tampilan layar kemudian berganti dan kini tampak di kamar mandi Adel sedang duduk di closet mengarahkan jet washer kearah selangkangannya membersihkan dari sisa2 cairan kewanitaannya yg bercampur cairan spermicide dari kondom yg dikenakan Don.
Wajah Adel tampak berseri sekalipun matanya masih sayu dan pipinya pucat.
“ Ngapain kamu rekam sih adegan gak penting ini’ suara Adel sewot.
‘Eh Don tolong ambilin hp-ku dan teken tombol no 2, itu speed dial ke pacarku’
Tangan Don tampak menggenggam ponsel Adel dan menelponku.
DAMN!!
‘Sini aku bersihin punya kamu’ ujar Adel seraya menjentikan jari telunjuknya memanggil Don mendekat.
Don mendekat sambil tetap merekam.
Terlihat penisnya masih belepotan sperma kemudian digenggam Adel yg masih duduk di closet.
‘Aku bersihin ya’ Adel tampak tersenyum nakal.
Adegan berikutnya cukup membuatku terkejut.
Kekasihku mengulum penis Don yg sudah lunglai bersimbah sperma itu, kemudian menjilati sisa2 sperma yang masih tercecer sebelum menyemprotnya dgn air.
Bersamaan dengan itu terdengar suara Don bicara di ponsel
“ Mas ini Don, emm kita sudah selesai, mbak Adel minta dijemput 10 menit lagi di lobby’
GOD DAMN! Rupanya waktu Don menelpon minta jemput itu dia sedang dioral kekasihku!!
DAMN DAMN DAMN!
Terdengar lagi suara Don dari balik kamera “ Udah mbak, katanya lagi mau on the way kemari’
Tampak ponsel Adel diletakkan di samping meja rias lalu kamera diletakan Don diatas meja yg sama.

Di layar kemudian tampak Adel bangkit dari closet menuju shower, menyalakannya dan mengerling ke arah Don dan berkata “ Yuk bareng aja Don’
Dan di layar kamera tampak sosok pria bugil menghampiri kekasihku dibawah siraman shower dan mereka mandi bersama.
Mereka saling bergantian menyabuni dan membersihkan badan satu sama lain, kemudian kulihat Don mendekap tubuh Adel dari belakang dan keduanya menikmati siraman air panas di shower itu.
Tepat ketika kupikir permainannya berakhir, mendadak Adel menolek ke belakang kearah Don, membisikan sesuatu yg tidak bisa ditangkap kamera karena tersama bunyi air, lalu Adel terlihat memberikan kode menunjuk ke bagian bawah lalu Don kemudian duduk bersimpuh dan Adel mengangkat kaki kirinya tinggi hingga telapak kakinya dilatakan di keran air lalu Don kembali
mendaratkan pagutan bibirnya ka arah vagina kekasihku dan kembali mengoralnya.
Adel tampak tersenyum penuh gairah dan Don terlihat amat bersemangat menjilati kemaluan kekasihku.

Darahku kembali berdesir panas dan gairahku kembali aktif namun permainan terakhir mereka di bawah shower tidak bisa
kusaksikan sepenuhnya karena durasi recording kamera sudah keburu berakhir dan layar mendadak jadi gelap.
Ternyata mereka masih sempat 1 ronde lagi disaat aku sedang bergegas menjemput kekasihku.

GOD DAMN!!!!!!!

Gairahku membara dan kutemukan kenikmatan unik dalam permainan itu.
Malam itu juga kutelpon Adel dan mengutarakan semua perasaan dan komentarku mengenai rekaman tersebut.
Adel memastikan bahwa itu hanya One night stand dan dia tidak sabar untuk melakukan permainan berikutnya kali ini dia yg kebagian menyaksikan aku dengan perempuan lain.

‘that was a great experience my dear’ ucapnya lirih di telpon
‘ Don lumayan juga tuh’ ucapnya menggoda
‘Lumayan?’ kataku sinis
‘’Eh nggak deh, gak lumayan tapi luar biasa sih, 5 orgasm dalam 2 jam tentu luar biasa dong say, at least aku musti kasih
kredit atas servicenya dong’ ujarnya nakal.
‘ U know I can givu more than him my dear’ jawabku tidak mau kalah.
‘Yes you are darling’ ucapnya lirih ( tentu saja – aku pernah bikin dia orgasme lebih dari itu koq )
‘’So?’ jawabku lagi.
‘ So, aku udah nggak sabar liat kamu sama perempuan lain, tantangan lho, bisa gak kamu bikin rekaman sehebat yang aku bikin
sama si Don’ ucapnya.
‘ Pasti !!! ‘ jawabku tidak mau kalah.
‘ Ok deh gak sabar nunggu nih, btw my dear, kamu tetap satu2nya yang ada di hati aku, malah aku tambah sayang sama kamu’
suaranya berubah serius dan penuh perasaan.
‘Me too darling, I love you more’ Hatiku dipenuhi kehangatan.

Sejak saat itu hubungan sex kami tidak pernah standar lagi tapi malah makin hot dan menggairahkan.
Hubungan cinta makin lekat dan dekat karena kami berdua sudah saling share intimate fantasy yang paling dahsyat.
Setelah pengalaman itu tentu saja giliran aku yg melakukan permainan tsb dan kami juga melakukan hal itu beberapa kali hingga
kini.

Katie’s Massage (Part 5)

Posted in Katie’s Massage on June 24, 2009 by ceritaindo

“Sorry,” said Katie, “I must have dosed of.”

“That’s fine. That’s what’s meant to happen at this point. I’ve started the bath running and added some bath salts, so once I’ve sponged you down I suggest you soak for a while. Normally I’d offer to get in with you to see the whole session through to the finish but unfortunately I have an appointment with a regular.”

“If you have to go that’s fine, I’ll be right from here.”

“Certainly not, I’ve still got a few minutes. This is one of my favourite bits of the massage. I like to see a client go from being tense and uncertain to completely relaxed, and showing that unmistakable glow that follows a good orgasm. To me it’s almost the most sensual part”

All the time Joel was sponging the oil from Katie, the mixture causing small droplets to form over her oily skin. Her nipples hardened again either due to the stimulation, or perhaps just the evaporation of the water. Approaching her pubic region he placed the sponge over his cock so that it pushed down between her cunt lips.

“We seem to have relaxed that a bit. Are you sure your regular wont mind?”

“I think she’ll still be satisfied,” replied Joel, as his cock hardened between her thighs.

“Gee, I suppose that’s a bit of an advantage in your line of work!” said Katie admiring his stiffening prick.

“And I last longer second time around. Now roll over before I cancel my next appointment.”

Finishing his mopping up, which included sponging his own cum from Katie’s lips, Joel climbed off Katie and began dressing.

“Well thankyou for such a pleasurable afternoon. If you’re ever back in town feel free to look me up.” Taking a business card from his pocket, he passed it to Katie.

“Joel and friends massage,” read Katie. “So there’s more like you are there?”

“Well sometimes we get together to provide a very special service. That’s a fair bit more “exotic” than the standard service. Aaah, but another day perhaps.”

Finishing dressing, Joel packed his things and left with a last goodbye. Shortly afterwards Katie rose from the bed and went to the bathroom for her bath.

The only thing left was for me to leave my “meeting”, and front up to my wife. But that’s another story.

Katie’s Massage (Part 4)

Posted in Katie’s Massage on June 24, 2009 by ceritaindo

Joel moved one hand behind his back, taking the string running up between his buttocks, and drew the G-string from under his scrotum out behind him, throwing it to the floor at the foot of the bed. Katie would now be feeling his bare scrotum on her shaved pubic mound. Rather than bring his hand back to Katie’s breast, Joel lightly ran his fingers up and down her leg, while the other hand continued to play with her breast. He adjusted his position on Katie, moving slightly forward. This allowed him more access to Katie’s mound, and sensing this Katie brazenly opened he legs. It also meant that Katie’s hands were now reaching Joel’s waist and couldn’t rest there comfortably without the need to hold on. Rather than let her arms slide down his thighs onto the bed she flexed her elbows and placed her hands on her belly.

My view of Katie’s hands was now partially blocked by Joel’s thigh. Only my angle from above allowed me any vision at all. Her hands were nestled between his thighs but I couldn’t tell if she was touching or perhaps even playing with his nuts. This was driving me crazy! Was my sweet innocent wife feeling up this guy? I didn’t initially think she would, and now that there was the possibility that she was, or would, I was unsure how to feel about it. It was strangely thrilling though, and my own cock was so hard it almost ached.

I flicked back to the other view to find Katie’s legs even further apart and Joel stroking her inner thighs, teasing a finger along her labia. He then extended his middle three fingers spreading them slightly and dragged them along the length of her vulva. Katie flinched at the first contact to her clitoris. The next few strokes Joel touched only her labia. Katie groaned and tried to arch her pelvis into his fingers. Joel again stroked her clitoris on a downward stroke as Katie sighed almost as though in relief. A few more gentle strokes up and down, then Joel let his finger linger on the hood of her clitoris, drawing little circles so that the skin moved over the head of her swollen clitoris, rhythmically exposing and covering it.

That’s fine,” I heard Joel quietly say. Wondering what this was in response to I changed my view to reveal my wife’s hands around the base of Joel’s penis. Her eyes were now closed and she was clearly revelling in the experience, totally consumed, and giving herself fully to her senses. Katie was tentatively playing with the base of his cock, without stroking its shaft, much like a comfort toy while her mind was elsewhere.

Back at my wife’s cunt Joel was again running his fingers up and down the length of her slit. He stopped briefly at the base of her clitoris and this time as his middle finger ran down the centre of her slit he applied a little more pressure. His finger slipped easily between the folds half submerging as her labia parted then enveloped over the sides of the digit. Katie shuddered. At the end of the stroke he lifted his hand back to the top, trailing a long thick trail of mucus. He again partially submerged his finger in her sea of cunt juice, but this time lingered, subtly flexing his finger, testing the tension in her hole. I could see the lips of her vagina closing more and more over the finger as Joel threatened to penetrate her. I had no idea what was happening at the other end, I couldn’t take my eyes of the vision in front of me. Then it happened. Amidst an almighty groan from Katie the end of Joel’s finger disappeared up Katie’s hole as though cut off at the second joint. He kept still for a moment then started rubbing his palm against her clitoris. Within seconds another shuddering orgasm his Katie With steady control Joel kept her going for what seemed like a minute of full on intensity.

As Katie began to relax, as her orgasm came to an end, Joel eased his finger out of her. Slipped out would probably be a better description, there was that much slippery mucus pouring out of her.

“No, please don’t,” pleaded Katie. “Jesus, I’ve never come so hard before.”

Unhurriedly Joel replaced his middle finger with his thumb, easing it in, and using the base of his thumb to slowly start to massage her clitoral area again. He was leaning back, placing his other hand on the bed behind him to steady himself, and give his right hand better control on Katie’s cunt. This meant of course that there was no hand free to play with her breasts but I’m sure Katie was happy with this small sacrifice.

From my other view I could see Katie still almost absent-mindedly playing with the base of Joel’s cock. Every now and then as a spasm of pleasure passed through her, her grip would tighten and move up the shaft again. With Joel leaning back a clearer view of his cock and balls was available. His pubes and scrotum appeared almost totally shaved except for a small “Eiffel tower” of tight black curls extending up from the base of his organ. His nuts appeared enormous, although Katie’s hands still obscured a good view. Katie’s delicate white hand struggled to encircle the base of his cock, whish while no longer than my own was a good deal thicker. The ridge of engorged flesh running on the underside of his cock stood out like the keel of a bout.

Katie was flinching, in pleasure not pain, in time with every thrust Joel made into her cunt. Each time she would squeeze her fist and move the skin over the base of his penis in a mini-masturbating movement.

“Here let me help you there,” came Joel’s voice, leaning forward and picking up the oil bottle. He placed his hand loosely around his shaft then squirted a generous amount of oil into his palm, before rubbing it over the shaft and head. He then took Katie’s right hand, palm upwards, and filled it with oil. Putting down the bottle he lifted his scrotum and deposited his cum filled testicles into her upturned hand.

“Is it OK to play with it?” asked Katie somewhat nervously.

“Of course it is. This is your massage Katie, any requests will almost certainly be granted. The only aim is to leave you totally satisfied, whatever that may entail. And of course if it feels good for me, well that’s an added bonus.”

Katie gasped and flinched again, as obviously her cunt was again entered by some part of Joel’s hand. I was too captivated by my wife’s hands to check whether it was his thumb, finger or anything else for that matter. Here was my timid little wife greasing up another man’s pole with one hand and exploring his scrotum with the other. She was clearly giving herself to the moment and loving it. The way she was feeling his testicles, and savouring the feel of the head of his cock, as though this was the first and last time she was ever going to have such an opportunity, filled me with both jealousy and an intense feeling of eroticism. As more pre-cum leaked from the end of his cock, Katie collected it with the tip of her finger, and used it to lubricate the head of his cock.

By this time Joel had begun thrusting his pelvis in time with Katie’s wrist movements. Perhaps because he was about to come, perhaps because he had other plans, Joel suddenly and smoothly re-took control of the situation. Sliding his ass backwards, his cock released it’s self from Katie’s firm grip. At the same time, he bought his legs together, outside Katie’s, closing hers tightly together. His head was now at the level of her throat, his cock and balls resting snugly between her thighs, only inches below her pubic mound. His elbows rested on the bed beside her abdomen, his hands were placed on the soft curves between her clavicles and the commencement of the mounds of her breasts.

“Time for some more body slide, don’t you think.”

In the space of a simple “Ah ha,” Katie’s tone shifted from disappointment at losing both her grip on that wonderful black organ and the pleasure her cunt was experiencing, to the nervous excitement of what the next instalment of this sexual adventure may have in stall.

Joel’s hands moved to fully encompass, and massage, her breasts, while his pelvis began to slide up and down her thighs. Whether she was holding her legs together or he was not letting them open as part of his plan, was not possible to say, but the tension in the muscles was clear. In a sawing motion, Joel was rubbing the keel of his penis up and down between Katie’s labia. You didn’t need to be a doctor to know that this meant the brunt of the pleasure was being taken directly on her clitoris, nor a sex therapist to realise that Katie had just about lost all self control under the influence of total sexual pleasure. Katie’s hands had now moved to Joel’s buttocks and were helping him grind his pelvis into hers.

It was clear now that Katie was trying to let her legs part, desperate to increase the contact between genitals. Finally Joel relented, letting her legs part slightly, and resting his between hers, but not losing a beat in the rhythm of his faux fucking. With each slide downwards, he would pause the head of his cock at the base of her clit, so that the engorged labia would spread around the head, and just before it looked as though they would close around and engulf it, he would thrust forward causing Katie to grunt in anguish. Each backward stroke would see his cock slip further between her legs, but he maintained careful control so that it didn’t slip into her longing tunnel uninvited.

Letting his cock fall between her legs, he wedged it between her buttocks, before dragging it up between her legs, spreading her labia with the head, until it flicked over her clitoris. At this point he again applied the pressure of the base of his cock to the apex of her slit, as he ran the length of his shaft forward, his balls eventually emerging either side of the base. The slickness of the head of his cock attested to Katie’s state of arousal, with clear cunt juice running down from the head of Joel’s cock, where it had been scooped from between Katie’s thighs. There were no complaints from Katie with this level of intimacy, as Joel repeated the manoeuvre again and again. As the tip of his cock dragged across the entrance to her vagina, Katie’s legs would close slightly as if to trap it in that position. Joel however, was in full control, and Katie was going to have to make her wishes very clear if she wanted to change Joel’s approach.

After a few more thrusts, Joel came to rest on top of Katie, again placing his legs outside hers, keeping them most of the way together. There he rested for what seemed a minute or two to allow them both to catch their breaths, and possibly to let Katie clear her thoughts about what may happen next. It was impossible to see for certain but I suspected from the position he was in, the head of his cock would be nestled between Katie’s labia. This became clear as she began moaning and grasping his ass, as Joel rotated his pelvis in small circular motions, then thrusting back and forth, the head of his cock pressing against her sphincter, threatening to enter her fully. This was driving Katie wild. The pressure of a warm cock head on the verge of penetration would always have Katie begging for full penetration and the feeling of being internally filled by a solid cock. How would she handle another man’s cock, particularly in her current state of arousal?

Joel didn’t push the issue. Every now and then he would let his cock slip up onto her bare belly, only to be met with a whimper of disappointment.

“Oh fuck, I shouldn’t be doing this. Gees, fuck, …aaah.” Joel continued to gently probe back and forth at the entrance to her vagina. Katie managed to manoeuvre her thighs outside his and was, with the help of her hands on his ass, trying to help his cock into her.

“Do you want me to put a condom on?” Here it was. Was Katie going to let this man fuck her? As much as she hated condoms she would surely insist on protection. She was obviously torn between desperately wanting a thorough fucking and her sense that this was against her normal values. Or so I thought. Her response floored me.

“No, ……just don’t come in me.”

“Are you sure, Katie?”

“No, I just need to be fucked. Please, before I lose the moment.”

With that she wrapped her legs around his, as Joel slowly let the full length of his cock slip into Katie. Immediately, Katie began to shudder, having her most powerful orgasm to date. Moaning and groaning, Katie threw her head back, eyes closed and hands clenched on Joel’s buttocks. Joel meanwhile was in complete control, very slowly easing his now glistening cock in and out of my wife’s sodden cunt, pausing at the entrance before plunging back in. I could see Joel’s scrotum bounce against Katie’s ass with every stroke.

I wasn’t sure what to do at this stage. Katie was obviously in a state of ecstasy she had never known before. I had wanted to loosen her up a bit but I had fully expected her to draw the line well before this. I didn’t know whether I should phone the room and speak to her, turn off the monitor or continue drooling over vision of my once shy, conservative wife, fucking a man she’d only met an hour or so ago. I chose the latter.

As her orgasm subsided, Joel let his cock slide out. It bounced up against his abdomen with a little “thwack”, Katie’s cunt juice splattering.

“Are you cumming?” asked Katie hurriedly, either concerned she may have cum inside her, or more likely worried that her fuck session was over.

“No, I thought you might like to try something different.” With that he turned her over and raised her hips so that she was on her knees with her ass and cunt in the air. Taking his cock he rubbed the head around her lips, then sunk the full length deep into her, forcing the rest of her body to rock forward on the bed. Katie turned her head to the side so that she could view Joel’s cock in the mirror, disappearing in and of her body, occasionally closing her eyes as the sensations became too intense.

Joel leaned forward on his elbows so that her could take Katie’s breasts in his hands, kneading them and teasing her nipples, which always makes her clitoris stiffen. Katie reached a hand back to take Joel’s balls in her grasp, raking her fingernails across his scrotum, and occasionally grasping his shaft. Katie had completely given herself over to the rawness of the situation, and any inhibitions she had previously had were no longer to be seen.

Katie was pushing back against Joel’s thrusts while Joel was using his large hands to steady her pelvis by grasping her narrow waist. The music had long since stopped, allowing me to hear not only Katie’s moans, and Joel’s soft encouraging words, but also the sloshing and pounding that her cunt was receiving.

Katie turned her head back to bury it in her pillow, muffling only slightly her increasing guttural groans with each thrust of Joel’s piston, signalling another approaching climax.

“Come on baby. That’s it, let it go.” Whispered Joel.

This pushed her over the edge. Katie stiffened, held her ass high and steady, and screamed her pleasure into the pillow. As her orgasm subsided, she slumped forward onto the bed; causing Joel’s cock to release it’s self from her slit. I was glad to see that it was still rock hard, hopefully indicating that he hadn’t come in her.

“Had enough massage for one day?” he cheekily enquired.

“Shit. Actually, no. I’ve come this far, and I don’t know if I’ll be given this chance again. There’s one thing I’d like to try.”

“Sure, I’m up to just about anything.”

“This isn’t the first time you’ve done this sort of thing, is it?”

“Well, no. Not all sessions are this enjoyable though”

“Well I hope my husband knows what he’s gotten himself into. O.K. lie down on your back. And please remember not to come in me. We really should use a condom, but I just love the warmth of a big cock in me.”

With that Katie started to climb on top of Joel, and I knew exactly what she was going to do. Katie’s favourite position for sex is reverse cowgirl. Climbing astride she positioned herself over Joel’s cock, took the base of his shaft in her right hand, and milked his organ so that a large glob of pre-cum oozed from the tip. Katie wiped this away then lowered herself until the head was just touching her pouting labia. My view of this action was stunning. Little more than a few feet in front of me was my wife’s sweaty torso inching up and down on a strangers black cock head. Now she was doing the teasing, letting the mushroom head pop just inside the constriction of her vaginal sphincter then lifting up so that it popped out, with the tip still resting between her labia. Finally Katie relented and sank smoothly down the full length of his shaft. I could see his cock disappearing inch-by-inch, deep into Katie’s pelvis. At the bottom she began rotating her pelvis, grinding harder and harder onto Joel’s cock, before lifting herself up and all but free. As she did so I could see Joel’s cock reappear, this time glistening with my wife’s cum. Now both Katie’s and Joel’s groans could be heard, as she quickened the pace. Watching her lithe body do squats up and down on the black shaft between her legs, thighs spread, abdominals standing firm and drenched in sweat, gave me a strange sense of pride mixed with a small amount of jealousy and anxiety.

They were both obviously enjoying themselves and by the increasing noises coming from Joel it was clear that he couldn’t hold on much longer. Katie slowed and rotated round to face her partner, keeping Joel’s cock buried inside her. The view was again exquisite, this time showing her beautiful firm ass, her puckered hole stretched by the thick cock lodged deeply in the cunt in front of it. As she rode up, the rim at the base of Joel’s cock head would cause a small ripple of the anus, before the labia rolled back to reveal the burgeoning head. Before it could slip free, Katie would plunge down again hungrily engulfing its length. The rhythm was fast and furious now, and it was clear that they were both close to orgasming. It appeared to be a race to see if Katie could squeeze one more orgasm in before Joel blew his load.

As Katie began her orgasm, she sensed Joel’s impending eruption, and putting her hand between her legs, she grasped the base of his cock riding off it just as the first stream of cum spewed forth spraying white streaks across her vulva. With pleasure out-weighing her concerns, she immediately sat down on the under surface of the length of the shaft, sliding her vulva along the base, while continuing to milk Joel’s cock of it’s sperm with her fist. Katie’s orgasm continued as she watched spurts of Joel’s cum fly from between her thighs onto Joel’s abdomen.

Eventually the pace slowed, and Katie fell to her side to lie on her back beside Joel. “Christ, that had to stop soon or I was going to pass out. I hope you charge by the session, not by the orgasm, or I’m going to be broke!”

“Don’t worry the account is taken care of.”

“Mmm, I wonder how that will show up on the hotel account?”

“No problem, it was settled in advance, in cash, by your husband.”

“Oh, God, my husband! What am I going to tell him!”

“I’d thank him for arranging a really good massage. I’m sure he’ll understand.”

“But I arranged it!”

“Really. Are you sure? Look lie there and just relax, now is not the time to stress. The time immediately after a massage is a critical part of the whole experience. And anyway, I have another appointment to get to so I wont be able to “de-stress” you any longer.

I’m just going to pop into the shower then I’ll be back to clean up.”

The shower could be heard running in the bathroom while Katie lay peacefully in the middle of the bed. A few minutes later the shower stopped, the bath started running, and Joel returned, still stark naked, with a bowel of water and a large sea sponge. Straddling Katie again, and judging by her startled response, waking her, he began gently sponging her down.

Katie’s Massage (Part 3)

Posted in Katie’s Massage on June 24, 2009 by ceritaindo

If there was any lingering doubt that Katie was finding this highly erotic, then one glance at her sopping cunt would settle the matter immediately. Even in the limited light it was clearly a gooey mess. This was no misplaced massage oil. There is no mistaking the consistency of fresh fanny juice. It had streamed out between her lips and had formed a small mound where her lips met the bed sheet. It looked as if she stood up she’d have a string of mucus reaching to the floor. Just how far was this going to go. I began to worry that maybe I had let Katie have too much champagne at lunch. Was she going to regret her actions? Even though I had a raging hard on in my free hand, with it’s own thin stream of pre-cum stretching to the seat of my chair, I was a little concerned as to how I’d feel if things went much further. I resolved however that this was probably a once in a lifetime event and I’d see it all the way through, whatever the result. As I’d arranged things, I could hardly blame Katie if she was seduced further than I thought she would be.

Joel’s hands were slowly moving up Katie’s thigh the left and right hands rhythmically rotating around the outer and inner aspects respectively. Katie’s breathing became more rapid and shallow the closer he got to her cunt lips. He was close enough now that my view of her dripping snatch was at times obscured. All of a sudden Katie let out a groan as I could see her right outer lip pushed up and back by the pressure of Joel’s palm. Katie made no move to neither stop his advances nor close her legs. Joel’s large hands were now rotating and massaging the ball of her hip joint. The tips of his left fingers intermittently appeared between her legs nudging against the clitoral end of her pussy. As they disappeared back under her leg the right hand would sweep down the crack between her leg and cunt, the edge of his palm brushing back and forth along the edge of her mound. Her breathing continued to quicken, was then drawn in and held briefly before being released in a long slow moan that she tried unsuccessfully to suppress, as her body tensed and relaxed, her pelvis arching to meet the downward sweep of Joel’s palm. This allowed even greater access under her leg and around to her cunt lips for his left hand. There was now a constant to and fro motion against the side of her cunt and what little light there was flickered off the wetness that was being massaged out from between her lips. Still, there appeared to be no direct contact with her clitoris or entry into her vagina.

Finally Katie couldn’t hold back any longer. Her breathing was erratic and uncontrolled. Her eyes closed as her whole body tensed. Katie, having done her best to suppress it for the last 5 to 10 minutes, was having her first orgasm as a result of another man’s touch. Joel meanwhile continued his work. As he orgasm faded he changed to long gentle strokes up and down her thigh, lightly brushing her vulva as he passed.

“I’m sorry,” said Katie, “nothing like that has ever happened before.”

“That’s fine Katie, just relax.”

“God, I’m so embarrassed”

“Don’t be silly, it’s all very natural. I’m sorry if I’ve caused you embarrassment. I didn’t sense what was happening otherwise I would have stopped or at least checked to see if you wanted me to continue. It’s a complement that you could become so relaxed as to respond in such a way to such minimal stimulation. You’re obviously a very sensual woman.”

“No, it’s not your fault. The massage was so good I was in an almost dream like state. I feel so silly, I don’t suppose that sort of thing happens very often.”

“Actually it’s more common than you may think. Some people fight it, which I suppose is unfortunate for them. Not many will respond to such minimally intimate contact as you though. That’s a compliment to you of course.

Some of my regular private customers prefer a more sensual style massage which I’m happy to provide as long as we’re both clear on boundaries. Different people have different expectations from their massage, but as long as they leave totally relaxed and satisfied, I feel my job is done.

Ok, if you’re ready to continue we have more work to do on your left leg. Remember though if you feel uncomfortable, or embarrassed, please let me know, or perhaps just ask me to “move on”, if that’s easier.”

The left leg proceeded pretty much as for the right. Katie seemed more relaxed and when Joel flexed her hip to the side leaving the now somewhat forgotten towel covering little more than her lower right buttock, she made no move to cover the full and complete view that was available of her engorged pussy. Her recent orgasm certainly hadn’t stemmed the flow of pussy juice. This time, as he approached her cunt lips his actions appeared slower and more deliberate. Whether this was to tease her even more, or to test the waters of acceptance, I wasn’t sure. The result was that Katie was more vocal than before. The gentle moans escaping her signalled her state of arousal.

“Are you quite comfortable?” asked Joel.

“Ah, ha,” was all she could muster.

On this signal, Joel changed his approach. He carefully eased the towel completely off Katie. Checking her response, and seeing no move to resist, he began lightly running his fingers over the skin of both legs. As he stretched down to her ankles his cock would again press against the small of her back, but now with greater pressure and purpose. Weaving his fingertips up her legs he deliberately avoided touching her pussy lips, which made Katie wiggle her bum in the hope of initiating contact. The next time Joel stretched down to her ankles he slid his groin up Katie’s back, bringing his face inches from her anus and cunt, and visibly inhaled deeply. Katie always has the sweetest smelling vagina especially when it was flowing. At times I’d go down on her after a work out at the gym just to experience a dirtier aroma. Joel would be getting nothing but that sweet musk aroma today. As he sat up and his head moved away, he breathed out through pursed lips, along the length of her pussy and straight across her anus, which twitched and quivered as his breath passed. Without giving her the chance to contemplate this new development his fingers traced their way back up, between her legs, the right involuntarily spreading to mirror the position of the left.

My view between her legs was now uninterrupted. Here was Katie lying on her stomach, legs spread, with a near naked muscle bound black man rubbing his clearly erect cock into her back, as his fingers played lightly over her buttocks and down between her legs, occasionally drifting over her swollen labia.

Taking the bottle of oil Joel dribbled more across her cheeks, allowing a pool to form just at the top of her crack. As it overflowed and a trickle ran down over her anus Joel quickly placed his finger on the patch of skin between her vagina and anus as though to stop the “accidental” flow. Katie flinched and then groaned as his finger moved upwards over her anus, scooping up the excess oil but causing her sphincter to constrict involuntarily. He then took a buttock firmly in each hand, his hands moving in sweeps from the centre out, stretching her anus, then back inwards down onto her upper inner thighs, his hands following the crease between her buttock and thigh. This resulted in her pussy lips being forced together, opening like a flower, as his hands came together deep between her legs. The groan from Katie was ominous. She wasn’t going to be able to hold back another orgasm for long. Would she ask him to “move on”, would she be satisfied with one orgasm, or would she really let him bring her to orgasm in the full knowledge that they both knew what was going on.

Joel’s strokes were now getting shorter, running much more vertically down the midline, still stretching her anus and now also causing the part of her pussy closest to her anus to gape, exposing both the opening to her vagina and the large quantity of juice pooled within. As his fingers moved further down the length of her slit, her inner lips and clitoris would momentarily pop into view. His groin was now nestled against the back of her neck, his face and mouth inches above her anus and vulva. With each deep breath in I could see him savouring the mixed aromas arising from both her puckering and relaxing arse hole, and her streaming cunt. Once inhaled, he would blow on her anus and onto her fanny in time with their stretching. How he resisted plunging his tongue in, I don’t know, I was almost tonguing the screen myself.

Each stroke was now causing a guttural groan from Katie. It was obvious what was about to happen and clearly she was more comfortable than earlier. Her inhibitions relaxed, either by the alcohol or by Joel’s earlier reassurances, Katie was going to fully give herself to the next orgasm.

Joel’s strokes were even shorter now, just forming small arcs around her labia, her inner lips and clitoris protruding the whole time, but being constantly jostled by his movements. Copious amounts of cunt juice continued to flow out of her hole and over her clitoris. Short rasping breaths came from Katie as she tensed and let the spasms of her orgasm flow over her.

“Oh god, fuckkk…yesss,” groaned Katie, as she appeared to move her crotch back and forth trying to gain extra contact with Joel’s hands. Joel either had other plans or wasn’t sure if she wanted more direct genital contact, I suspect the former, as all he gave her was his thumbs resting lightly on her anus. As her spasms and groans slowed so did his hands, having the effect of milking every last ounce of pleasure from her exhausted body. I’d never in all our time together seen her orgasm for so long.

“Shit, I shouldn’t be doing this, but it feels unbelievably good.”

“Thankyou, I’m glad you enjoyed it. You seemed much more relaxed. It’s good to be able to feel comfortable in such a setting in order to be able to experience the pleasures of massage fully.”

“Funnily enough my husband’s been trying to get me to have an intimate massage, with a professional provider of course, for a long time.”

‘That’s sort of thing is a very common fantasy for many men, though most make the mistake of involving friends or acquaintances. Then when things don’t work out for one reason or another they’ve got on going problems on their hands. Your husband’s approach is much safer all round.”

Whilst chatting away Joel was delicately running his fingers over Katie’s thighs, buttocks and occasionally very lightly running over her swollen engorged labia and her anus, eliciting small flinches from the pleasurable sensation. Katie made no move to close her legs.

“Would you like to try a body slide, or have you had enough for today?”

“Well, I may not be back here for a while, and it’s still an hour or more till my husband is due back, so I’m game to give it a try even if I’m not exactly sure what it is.”

“Ok then but again, the same rules apply if you’re uncomfortable.” Joel stood and moved to the foot end of the bed. Katie watched him as he moved. “Watched” perhaps isn’t the right word; her eyes roamed his body obviously admiring his physique.

Joel placed his hands around Katie’s ankles and after a last glance straight up to her sopping cunt drew the ankles together, closing the view. He then stood, hooked his thumbs into the sides of his Lycra shorts, and pushed them down.

“Wha…!” began Katie, as the shorts were removed revealing a tiny leather G-string. “Oh, Sorry,” said Katie, “I thought you weren’t going to have anything on under that!”

“My apologies for startling you Katie, the Lycra makes the slide quite uncomfortable on sensitive skin.”

“Oh, fine,” replied Katie. Yeah, sure, I thought.

Joel then began covering his upper body and legs in oil, and aware that Katie was watching his reflection in the mirror, putting on a show of doing so, emphasising his admittedly sensational physique. His muscle definition was superb without his being over muscled. He ran the oil across his six-pack of abdominal’s down to the low cut top of his G-string. His G-string consisted of little more than a thin, soft leather pouch, barely containing what was obviously a rigid cock, held up by a thin leather string tied at the left hip. Leaning forward to oil up his legs, he allowed his forearm to knock the side of his groin so that the movement within the G-string made it obvious that whatever was in there was as stiff as an iron bar.

Crawling onto the bed he placed his knees either side of Katie’s legs and lowered his well-oiled torso down onto Katie’s. His groin nestled in the groove between Katie’s thighs, a few inches below her crotch. He lay there for a while letting her get use to the pressure. Holding her shoulders he then slid his body forward, his barely covered cock and balls gliding up and over her buttocks and onto her back. His chest was now up and over her head, and the view that both Katie and I could see was of a large black oiled body almost engulfing Katie’s petite frame. He slid back down, his cock again slipping into the crack in her buttocks and further on down her thighs until his chest was resting on the curve of her bum. He continued this a number of times then came to rest with his cock wedged in between her buttock cheeks. Joel had kept his legs either side of Katie’s so that hers remained tightly close, giving me no view between, just a view of Joel’s bare (but for the G-string) ass rippling away as he ground himself against my wife’s body.

In this position Katie must have been able to feel his cock directly against her pussy but made no move to change position.

“Not too heavy?” enquired Noel.

“No, not at all. That skin to skin contact feels wonderful”

“Hey, it’s too quiet, I didn’t notice the music had finished. I’ll just change the cd.”

Joel jumped up and moved to change the cd. As he did so his erection was even more obvious. The oil had soaked into the flimsy material and now clung to, and clearly outlined, his genitals. On top of that, as he stood a trail of mucus ran down the shaft, onto his scrotum and out into the air, until it was about six inches long at which point it fell to the floor. One thing for certain was that this was not oil, and there was not no doubt where his cock had been hiding!

The music back on, Joel resumed his previous position. Katie’s legs had parted slightly while Joel was up so that when he lay back down his cock and balls pushed harder against her own genitals.

“Now where were we…..?” whispered Joel. “OK now, just put your arms out sideways. That’s right.” Katie now had her arms at right angles to her body and her elbows flexed also. Joel places his oiled hands at the sides of her chest then slipped them round to cup her breasts. In doing so his pelvis rocked gently from side to side.

“Ooh, that feels a bit naughty!” giggled Katie.

“Mmmm, naughty but nice perhaps?” replied Joel as he began to rotate his hips so that his leather covered cock was massaging back and forth across her cunt. Another moan escaped from Katie. Joel alternated his movements; sometimes rotating other times pumping back and forth as though he was fucking her. Katie was right into it now, meeting his thrusts as best as she could while trapped under his massive frame. That she was building to another orgasm was clear, but rather than let her reach it, Joel teasingly slowed his motions, repeatedly lifting his pelvis off her buttocks and easing them back down. Katie continued to groan and lift her pelvis to maintain contact with his cock. Even with the soft background music, I imagined I could hear the squelch of my little wife’s sopping cunt as Joel’s genitals sunk in and out of the wetness.

“Ready to turn over?”

“Oh shit. I don’t think I’ve got the energy.”

“Come on.” Said Joel, getting off her and helping her turn over. No cover was offered and none was asked for, as my wife lay on her back totally naked with an all but naked, oil covered, man perched above her admiring her totally surrendered body. Joel straddled her groin again and immediately started massaging both her breasts.

“That feels so good.”

“It’s meant to Katie.”

Her nipples were both rapidly erect as Joel moved his hands around them massaging the tissue of her breasts. With fingers splayed he lightly drew them into the centre of her breasts, teasing the nipples more and more with each stroke. Katie was openly gazing at his body, particularly at his abdominals and also the cock straining at the confines of its pouch. Appearing to take the heat out of the situation, Joel moved onto Katie’s right shoulder then on down the arm, resting it on his knee as he went. When he’d finished with the fingers on the right hand, he moved to the left shoulder but draped the right arm along his thigh so that the fingers rested no more than an inch from his leather-covered cock. Every time Joel leaned forward, Katie’s fingers would press against his cock, and each time he leaned back her hand was just that bit closer, until before long they were resting against the side of his shaft. Now each time Joel leaned back and forth Katie’s fingers, without her having to do anything, would rub up and down the side of his shaft. She closed her eyes, as if that made her actions less obvious.

“So what did your husband get you for your anniversary?”

“I don’t know yet. He said it was something I’ve always wanted and will be delivered to our room this afternoon.” She didn’t seem to realise that it already had.

“I hope it doesn’t disturb us.”

“I’m sure it wont,” replied Joel with a slight smile. The tone of his voice made Katie open her eyes and look up at Joel, who hastily added, “I put the “Do Not Disturb” sign on the door.”

“Ah, OK,” said Katie, the tone of her voice was suspicious. Shit, I thought, I think she suspects something. “Maybe it’s already arrived?” she added in a slightly cheeky tone.

“Would you like me to ring reception and check,” asked Joel, continuing the game of cat and mouse.

“I don’t think that will be necessary,” she replied in a more confident manner.

Katie had now moved her hand so that her index finger was hooked in the waist strap of the G-string, away from the side of his cock. Joel finished with the left hand and placed it on his own left thigh, though this time not quite so close to his groin. Perhaps he felt Katie was suspicious or perhaps the fact that she had moved her right hand away from his cock signalled the limit of her involvement. It seemed he was going to wait for signals from her before resuming any further intimacy.

“Would you like any more work on your upper body?”

“How about some of that light fingered work. It gives me goose bumps all over.”

“Sure thing.”

Joel began delicately running his fingers up and down her arms, across her shoulders and gently across her breast. Sensing no problems he concentrated on her breasts.

Katie’s fingers had been busy though. She had moved them further to the hip and had hooked them around the small leather bow that was all that held up Joel’s G-string.

With one small flick she undid the bow, and with that the straps fell away closely followed by the pouch of leather, revealing Joel’s erect cock, hugging the skin of his abdomen.

“Oops, sorry,” giggled Katie. Joel moved one hand to pick up the front of his G-string, but Katie was having none of that. “Hey, that’s not fair! I’m lying here all exposed, shouldn’t you be also?”

“That would only seem fair. Some of my regulars insist on it. I’m completely comfortable so long as the client is.”

From my angle I could only see a side on view of Joel’s cock. It was a good length but not one of those “fantasy 12 inch monsters”. The thing that would impress Katie was its thickness. The head in particular formed a bulbous mushroom swelling on the end of his shaft. The shaft glistened slightly from the oil that had soaked through the G-string. A small amount of pubic hair was visible but clearly most had been shaved away.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.