Evilution, Part 12

“Wow, kamu lihat kami?” Marsha bertanya padaku saat kami menari
mengikuti irama, ‘kami’ adalah dia dan seorang pria berambut panjang
yang bernama Kaka. Dan ya, kulihat mereka tadi. Mereka sangat sulit
dilewatkan, menari dengan meliukkan tubuh saling menempel erat.

“Dia mengajakku pergi ke apartmentnya.”
“Denganmu, bukan?”
“Tentu saja denganku, konyol kamu,” dia tertawa geli.
“Hanya memastikan.”

Kuingatkan dia tentang aturan keamanan yang dia katakan padaku
sebelumnya ‘hotel atau motel tapi tidak untuk apartment dalam kencan
pertama’.

Dia tertawa. “Aturan dibuat untuk dilanggar, kadang. Amanda, kamu harus merasakan otot pria ini. Dia sangat kekar.”
“Apa kita sedang bicara tentang otot tertentu?”

Marsha membenamkan wajahnya ke bahuku, tertawa keras dan mengucapkan
sesuatu yang tak bisa kudengar dihingar bingar club ini. Bandnya mulai
memainkan lagu dan Kaka, si perkasa, sedang berjalan ke arah kami.
“Kamu mau kutanyakan padanya apa dia punya teman?”
“Tidak, aku baik-baik saja,” jawabku.

Kaka tahu seseorang yang bisa dipasangkan denganku. Dia adalah pria
yang pernah dansa denganku sebelumnya. Cukup tampan, tapi ada seorang
lain yang menarik perhatianku.

“Kalian perdua pergilah… bersenang-senang.” Dari cara mereka saling pandang, kesenangan itu mungkin dimulai di area parkir.

Marsha minta maaf untuk meninggalkanku. Kuyakinkan dia kalau aku tak
apa-apa. Dan untuk membuktikannya kuberi dia ciuman perpisahan dan
segera berlalu dari hadapannya, langsung melangkah menuju ke bar dimana
salah satu pasangan dansaku sebelumnya sedang duduk, menunggu untuk
turun denganku lagi.

Lebih dari satu pria yang mencoba merayu dan menyentuhku dilantai dansa
malam itu, tapi hanya seorang yang kubiarkan. Namanya Opick. Dia
langsung menyadari identitas bekas cincin dijariku, namun baru
berikutnya saat kami duduk dibar, dia mengangkat topik tersebut.

“Apa kamu melupakan sesuatu malam ini, manis?” senyumnya begitu meruntuhkan hati.

Kugigit bibir bawahku, menggodanya dan mengangguk.

Dia memegangi tanganku dan meremasnya dalam genggaman tangannya.
“Baguslah. Kamu siap untuk pergi ke tempat lain… yang lebih sepi?”
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Tempatku?”

Pertama kali hatiku bereaksi menjawab, ‘ayo’, tapi aturan Marsha
menahanku. Dia berusia seumuranku, 30 mungkin beberapa tahun lebih tua.

“Aku tak tahu soal itu. Aku baru saja mengenalmu… ” jawabku, masih
tersenyum, dan meremas tangannya untuk memberinya harapan. Aku ingin
agar dia menyarankan sebuah hotel, tapi aku tahu kalau dia tipe seorang
gentleman. ‘Tempatnya’ tak harus berarti seks. Aku yang harus
memutuskan kalau akau berada disana. Sebuah hotel, disisi yang lain,
itu akan sangat jelas dan tak bisa dipungkiri menyatakan maksudnya
dengan jelas.

Opick tak tahu harus berbuat apa, dia terlihat bimbang. “Mau jalan-jalan? Hanya putar-putar saja?” tawarnya.

Dia sudah mengkonsumsi banyak minuman, jadi aku tak yakin mau berada
dalam satu mobil dengannya. Satu ranjang, mungkin, tapi yang jelas
bukan satu mobil.

“Hey, aku tahu sebuah tempat yang bisa kita datangi,” jawabku, tangannya melingkariku dan menarikku ke tubuhnya.
“Dimana?”
“Tempatku” bisikku ditelinganya.

*****

pureaisha is offline

Report Post

 

Reply With Quote

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: