Evilution, Part 1

Episode I – Kisah Kencan Seorang Wanita Yang Telah Menikah

Namaku Kevin. Isteriku bernama Amanda, dia selalu membuatku merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika dia lewat dihadapan mereka.

Kebanyakan temanku mengeluhkan bagaiman membosankannya isteri mereka dalam urusan seks. Mereka jarang mendapatkan oral seks, para isteri mereka sangat jarang berpakaian sexy lagi. Dan kebanyakan dari mereka, contohnya Tom dan Boby, seks hanya berlangsung diakhir pekan saja. Itu jauh lebih baik dibandingkan kadang hanya sekali dalam sebulan saja. Itu juga terjadi diantara Amanda dan aku sebelum semuanya berubah akhir-akhir ini.

Ketika Boby bertanya padaku minggu lalu tentang berapa sering kami berhubungan seks, aku berbohong. Kukatakan padanya kami melakukannya sekali seminggu. Dia menjawab hal yang sama, mengungkapkan simpatinya terhadapku. Aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Jika dia mengetahui bahwa sesungguhnya Amanda dan aku berhubungan seks tiga sampai empat kali dalam seminggu, dia akan mendesakku untuk mencari tahu apa rahasianya. Dan tak akan mungkin kukatakan kepadanya kenyataan sesungguhnya.

Bisa kukatakan kepadamu rahasiaku. Ini aman, karena kamu tak mengenalku ataupun Amanda. Kamu tak tahu tempat tinggalku atau apapun. Lagipula ini semua terdengar kurang masuk akal. Bahkan temanku sendiri mungkin tak akan mempercayaiku, tapi aku tak peduli apa kamu percaya atau tidak.

Sikap Amanda terhadap seks mulai berubah semenjak malam itu. Ya, mungkin terlalu berlebihan, yang kumaksudkan adalah, coba lihat kebelakang, aku menganggap kejadian tersebutlah penyebab dari perubahan sikapnya. Kejadian apa? Mungkin itu yang kamu tanyakan. Sebuah kencan. Ya. Kencan biasa… dengan pria lain.

Pria lain tersebut klien bisnis perusahaan kami, Mr. Charles. Aku tak terlalu mengenalnya, tapi kupikir dia seorang pria paruh baya yang menarik juga. Mungkin bisa dibilang sedikit gemuk dan rambutnya mulai agak botak dibagian depannya. Dia terbang ke kota ini untuk mengurusi sebuah kontrak yang besar dengan perusahaan kami. Aku bukan termasuk dalam posisi eksekutif, tapi aku berteman akrab dengan beberapa direktur utama. Salah satunya bernama Henry, dia bertanya padaku apakah aku punya kenalan seorang wanita yang bisa menemani Mr. Charles berkeliling kota selama dia berada disini. Henry mulai merasa khawatir. Dia sudah menghubungi semua kolega yang dia tahu tapi tak ada yang bisa untuk saat itu dan dia mengatakan padaku bahwa dia akan merasa sangat berterima kasih bila aku bisa membantunya. Aku coba menghubungi beberapa kandidat yang kutahu, namun mereka juga sedang sibuk disaat tersebut. Saat kuceritakan pada Amanda, dia bertanya kenapa syaratnya harus wanita yang masih single.

“Kamu tidak mencoba untuk mengirim seorang wanita nakal pada klienmu ini kan?”
“Tidak, hanya seseorang untuk menemaninya berkeliling. Seseorang yang tahu tempat makan yang enak, tempat yang layak untuk dikunjungi, sesuatu seperti itulah.”
“Kalau ini memang sangat penting untukmu, aku mau melakukannya.”
“Ini bukan seperti penentu hidup atau mati… tapi ini akan memberikan sebuah penilaian yang sangat baik buatku dihadapan salah satu bossku. Tapi, sejujurnya, sayangku, Aku merasa tak nyaman untuk mengijinkanmu melakukannya. ”
“Kenapa tidak? Aku mengenal setiap bagian kota ini seperti yang lainnya, dan penampilanku tak mengecewakan untuk dilihat bukan?”

Kutelan ludah atas statemen terakhir. Amanda sangat indah dipandang mata. Tubuhnya langsing semampai, buah dada yang terlihat tepat untuk ukuran tubuhnya, paha yang indah, pantat menggoda, rambut berombak sebahunya yang tergerai eksotis.

Tak pernah terlintas dibenakku untuk membayangkan Amanda yang harus menemani Charles untuk semalam, Tapi seperti yang dia katakana, kenapa tidak? Dia pilihan yang sempurna. Dia pintar membangun pembicaraan. Charles akan dapat menikmati keindahan kota ini dengan ditemani oleh seorang wanita yang mempesona.

Dan itulah yang terjadi, Amanda serius akan hal tersebut, seperti yang biasa dia lakukan. Dia terlihat sangat menawan malam itu. Sesungguhnya, agak sedikit terlalu seksi, kuingat aku katakan hal tersebut malam itu. Make-up yang dia pakai sedikit berlebihan dari biasa yang dia pakai sehari-harinya. Gaun yang dia kenakan memperlihatkan bentuk payudaranya yang indah dan kencang serta membungkus perut dan pinggulnya dengan sangat ketat, serta sepasang stocking dan sepatu bertumit tinggi. Charles pasti akan sangat senang, tak akan kuragukan lagi.

“Jaga kelakuanmu,” kugoda dia. Dahinya mengernyit, merasa dilecehkan. Kujelaskan padanya kalau aku hanya bercanda saja. Aku tahu kalau dia melakukan ini hanya demi aku saja. Dia telah melihat foto Charles, jadi dia tahu dia bukanlah seorang buruk rupa meskipun dia juga tahu kalau pria yang akan ditemuinya nanti bukanlah seorang yang rupawan.

One Response to “Evilution, Part 1”

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: