Evilution, Part 2

Kencan tersebut akhirnya datang dan terjadi. Sesudahnya, Amanda
menceritakan padaku kalau Charles sangat menikmati malam tersebut.
Akupun akan merasa begitu, dan kudapat sebuah telephone dari Charles
hari Senin keesokan harinya.

“Hey pak, wanita yang bapak kirim untuk menemaniku, si Amanda, sangat mengagumkan.”

Aku tak merasa perlu memberi tahunya kalau yang menemaninya berkeliling kota adalah isteriku sendiri.

“Wah, dia wanita yang sangat sexy! Tapi aku yakin anda sudah pasti tahu itu,” sambungnya.

Dengan cepat berikutnya kutahu kalau Charles telah mencoba mengajak
Amanda untuk singgah ke kamar hotel bersamanya. Isteriku menolaknya
dengan halus dan mengucapkan terima kasih.

“Mungkin lain kali jika anda berada dikota ini lagi, kita bisa saling
mengenal lebih dekat lagi. Itu yang dia katakan. Sialan! Aku tak sabar
menunggunya,” Charles menceritakan padaku, nada suaranya mengisyaratkan
betapa semangatnya dia.

Kuceritakan pada Amanda tentang telephone tersebut dan apa yang
dikatakan Charles. Dia menatapku dan menyeringai lebar. “Ya, aku memang
berkata begitu. Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya tak ingin dia
merasa sedih dengan dirinya. Dia terus merayuku sepanjang malam dan aku
hanya ingin membuatnya tak terlalu merasa ditolak. Kamu tahu kan,
kubiarkan dia mengira kalau aku menganggapnya menarik. Merasa dia
bangga dengan dirinya.”
“Oh, dari yang dia katakan, kukira kamu sangat sukses.”
“Well, itu hanya sedikit godaan yang tak ada ruginya. Lagipula, aku tak
akan bertemu lagi dengannya kan?” Amanda tertawa. “Kamu tidak
jealouskan sayang?”

Kuyakinkan dia bahwa aku tak merasa cemburu dan lalu kusergap lehernya dengan bibirku.

“Apa kita merasa sedikit bergairah malam ini?” dia tertawa genit,
menggapai kebawah untuk memeriksa kondisi selangkanganku. Dia temukan
jawabannya saat mencengkeramkan jemarinya pada tonjolan dicelanaku.

Berikutnya kami memadu cinta dengan gairah yang hampir kulupakan,
permainan cinta kami memang terjadi hanya sebagai rutinitas saja dalam
tahun belakangan ini.

***

Hampir satu bulan berikutnya aku dapat sebuah telephone dari Charles.
Dia akan datang ke kota ini dalam beberapa hari dan dia menanyakan
padaku apakah aku bisa mengusahakan agar Amanda bisa menemaninya lagi.
Kukatakan padanya kalau aku tak yakin bisa menghubunginya, Amanda
sangat sibuk, terangku padanya, berusaha untuk mencegah isteriku bisa
bersamanya lagi. Khususnya setelah apa yang sudah dia katakan tentang
isteriku.

“Dia tidak memberiku nomer telephone-nya,” Charles mengerang. “Aku
sangat berharap dia tidak membohongiku. Aku benci itu. Saat seorang
wanita mengatakan padamu apa yang ingin kamu dengar, dan dia cuma iseng
saja. Apa kamu tak merasa kesal juga?”
“Ya, aku juga benci diperlakukan seperti itu,” jawabku dan kemudian berjanji untuk berusaha menghubungi ‘si sexy Amanda’.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: