Evilution, Part 16

“Apa kalian berdansa?”
“Ya, kami berdua melakukannya, sayang. Tapi aku terus memikirkanmu sepanjang waktu.”
“Benarkah?” aku tersanjung.
“Dan, sayang, aku harus katakan ini padamu. Kuharap kamu tak marah padaku.”
“Apa manis?”
“Mmm, pria satu ini, yang lebih tua, jadi sangat ereksi keras saat kami menari…”

Kucoba membayangkan isteriku berada dalam pelukan pria lain, begitu
erat hingga dia bisa merasakan batang penisnya menekan tubuhnya.

“Dan kubayangkan sedang menari bersamamu, sayang.”

Kukocok penisku saat kudengarkan isteriku menceritakan secara detail
bagaimana dia berada dalam pelukan pria asing yang penisnya membuat dia
terangsang. Sekarang, kamu harus tahu kalau aku dan Amanda belum pernah
melakukan telephone seks. Bahkan sebelumnya, saat aku sering bepergian,
dia tak akan mau melakukannya. Dia bilang itu menjijikkan. Tapi
sekarang, inilah dia, sedang menceritakan padaku bahwa dia bisa
merasakan ‘batang penis kerasku’ menggesek tubuhnya, bergerak
bersamanya, seirama musik.

“Dan kutekankan dadaku ketubuhmu, sayang. Putingku sangat keras!”
“Seperti aku sekarang,” kukatakan padanya. Kurasa akan lebih baik jika dia tahu kondisiku.
“Aku mulai basah, sayang, berada begitu dekat… dan saat kamu gerakkan
tanganmu turun ke pantatku… dan menahannya disana… Oh, Tu**n! Aku hanya
ingin segera telanjang bersamamu… Apa kamu sudah telanjang sekarang,
sayang?”
“Ya, aku telanjang, sayang. Kamu?”
“Ya, Kevin. Aku juga telanjang sekarang.”

Batang penisku mendengar dengan nafas tertahan, meregang, berdenyut akan setiap suku kata mesum yang keluar dari telephone.

“Sayang, yang kuinginkan saat itu hanya langsung membawamu pulang dan
naik ke ranjang bersamaku… agar dapat kuhisap penis indahmu…
merasakannya dalam mulutku… dilidahku…”

Kuperkencang genggamanku di batang kerasku, aku tak mau keluar dulu. “Oh, ya, Amanda!”
“Apa kamu genggam penismu untukku, sayang?”
“Ya. Kugenggam erat.”
“Kocoklah untukku, sayang. Bayangkan mulutku sedang mengulumnya,” bisiknya, suaranya mulai terdengar berat, nafasnya memburu.

*****

Kugenggam batang penis Opick yang berdiri dipinggir ranjang,
disampingku, seperti yang tengah kugambarkan untuk Kevin. Kupinta dia
untuk membayangkan sedang kukulum, saat kumasukkan batang Opick jauh
kedalam mulutku. Aku mulai mengulumnya, menjilatnya dengan rakus.
Sensasi yang kurasa sungguh tak terlukiskan, kuperdengarkan pada
suamiku saat kuberikan oral seks basah pada Kevin, membiarkan telinga
suamiku mendengarnya, diseberang telephone. Mumbuatnya mengira aku
sedang menghisap jariku

*****

“Rasakan aku menciummu… menjilatmu… menghisapmu…”
“Oh, Amanda! Aku sangat menginginkanmu!”
“Aku juga menginginkamu, manis,” jawab Amanda. “Aku ingin kamu… didalamku!!”

Penisku sudah siap untuk meledak.

“Aku ingin kamu masukkan sekarang… kedalam vaginaku yang basah!”

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: