Evilution, Part 14

Opick sangat nervous berada di rumahku. Sudah berulang kali kukatakan
padanya kalau suamiku tak akan pulang sampai Minggu malam. Tak ada
alasan untuk terus menerus melihat ke arah jam, kataku padanya. Sial,
aku bahkan mengharapkannya untuk menghabiskan malam bersamaku, kalau
dia lihai diatas ranjang, tapi tak kukatakan hal itu padanya.

Dia sangat lambat untuk memuli gerakan, jadi kuputuskan untuk memecah kebekuan dengan melepaskan baju atasku.

“Rasanya agak gerah malam ini, bukankah kamu rasa begitu?” bra yang
kupakai untuk ‘kencan’ malam ini berwarna putih, lembut dan agak
menerawang.
“Akan kuambilkan minum untuk kita?” kataku, bangkit dari sofa.
Opick meraih tanganku, sebelum aku berdiri penuh. “Tak usah, aku tidak haus.”

Tarikannya pada tanganku membuatku kehilangan keseimbangan, dan
langsung rubuh kembali ke atas sofa disampingnya. Kurasa pemandangan
payudaraku, dengan putingku yang terlihat samara, mulai menampakkan
efeknya.

Dia menekan tubuhku dan mulai menciumku, seakan dia takut aku akan
berubah pikiran dan berusaha berontak. Tapi lidahnya terasa baik
untukku, dan berontak adalah kata terakhir dalam benakku. Khususnya
saat kugapai ke bawah untuk menyentuhnya dan menemukan betapa sudah
kerasnya dia.

Kami saling berciuman dan memagut di atas sofa untuk beberapa saat. Aku
merasa bagai seorang remaja lagi. Aku sama sekali tak merasa telah
menikah. Kubukai kancing baju Opick dan merabakan tanganku diatas dada
dan perutnya saat kami saling melumat. Dia remas payudaraku dan bahkan
menciumnya dengan kasar dari balik kain bra-ku. Mempermainkan dan
menggigiti putingku.

Kusapukan tanganku pada selangkangannya. Dia meraih kancing jeansku.
Bagaikan sepasang remaja di jok belakang mobil pada area parkiran.
Tu**n, ini sungguh erotis!

“Bagaimana kalau kita naik ke lantai atas saja?” saranku, saat dia tengah sibuk dengan resleitingku.

Dia memandangku dengan bingung. Apakah aku menyarankan untuk
menyelesaikan permainan nakal kami ini di ranjang yang sama dengan yang
kupakai dengan suamiku? Aku yakin itulah yang sedang dipikirkannya.

“Ada dua kamar dilantai atas,” terangku padanya, menariknya berdiri.
“Satu untuk tamu, dan ranjangnya tak begitu nyaman.” Kami berdiri
disana, lengan kami saling melingkari satu sama lain. Ereksinya menekan
keluar dari dalam celananya.
“Kamar yang satunya mempunya ranjang yang lebih besar. Dan rasanya sangat nyaman. Dan itu yang lebih kupilih.”
“Pilihanmu adalah pilihanku,” jawabnya, menyelipkan tangannya turun
lagi ke belakang tubuhku hingga berhenti dipantatku. Dia remas dan
menarik tubuhku semakin merapat. Batang penisnya memberi pertanda jelas
kehadirannya, aku jadi basah.

Kubimbing dia ke atas dan menyuruhnya untuk menunggu diluar kamarku.
Ada sebingkai foto Kevin diatas meje riasku. Segera kusimpan ke dalam
laci dan menyingkap selimut dari atas ranjang.

“Semuanya siap, sayangku!” Kutarik nafas dalam-dalam. Aku benar-benar
sudah melangkah jauh! Apakah aku benar-benar melakukan ini?

Kubiarkan Opick melepas bra-ku. Sudah dari tadi ingin dia lakukan.
Masih memakai jeans, kutendang lepas sepatuku dan menjatuhkan diri
rebah ke atas ranjang, payudaraku menari mengharapkan perhatian.

Opick menuntaskan ketelanjanganku dan kubantu dia menelanjangi
tubuhnya. Dan kemudian kuserang batang penisnya, kusergap kejantanannya
yang membuatku penasaran. Rasanya sungguh indah dalam genggamanku.
Harus kugunakan kedua tanganku untuk menggenggamnya, dan harus segera
kucium dan bercinta dengan batang penisnya.

Dan itu sungguh bereaksi, seakan seorang anak kecil, tumbuh semakin
tinggi dan tinggi dan keras dan semakin mengeras. Opick terlihat senang
dengan caraku menggunakan lidah padanya. Bukan hanya pada batangnya,
tapi juga dibawah buah zakarnya, sedikit turun ke pahanya, dan naik
kembali disepanjang ereksi besarnya, semakin naik menuju kepalanya yang
licin.

Opick membalas perlakuanku, dia benamkan kepalanya diantara pahaku, dan
menciumi serta menjilt vaginaku. Membuatnya semakin bertambah basah
dari sebelumnya. Dia tetap bertahan dibawah selangkanganku sangat lama,
bermain dengan kelentitku. Waktu yang cukup bagiku untuk meraih orgasme
pertama dan pulih kembali untuk putaran berikutnya.

Nafasku terasa berat, kugapai ke bawah dan menjambak rambutnya. “Sayang, ayo lakukan! Mari bersetubuh!”

Ereksinya butuh perlakuan lebih lengkap, mulutku tak bisa menanganinya.
Dan kemudian dia menaiki tubuhku. Tubuhnya menutupiku seutuhnya,
kejantanannya sungguh sempurna. Jika saja aku tak begitu basah, mungkin
saja dia butuh sedikit paksaan untuk memasukkan seluruh batang penisnya
ke dalam liangku, tapi aku sudah lebih dari sangat basah. Dia masuk ke
dalam tubuhku dalam satu dorongan panjang.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: