Evilution, Part 11

Episode II – Single Malam Ini

Kevin akan pergi ke luar
kota akhir pekan ini. Dia jarang bepergian untuk urusan bisnis, jadi
jarang pula aku mendapat malam minggu untuk diriku sendiri. Kuhitung
hari dan membuat rencan untuk kali ini bahkan semenjak dia mengatakan
padaku tentang perjalanan bisnisnya akhir pekan ini.

Akan kuhabiskan malam dipusat kota bersama sahabatku Marsha. Aku tahu
banyak tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi dipusat kota, tapi
Marsha masih single dan dia tahu semua tempat yang sering dikunjungi
wanita single sepertinya, untuk kencan dan atau menunggu dipilih.

Sebagai seorang sahabat baik, Marsha, sudah mengingatkanku untuk
melupakan ideku ini. Dia sudah mengenalku semenjak kuliah dan dia juga
mengenal Kevin.

“Amanda, kamu yakin akan melakukan ini pada Kevin?”
“Aku tidak melakukan apapun padanya. Ini tentang aku. Apa yang tidak dia tahu tak akan menyakitinya.”
Marsha hanya mengangkat bahunya dan menarik nafas, “Seorang pria akan
mendapat malam Minggu yang sangat beruntung, hanya itu yang bisa
kukatakan.”

Sesungguhnya, masih banyak yang mau dikatakannya, sebagai seorang ahli
pesta dan seorang wanita single yang menarik yang kelihatannya selalu
punya kekasih baru setiap kali aku mengunjunginya. Dia menguasai
keahliannya, dan dia memberiku saran apa yang harus kupakai

“Sekarang, jangan terlihat seperti seorang wanita murahan, tapi
pastikan kalau kamu memperlihatkan asetmu dengan benar.” Dia juga
memberikan tips untukku tentang tipe pria yang harus dihindari dan
bagaimana agar ‘tetap aman’.

Beberapa bulan yang lalu aku menolong suamiku dan menemani klien
bisnisnya berkeliling kota. Sesungguhnya, akhirnya aku memperlihatkan
padanya lebih dari sekedar kota ini! Kejadian tersebut sangat
membangkitkan kehidupan ranjangku dengan Kevin. Dia tak pernah
membahasnya, jadi kupikir dia tak memusingkan apa yang sudah terjadi.

Entah bagaimana, aku merasa kalau aku berhak mendapatkan kesempatan
lagi untuk acara keluar malamku. Ini bukan hanya tentang seks saja, aku
dapat memperolehnya di rumah. Mungkin perasaan bahaya dari itu semua,
aku tak tahu. Aku tak mau sesuatu yang berkelanjutan. Tidak, itu akan
sangat rumit. Aku hanya ingin mendapat sebuah kesenangan, semalam dan
selesai.

Kevin menanyaiku apa aku punya rencana untuk malam Minggu. Kukatakan
padanya kalau aku menghubungi Marsha dan mungkin akan pergi keluar
dengannya untuk minum atau sekedar jalan-jalan. Itu kelihatannya
memuaskan dia.

Kuantar dia ke bandara Sabtu paginya. Itu membuatku mendapatkan satu
hari penuh untuk mempersiapkan apa yang akan kupakai dan mendandani
rambutku dan hal-hal kecil lainnya yang dilakukan wanita untuk
mempercantik diri, termasuk sebuah strategi untuk mencukur bulu
kemaluanku.

Marsha menghubungiku sekitar pukul tiga dan mengatakan kalau dia akan
memakai jeans.Kuputuskan untuk mengikutinya dan memilih salah satu
jeans terbaikku. Jeans tersebut menempel diseluruh tubuhku bagaikan
sebuah sarung tangan. Kupadu jeans tersebut dengan atasan yang disukai
Kevin karena ini dapat memperlihatkan bentuk dadaku tanpa mengekspos
belahan dada. Kevin kadang sangat protes jika aku berpakaian terlalu
terbuka dimuka umum. Aku puas dengan penampilanku, sangat pas, sangat
seksi.

“Hot!” Itu komentar Marsha saat kami bertemu disalah satu club yang
kami pilih. Jeans yang kupakai mungkin sudah ketat, tapi yang dipakai
Marsha seakan tercetak tepat ditubuhnya, Dia memaki sebuah blous untuk
atasannya, sebuah blous yang terlihat sebagian dikancingkan dan
sebagian lagi tidak, tergantung bagaimana kamu melihatnya.

“Apa kamu butuh bantuan… dengan sisa kancing itu?” kugoda dia. Dia
tertawa dan berkata dia hanya ingin memberi sebuah awalan untuk si pria
nanti. Dan saat kuperhatikan sekeliling, semua mata pria disana tertuju
pada kami berdua, ada beberapa pria yang seakan siap jika ada
kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan melepaskan kancing blous yang
dia pakai untuknya.

Kami beli minuman pertama, tapi setelah itu kelihatannya saat setiap
kali kembali ke meja kami, sudah ada minuman baru yang menunggu, hadiah
dari para pengagum.

Hanya beberapa pria yang bertanya padaku tentang bekas melingkar dari
cincin dijariku. Yang pertama, aku tengah berdansa dengan seorang anak
muda bertubuh jangkung, dan dia mengamati jariku. “Baru bercerai?”
Kuputuskan untuk tak bohong. “Tidak.”
“Kamu hanya tak ingin memakai cincinmu malam ini?”
“Benar, malam ini akau single.”

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: