Evilution, Part 9

Kamar tempatnya menginap berada di lantai 10 dan didepannya terbentang
sebuah sungai. Pemandangannya memang seperti yang dia janjikan,
menakjubkan.

Kuberdiri didepan sebuah jendela kaca
berukuran besar, memandangi cahaya dibawah. Charles berada
dibelakangku, tangannya melingkari tubuhku. Kutolehkan kepala
menghadapnya “Pemandangannya indah, ya?”

“Memukau,” jawabnya menatap lekat wajahku dihadapannya. Aku tersenyum
dan kuputar tubuhku , dengan tangannya masih melingkariku. Dia begitu
mempesona. Kutatap kedalam matanya, kedua matanya terasa lembut dan
menenangkan. Kucium dia, dengan bibir terbuka, mengundang lidahnya.
Undanganku dia sambut.

Aku punya pengakuan dosa yang berikutnya…

Aku ceritakan pada Kevin bahwa tak ada yang terjadi malam itu di kamar
hotel. Itu tak sepenuhnya benar. Kuceritakan padanya kalau aku cium
Charles dan membiarkannya membelai dadaku. Kuceritakan padanya kalau
aku hanya membiarkan Charles menaruh tangannya diluar gaunku. Aku rasa
aku sedikit berbohong.

Kenyataannya kubiarkan saja Charles menyusupkan tangannya dibalik
gaunku dan meremas payudaraku yang terbungkus bra. Aku tak yakin kalau
Kevin bisa menerima kenyataan sesungguhnya dari kencanku bersama
kliennya.

Aku merasa saat kami berciuman disana, di kamar hotelnya, dan dia
meremas dan mempermainkan payudaraku, aku menjadi sangat terangsang!
Kedua putingku segera mencuat keras. Dan kala Charles menurunkan tali
penahan gaunku melewati bahu, lalu menarik bagian atas dari gaunku
hingga pinggang, aku sadar kalau ini berarti dia ingin membantuku
melepaskan bra yang kupakai, agar dia bisa menyentuh payudaraku, dan
putingku yang keras, daging kenyalku yang telanjang dan memanas.

Dan tepat disana, disaat itu, itu semualah yang kuinginkan.
Kenyataannya, aku tak hanya menginginkan tangannya saja di payudaraku,
aku inginkan mulutnya juga. Dan aku tak merasa kecewa.

Berikutnya kutahu kalau ternyata Charles sangat lihai melepaskan kaitan
bra yang kupakai, selihai jilatan dan hisapannya pada payudaraku. Aku
hampir meraih puncak kenikmatan dengan hanya berdiri disana saat itu.
Dan saat dia mulai melepaskan gaun yang kupakai dari tubuhku
seluruhnya, kubiarkan dia. Dia turunkan melewati pahaku dan membantuku
melangkahkan kaki dari gaunku, menuju ketelanjanganku ditingkat
berikutnya.

Dia berdiri dihadapanku, dia taruh sebelah tangannya pada kakiku yang
terbungkus stocking, membelainya dengan lembut, bergerak naik melewati
lututku, semakin naik melewati bagian atas stockingku. Begitu pelan,
kurasakan ujung jemarinya merayap menyusuri bagian celana dalam berenda
yang mumbungkus selangkanganku. Dan dia kemudian berdiri dihadapanku,
dengan pakaian masih utuh.Dan aku, telanjang hingga batas pinggang.
Hanya mengenakan stocking, sepatu bertumit tinggi dan celana dalam
berenda saja.

Aku ingin dicium, dan dipeluk kembali. Aku tahu dia bisa melihatnya
dalam mataku saat itu. Karena, dengan cepat dia merengkuh tubuhku ke
dalam pelukannya dan menciumku kembali. Payudara telanjangku terhimpit
ditubuhnya kala kami berciuman, mulut kami terbuka, kedua lidah kami
terlena oleh gairah.

Bagaimana mungkin mampu kuceritakan semua itu pada suamiku, Kevin,
tentang bagaimana Charles menelanjangiku hingga hanya mengenakan celana
dalam saja dan melesakkan lidahnya ke dalam mulutku. Bagaimana mungkin
aku harus menceritakan padanya bahwa aku menikmatinya dan aku
menyusupkan lidahku ke dalam mulut Charles juga. Dan juga, bagaimana
aku akan bisa bercerita padanya kalau Charles tak bertahan lama untuk
berpakaian lagi, setelah ciuman tersebut.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: