Evilution, Part 15

Sekarang sudah tengah malam lebih. Amanda tentu sudah berada dirumah
sekarang. Atau mungkin belum. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Kupelajari instruksi pada telephone hotel untuk melakukan panggilan
jarak jauh. Kubayangkan apa yang dia pakai untuk acara keluarnya malam
ini. Hanya pergi minum dengan Marsha bisa berarti segalanya. Marsha
selalu memperlihatkan bentuk tubuhnya, kubayangkan isteriku berkelakuan
yang sama. Apakah dia memakai rok mini? Blous yang berpotongan dada
rendah? Apa dia memperlihatkan keindahan tubuhnya pada pria-pria di
club? Berdansa dengan mereka? Bahkan mungkin menggoda mereka hingga
penasaran.

Brengsek! Tentu saja dia akan membuat mereka
sangat penasaran. Aku sendiri sangat penasaran dan mulai bergairah
hanya membayangkannya saja. Kumasukkan tanganku kedalam boxerku dan
mulai menyentuh diriku, saat kumulai menekan tombol nomer telephone.
Batang penisku sudah mengeras saat aku selesai menekan nomernya.

Amanda mengangkat telephonnya setelah dering kedua. Dia masih terjaga, mungkin dia baru sampai ke rumah.

“Hai, sayang. Aku tak membangunkanmu kan?”
“Tidak, sama sekali tidak. Aku sudah sampai di rumah sekitar satu jam lalu, tapi aku tak bisa tidur.”
“Oh? Semuanya baik saja bukan?”
“Ya. Semuanya baik saja.”
“Baguslah. Apa kamu bisa bersenang-senang malam ini?” tanyaku.
“Oh, ya! Marsha dan aku mendapatkan saat-saat yang sangat menyenangkan, meskipun kurasa aku mungkin agak terlalu mabuk tadi.”
“Apa yang kubilang soal jangan minum terlalu banyak?”
“Aku tahu, sayang. Aku tahu. Tapi saat kamu bersama Marsha, kurasa kamu akan bertingkah seperti Marsha.”

Oh, Tu**n! Bertingkah seperti Marsha? Marsha, si jalang? Penisku
berdenyut dalam genggamanku. Aku harus dengar semuanya bagaimana
kelakuannya. Aku mau tahu apa dia membiarkan ada pria yang
menyentuhnya, atau menciumnya… atau apalah. Mungkinkah Amandaku, bahkan
Amanda yang baru, bertingkah sejalang Marsha? Kuragukan itu.

*****

Jantungku seakan melompat dari dalam dadaku saat dering suara telephon
menjerit! Sesaat kesadaranku belum mengetahui apa yang tengah terjadi.
Baru saat dering kedua kembali terdengar, kutolehkan kepala ke samping,
ke night stand disamping ranjang.

Kudorong tubuh Opick diatasku yang juga terkejut dan diam. Kuraih
gagang telephone dan kulihat caller id, Kevin! Kukatakan pada Opick
kalau yang menelphon adalah suamiku dan memberi isyarat padanya agar
diam…

Dia menanyakan apakah telah membangunkanku, tentu saja kujawab jujur,
tidak. Kami tenggelam dalam perbincangan, seputar pertanyaan apa yang
sudah kulakukan malam ini.
Sejenak keberadaan Opick tersisih dari perhatianku, hingga saat mataku
melirik kearahnya, diujung ranjang, tangannya bermain dengan batang
penisnya.

Darahku berdesir, sebuah pikiran nakal melintas, akan kubawa percakan
telephone ini kearah yang lain… Kuberi isyarat pada Opick untuk
mendekat, kududuk bersandar pada headboard, paha terbentang.
Kuceritakan pada Kevin tentang dansa di club, tentang rabaan pria yang
menari bersamaku.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: