Malam Jumat Malam Ladies

Kuputuskan untuk keluar, walaupun malam ini malam jumat……….
Kuganti baju terusan warna kulit berbahan kaos agak ngepas mengikuti
lekuk tubuh. Tanpa lengan, dengan panjang 15 cm di atas lutut. Dan
dengan belahan leher, belahan belakang serta lingkar lengan yang sangat
rendah. Memamerkan lekuk buah dadaku dari depan dan samping yang tak
dilindungi bra. Karena bahannya kaos, bayangan putingku tercetak jelas.
Hmm.. Cukup menarik, kutatap bayangan di kaca besar dekat pintu. Yup..
Siap untuk menikmati malam ini. Kukalungkan tas kecil dengan tali
panjang menyilang dan kukenakan sepatu terbuka dengan hak 4 cm.
penampilanku makin mempesona karena diudukung oleh badanku yang tinggi
semampai…………

CAFE ini memang terkenal dengan entertainmentnya, tata ruangnya yang
apik….terdiri dari balkon atas dan balkon bawah…….suhu ruangan
yang sejuk dengan tampilan cahaya lampu yang romantis………dan
berdiri diatas laut……..sehingga angin lautpun tercium dari ruangan
ini………, kutebarkan pandangan ke sekeliling. Tampaknya tidak ada
lagi meja kosong di samping panggung. Kupilih untuk duduk di barisan
meja cafe didepan bartender…., tepat di bawah panggung. Kupesan
shooter kesukaan sebagai pembuka. Hentakan musik band dari Bandung yang
khusus didatangkan oleh management EO dari cafe TWT malam itu sungguh
menggugah untuk bergoyang di tempat. Bartender tersenyum melihat aku
bergoyang.

“Enjoy” ujarnya seraya meletakkan minuman.
“Sendiri aja?” lanjutnya
“Iya. Kok rame sih hari ini?” tanyaku karena hari ini bukan malam Minggu
“Oh, ladies night. Selalu rame” ujarnya kemudian menghilang sibuk dengan
pesanan lain.

Musik berganti, lagu Senorita dari Justin Timberlake tak bisa kulewati
begitu saja. Di belakangku juga sudah mulai penuh dengan muda mudi yang
asik bergoyang. Kuhabiskan shooterku dalam satu kali teguk.
Kutenggelamkan diri mengikuti arus. Uhh.. Asiknya bergoyang. Tak
kupikirkan lagi dengan siapa aku bergoyang, ganti berganti, kadang
dengan wanita kadang dengan pria. Hingga akhirnya penyanyi band turun ke
meja bar mengajak para wanita untuk bergoyang dengannya di atas meja.
Tentu saja tak kulewatkan kesempatan ini. Lagu berganti lagu tapi aku
terus menikmati, apalagi sang penyanyi tak mau jauh-jauh dariku.
Keringat yang mengalir di badan, tak kuhiraukan. Bisa dibayangkan
seperti apa pemandangan bagian depan bajuku. Tapi aku tak peduli.
Semakin menarik banyak perhatian.

Akhirnya tiba para pemain band harus beristirahat, musik live pun
berhenti. Sang penyanyi mengucapkan terima kasih dan mengecup pipiku
halus. Kuberi senyuman kecil. Kuturuni meja, agak sukar, namun sebuah
uluran tangan datang membantu.

“Hi, enjoy the night?” suara si pemilik tangan itu ketika aku sudah
duduk di bangku.
“Yeah, and..” Kutengok sebentar setelah merasa pasti.
“Kamu juga?” Ia mengangguk.
“Boleh saya tawarkan minuman?”
“Sure.” Kusebut salah satu nama cocktail dan ia memesan pada bartender.
“So, sendiri aja nih. Atau suaminya lagi sibuk dengan meeting?” Aku
tertawa atas pertanyaannya yang langsung dan menyelidik. Kuangkat jari
jemari.
“Belum laku.”
“Sama dong” jawabnya sambil menunjukkan 10 jarinya.

Baru kuperhatikan wajahnya dengan lebih jelas. Mm.., tampan juga. Kulit
sawo matang, rambut klimis tercukur rapi, dengan postur tubuh tinggi.
Sangat pas. Aku tahu mungkin diapun sudah dari tadi memperhatikan gerak
gerikku. Dengan duduk di bangku bar ini, ia bisa mendapatkan pemandangan
lebih leluasa. Tungkai panjang yang kusilangkan, mengangkat ujung rok
makin mendekat ke pangkal paha. Memamerkan pahaku yang putih mulus.
Belum lagi tonjolan dada putihku yang masih dialiri keringat halus dan
cetakan puting yang semakin jelas. Dengan kesibukanku melap keringat di
tengkuk dan daerah sekitar dada, yang menyebabkan kedua tanganku ke atas
serta memperlihatkan ketiakku, sudah semakin menambah pemandangan indah
baginya.

“Kamu sendiri sama siapa?” tanyaku kemudian.
“Tuh, gerombolan di situ yang dari tadi rame” tunjuknya ke arah belakang
kami. Tak kusangka teman-temannya malah berteriak heboh ketika tatapan
kami berpaling ke arah mereka. Sekitar 6 orang berpasangan.
“Nggak usah dihiraukan.”

Aku tersenyum dan melambai sekenanya ke arah mereka, walaupun tidak
jelas apa yang diserukan ke arah kami. Perbincangan berlanjut ke topik
ringan. Mm.. Pasangan yang enak diajak berbincang. Tidak membosankan,
ada saja yang bisa kami bincangkan. Aku menikmati saat-saat bersamanya.
Dan kami bisa lepas tertawa tanpa rasa sungkan.

Tak terasa para pemain band kembali lagi manggung, gemuruh musik kembali
membangunkan para muda mudi dari tempat duduk, termasuk kami berdua.
Kuikuti irama musik di bangku sambil memegang gelas. Baru kusadar ada
yang tertinggal,

“Nama kamu siapa?” tanyaku dekat sekali di telinganya.
“Sam” serunya di telinga.
“Dea” sahutku memperkenalkan diri
“Hi” balasnya disambung dengan kecupan halus di pipiku.

Aku hanya tersenyum menanggapi kecupannya dan melanjutkan bergoyang.
Hentakan musik yang keras karena hanya berjarak beberapa meter dari
kami, kadang menyebabkan kami harus menempelkan mulut dan bibir di
telinga lawan, sekedar melanjutkan perbincangan. Hal ini semakin
mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku. Sam sengaja berdiri sementara aku
tetap duduk di bangku bar. Tangannya pun sudah tak sungkan lagi. Sudah
berani memegang pundakku atau tanganku atau kadang ujung pahaku.
Kubiarkan saja. Aku menikmatinya juga. Dan tak bisa ditutupi, pandangan
tajam matanya sering menatap belahan putih di dadaku. Apalagi dengan
jarak yang semakin dekat, tak mungkin lagi untuk menghindar.

“Sam. Gantian duduk, Sam.” Aku ingin berdiri. Agak pegal juga.
“Ga apa-apa, aku ingin bergoyang sambil berdiri..” akhirnya Sam duduk,
melihat tatapan yakinku.

Aku lanjutkan lagi bergoyang. Mengangkat kedua tanganku, menggoyang
pinggul, memainkan bibirku dan kadang menatap nakal ke arahnya. Begitu
berulang-ulang. Mungkin tak tahan melihatku seperti itu, ditariknya
pinggangku perlahan mendekat.

“Kamu cantik” bisiknya di telinga dari arah belakang. Kini tubuhku
berada di dalam rengkuhan, di antara kakinya, hingga ia bisa memeluk erat.
“Kamu bikin aku horny” ucapnya lagi, kali ini diikuti dengan kecupan di
telingaku.

Aku merinding kegelian, berusaha menjauh tapi malah didekapnya aku dari
belakang semakin erat. Aku membalikkan badan. Menatap, mengerling ke
arah selangkangannya dan tersenyum nakal.

“Really?” sekedar mengganggu.
“Iya.” Matanya tak lepas dari belahanku yang sudah sangat dekat di
hadapan mata.
“Apalagi yang putih mulus itu”

Kutaruh kedua siku tanganku ke belakang, kusandarkan ke meja bar hingga
dadaku semakin membusung. Dengan keringat halus yang masih menempel,
benar-benar sudah semakin mencetak jelas putingku, bukan hanya ujungnya
tapi lingkar sekitarnya juga tercetak jelas..

“Ga ada penahannya, loh” aku menurunkan tali bajuku setengah lengan
sekedar membuktikan dan beraksi seakan mengintip buah dadaku sendiri.
“Ikut liat dong” geraknya mendekat. Dengan cepat kututup lagi.
“Eh, ga boleh.”
“Kok ga boleh. Boleh, ya. Aku harus ngapain, biar dibolehin?” rayunya
cepat, memohon. Sambil pura-pura berpikir, kubusungkan dada. Sengaja
kubiarkan agak lama.
“Ok. Sini deh.” Kudekatkan lagi bibirku ke telinganya
“kalau kamu bisa buka CD-ku, kamu boleh lihat semua” kumundurkan lagi
wajah, ingin melihat reaksinya.
“Ha..!” tatapannya beralih ke bawah, ke arah selangkanganku yang
tertutup baju dan kembali menatapku. Namun sesaat kemudian, senyum nakal
dan kerlingan menghias wajahnya.
“OK.”

Ditariknya aku ke pelukannya. Begitu dekat, berhadapan tapi bukan untuk
berciuman. Kulingkarkan tanganku di lehernya. Tangannya mulai
bergerilya. Menyusuri punggungku halus merayap kemudian ke lekuk
pantatku, ditepuk-tepuknya sebentar dan diremas. Bikin aku terpekik
sesaat. Wajah kami tetap dekat, saling menatap dan merasakan dengusan
halus napas masing-masing. Makin ke bawah, kedua tangannya mendekati
ujung baju. Ditariknya ke atas perlahan. Aku sempat melihat sekeliling,
ingin memastikan tidak ada yang memperhatikan.

“Takut ada yang liat?” Aku hanya tersenyum. Kubusungkan lagi dada,
sekedar memacu gerak tangannya. Sembulan putih mulus kembali menarik
tatapannya dari wajahku ke arah dada.
“Pingin aku gigit. Bikin merah. Bikin basah.”
“Really?” tatapanku seolah menyepelekannya

Sekali singkap, kedua tangannya sudah berada di balik bawahanku. Bahkan
tidak hanya sekedar mengelus kedua paha tapi juga selangkanganku.

“Oh..”
“Basah, Dea..” ujarnya makin mendekat. Hampir seperti bisikan. Kini
giliran tanganku, mengusap-usap pahanya.
“Hmm.. Pake tali.” Akhirnya tau juga dia.

Tadi sengaja kupilih CD mini dengan tali tipis di kedua sisi. Tangannya
bergerak terampil. Membuka temali satu persatu dan menarik perlahan.
Uphh.. Terlepas sudah dan terasa dingin. Tak ada yang menutup
selangkanganku, membuat aku merasa semakin seksi. Digenggamnya CD di
tangan kiri dan 2 jari tangan kanannya yang masih di bawah, mengusap
halus daerah sensitifku dari arah depan.

“Ohh..” Enak sekali rasanya.
“Ini, CD kamu. Baunya enak,” ujarnya sambil mengacungkan CD warna senada
dengan bajuku, yang diciumnya terlebih dahulu.

Aku bergerak agak mundur, mengambil CD dan menyimpan di dalam tas. 2
tangannya sudah keluar dari balik baju. Diciumnya jari kanan yang sudah
basah cairanku dengan penuh rasa, dan dimasukkan ke dalam mulut.
Dikulumnya. Gerakan bibirnya benar-benar seksi. Membangkitkan birahi.
Kutarik jarinya keluar dari mulutnya, kumasukkan dalam mulutku. Kukulum,
kujilat, keluar masuk mulut, sambil menatapnya tajam.

“Kamu.. Kamu bikin aku tambah horny,” ujarnya lagi sambil menarik jarinya.
“Really..?” lagi-lagi itu yang kuucapkan dengan manja sambil menatap nakal.

Ada napas birahi mulai menyusup di antara kata-kataku. Kemudian kuraba
selangkangannya. Gembulan lunak. Membesar. Kuusap-usap. Ke atas ke
bawah. Bikin dia tambah panas.

“Aku pingin kamu, Dea” bisiknya kemudian. Matanya penuh harap, penuh
birahi. Kumainkan ujung hidungku di hidungnya sambil tertawa genit.
“Aku juga pingin kamu, Sam” kerlingku memberikan lampu ijo. Sam cepat
memanggil bartender dan menyelesaikan pembayaran.

Kemudian kutarik tangannya, kutuntun ke tempat para muda bergoyang. Aku
tahu, dia sudah tak tahan tapi masih ada keinginan untuk melantai,
mumpung sebentar lagi band akan selesai dan bubaran. Kugoyangkan tubuhku
dengan erotis. Mengangkat tanganku ke atas, mengacak rambutku, bergoyang
menempelkan tubuhku di tubuhnya sambil sengaja membiarkan ia merasa
kenyalnya buah dadaku.

Tangannya pun tak mau diam, ditariknya aku mendekat. Dibiarkan aku
meliuk-liuk sementara lengannya erat di pinggangku, sambil
menggosok-gosok kegembulan yang ada di balik celananya ke arah
selangkanganku. Genggaman eratnya turun ke arah pantat. Karena tahu
pantatku telanjang, tangannya mengusap-usap nakal dari luar,
menggelindingkan jarinya di belahan pantatku. Tangannya berusaha menarik
ujung bajuku ke atas. Mencari yang basah di dalam. Aku berusaha menjauh,
sengaja, ingin menganggunya. Tapi ditariknya lagi tubuhku.

Kemudian paha kirinya mulai menggesek-gesek selangkanganku hingga mau
tak mau aku mengangkat kaki kananku bertopang di pahanya. Oohh.. Sungguh
tarian nakal. Aku melingkarkan lengan di lehernya dan semakin
mendekatkan wajah. Pipi kami saling mengelus. Semburan panas napas kami
saling bertukar. Aku tak tahan lagi.

“Ikut aku, yuk” bisikku sambil menatapnya manja, penuh hembusan napas
birahi.

Kutarik lengannya lagi. Kali ini dengan tergesa. Kuajak dia melewati
lorong hotel, menaiki tangga 1 lantai. Terasa sangat jauh. Langkah kami
semakin cepat. Akhirnya, kamar terbuka.

“Gak usah dinyalain, Dea.”

Aku membatalkan keinginan untuk menyalakan lampu kamar. Ditariknya aku
lembut ke arah tempat tidur. Karena gorden tebal tidak kututup, masih
ada cahaya lampu dari taman di luar yang membantu penglihatan kami.
Dibiarkan aku berdiri sementara ia duduk di samping tempat tidur.
Diturunkannya perlahan tali bajuku. Hingga ia bisa mendapatkan buah dada
yang dari tadi diinginkannya.

“Benar-benar indah.” Dijilatnya perlahan. Sementara kedua tangannya
melanjutkan menurunkan bajuku.
“Aahh..” aku mendesah. Kuelus rambutnya halus. Jilatannya berubah
menjadi cubitan nakal dengan kedua bibirnya di kedua puting. Bikin aku
kelojotan.
“Samm.. Enak..”
“Kamu benar-benar cantik, Dea.” Kini aku berdiri di depannya tanpa
selembar benangpun.

Kubuka kaosnya. Uuhh.. Badan yang atletis. Tulang pundak yang kokoh,
diikuti dengan perut yang nyaris tanpa lemak. Kukulum putingnya. Ia
berkelojotan kecil. Aku duduk di pangkuannya, seperti duduk di boncengan
motor. Kulingkarkan kakiku di tubuhnya. Lidahnya dengan cepat bergerilya
di leher, di pundak dan dadaku. Mengecup, menjilat, oohh.. Aku mendesah
semakin menjadi. Kugosok-gosokkan selangkanganku di pangkuannya.
Menghasilkan goyangan erotis tubuh telanjang.

“Sam.. Puaskan aku..” erangku kemudian.

Tanpa menurunkan aku, Sam berdiri, menggendongku dan meletakkan aku di
tempat tidur. Dengan gerakan tangannya yang cepat, Sam menurunkan CD dan
celana panjangnya sekaligus.

“Wow..”
Penisnya sudah berdiri tegak. Kekar. Panjang. Otomatis, tanganku
mengusap, mengelus batang yang penuh janji itu. Kutarik badannya
mendekat dan mulai memainkan penisnya di bibir ku. Kumainkan lidah di
antara belahan kecilnya. Kutelusuri lekukan helmnya dengan ujung lidah.
Kujilat memanjang, membasahi sekujur penisnya. Dan akhirnya kumasukkan
perlahan ke mulut.

“Aghh.. Enak, Dea.. Teruss..”

Kujilat. Kumasukkan lagi lebih dalam, kuisap-isap lagi. Dan kemudian
kumasukkan sedalam mungkin ke mulutku. Sam semakin mendesah. Diusapnya
rambutku. Keluar masuk keluar masuk.. Semakin basah. Kujilat juga buah
zakarnya. Kujilat halus, kukulum perlahan, sementara penisnya
kukocok-kocok.

“Oughh, enak banget, Dea” Kumasukkan lagi penisnya ke dalam mulutku.
Setengahnya. Kukulum, kujilat seperti es krim dan setengahnya lagi
kukocok-kocok.
“Dea.. Gantiann..” Dibaringkannya aku kembali, ia naik ke atas tubuhku
dan bertopang di kedua lututnya.
“Sam..” desahku saat ia mencium leherku dengan garang.
“Dea.. Aku pingin kamu..” ujarnya sambil menatapku penuh arti dan
kembali melanjutkan ciuman.

Bibirku menjadi santapannya. Dikulum dengan penuh gairah. Lidahnya pun
tak tinggal diam. Berkelana di setiap relung mulutku. Lidah kami saling
beradu. Hingga menimbulkan suara birahi tak terkendalikan. Hembusan
napas kami semakin memacu, dengusan birahi memenuhi kamar hotelku.

Puas dengan ciuman di bibir, lidahnya bergerilya, mencium leherku.
Kemudian beranjak ke dada. Diisapnya buah dadaku yang kiri sementara
tangannya sibuk memelintir putingku yang kanan. Diisap, dijilat,
dikulum, oohh.. Membuat aku kelojotan menahan sensasi. Ketika lidahnya
berpindah ke sebelah kanan, tangannya menjalar ke bagian bawah. Kubuka
kedua kaki lebih lebar, mengharap ke sana lah arahnya. Perutku
dirabanya, diusap halus, dan berjalan lagi ke arah bawah. Ke bulu-bulu
halus di atas vagina, diacak-acaknya.

“Teruss, Sam..” Desahku. Sam mengangkat wajahnya menatap aku yang memohon.

Diciumnya aku sekali lagi dengan ciuman penuh napsu birahi, agak
panjang. Kemudian Sam bergerak dengan ciuman dan jilatannya semakin ke
arah selangkanganku. Ia membungkuk, membuka kedua kakiku, merabakan
jarinya di unggukan yang mulai lembab.

“Aghh..” erangku ketika lidahnya menjilat vagina dan klitorisku. Enak.

Jarinya pun ikut bermain, meraba, mengusap hingga menusuk-nusuk liangku.
Keluar masuk, menghantarkan aku ke sensasi yang luar biasa. Bergantian
dengan lidahnya yang bergerak liar. Menjilat dari atas ke bawah.
Menggigit kecil, menarik bibir vagina, dan memasukkan lidahnya ke liang
basahku. Menyedot kuat-kuat..

“Gilaa.. Samm..” rambutnya kuacak-acak.

Jeritanku menambah keliarannya. Diangkatnya satu pahaku dengan sebelah
tangan, supaya vaginaku lebih terbuka. Jilatan liar berpindah ke kedua
sisi pahaku, kemudian kembali ke vagina dan kadang ke lubang kecil yang
ada di belakang. Oohh.. Benar-benar tak terkira rasanya. Gerakan jari
yang keluar masuk semakin tak tertahankan. Liangku makin basah. Sam
menambahkan jumlah jari yang bermain liar di liangku menjadi 2 jari.
Keluar masuk keluar masuk. Gelinjangku makin tak menentu.

“Samm.. Ahh.. Samm..” jeritku makin mengencangkan permainan jarinya.

Jilatannya berhenti, ditatapnya aku dari arah bawah sana. Sementara 2
jarinya semakin kencang keluar masuk liangku, terasa mengaduk-aduk. Tak
hanya itu, Sam mulai menjilat klitorisku. Dihisap, dijilat, ditarik
perlahan dan disedot keras. Berulang kali.

“Samm.. Aku ga tahan..” Tapi jari Sam malah makin kencang mengocok,
diikuti dengan dengus napasnya yang memburu. Ahh..

Sam mendaki tubuhku sambil mencium, menjilat kujur tubuhku yang bergetar
menikmati permainan jarinya. Jilatan liarnya telah sampai di buah
dadaku. Dengus napasnya yang hangat membuat birahiku makin menjadi.
Semakin cepat jari itu bergerak. Tak tahan lagi..

“Aa.. Kuu.. Ma.. Uu.. Keluarr.. Samm..” Bersamaan dengan itu, badanku
bergelinjang keras, kakiku menghentak-hentak, dan cairan surga terasa
mengalir.
“Ahh.. Samm..” Aku terlena sesaat, dan tersenyum padanya yang rebah di
dadaku.
“Basah banget, Dea..” kurasakan jarinya masih betah di bawah sana.
Bergerak-gerak hingga menimbulkan bunyi decak.
“Kamu sih..” Aku berucap manja.
“Aku bersihin ya, sayang,” dikecupnya aku lembut sebelum bergerak
perlahan ke selangkanganku. Kedua kakiku dibukanya lagi. Diusap-usap dan
dipelintirnya ujung klitorisku. Aku terlonjak, tak menyangka ia akan
melakukan itu.
“Sam.. Nakall..!”

Wajahnya maju mendekat ke vaginaku. Dijilatnya perlahan. Katanya, untuk
dibersihkan. Feels good. Dijilatnya dari ujung bawah hingga ke klitoris,
begitu berulang kali. Kadang lubang kecil di belakang pun dijilatnya,
dan lidahnya berusaha masuk. Uuhh.. Menggelitik birahi yang sempat terlena.

“Ahh..” Desahku tertahan.
“Enak..?” Sam mengintip dari balik selangkanganku.
“Iya..”
“Enak mana sama yang ini?” Sam berlutut dan memainkan penisnya yang
masih berdiri tegak itu. Dipukul-pukulnya perlahan ke arah vaginaku.
“Auch.. Nakal, ih Sam..” ucapku manja. Napas birahiku mengikuti tiap
kata yang keluar.

Sam memainkan perlahan penisnya di belahan vaginaku. Ke atas ke bawah,
seperti jalannya lidah. Kadang digerakkannya seperti akan masuk ke dalam
liang, membuatku menahan napas keenakan. Tapi kemudian ditariknya kembali.

“Samm..”
“Kenapa?” tanyanya halus, pura-pura tak tahu. Sam mengulang lagi
perbuatannya tadi. Vaginaku basah kembali dan lapar akan batang yang
bermain-main nakal di depan pintu liang.
“Ayo dong, Sam. Aku kepingin banget,” wajahku sudah dipenuhi dengan
napsu birahi yang membara.
“Kamu tambah cantik kalau lagi kepingin gitu, Dea sayang.”

Aku menjulurkan lidah. Sam beranjak mendekati wajahku, menindih tubuhku.
Otomatis penis besarnya terasa mengelus-elus perutku. Lidahku yang
keluar disambarnya dengan kuluman yang panjang. Diikuti dengan gumam
penuh birahi yang membuatku semakin lapar akan batangnya. Akhirnya
dilepas ciumannya, dan Sam mengarahkan penisnya ke pintu liangku. Karena
sudah sangat basah dan licin, penisnya masuk dengan mudah.

“Aghh..” berdua kami mendesah, merasakan nikmat yang sama-sama ditunggu.
Penisnya bergerak masuk perlahan, menyeruak liang basah penuh lendir
kenikmatan. Dibiarkannya penis kekar itu beberapa saat di dalam. Sam
melanjutkan ciuman tadi. Lidah kami bergumul dipenuhi birahi.

Kemudian Sam mulai menggerakkan pantatnya, membuat gerakan memutar, dan
penisnya ikut memutar, menyentuh seluruh tepi liangku. Nikmatnyaa..
Ciuman kami terlepas. Sam juga ikut mendesah seperti halnya aku.
Kuimbangi gerakannya dengan ikut memutar pinggul dan pantat. Kini kami
sama-sama memberikan sensasi.

“Aghh.. Samm..”
“Mhh..”

Penisnya bergerak keluar masuk. Gerakannya tidak terburu-buru, seakan
ingin menikmati malam panjang ini tanpa tergesa. Kugerakkan otot vagina,
ingin mengurut dan meremas penisnya. Tangannya mulai berjalan mencari
gundukan yang dapat diremas, buah dadaku pun dimainkannya.. Membawaku
masuk lebih jauh ke alam birahi. Enaknyaa..

Kemudian Sam menekuk kedua kakiku, ditahan dengan kedua tangannya. Dan
diambilnya bantal mengganjal pantatku, hingga vagina terangkat. Kini
penisnya masuk semakin dalam. Dipompanya dengan lebih cepat.

“Oghh.. Ohh..” suaraku ikut bergetar senada dengan tekanan yang kudapat
“Suka penisku, Dea?”
“Suka banget, Samm..” Sam terus mengocok. Keluar masuk keluar masuk.
Kadang dikocoknya keras kadang perlahan. Oohh..
“Dea, gantian sayang. Kamu di atas.”

Kami berganti posisi. Kubiarkan ia membaringkan badan terlebih dahulu,
kucium mesra bibirnya. Kemudian kuarahkan penis kekar itu ke vagina dan
kumasukkan perlahan.

“Ughh..” kami mendesah bersamaan lagi saat vaginaku menuruni penis kekar
berurat itu.

Aku diamkan sesaat hingga terasa begitu dalam di vaginaku. Kemudian
kugoyangkan pinggul memutar. Sambil vaginaku berusaha menghisap-isap
penisnya. Perlahan kuangkat badanku tanpa menghentikan gerakan memutar.
Kemudian turun perlahan. Berulang kali, sambil menatap wajah Sam di
antara keremangan kamar.

“Ahh.. Dea.. Feels good..”
“Uhh..”

Aku pun menikmati permainan malam ini. Kugoyangkan badanku seperti saat
melantai tadi. Kuangkat lenganku ke atas, dan menaik turunkan pinggulku
secara perlahan sambil mendesah keenakan. Keringat yang mengalir,
membuatku makin liar.

“Deaa..”

Kutambah lagi goyangan erotisku. Memutar pinggulku lebih cepat. Dan
gerakan keluar masuk kupercepat. Sam meremas-remas kedua buah dadaku
yang bergerak leluasa ke kanan ke kiri.

“Aggh.. Dea.. Kamuu..” Sam mengerang keenakan. Kupijak telapak tanganku
di dada bidangnya. Liangku makin basah. Aku merasa hampir ke puncak
birahi ku lagi.
“Sam, aku hampirr..”
“Tahan, sayang. Sama-sama. Sebentar lagi..”

Sam duduk dari baringnya, tanpa melepaskan penis yang ada di dalam
vagina, digendongnya aku dan didudukkannya di meja. Diajaknya aku
ber-doggy style. Aku turun dari meja dan menopangkan tanganku di tepi
meja. Di dinding di atas meja ini ada sebuah cermin besar berbentuk
persegi. Di keremangan, bisa kulihat pantulan bayangan kami di cermin.
Oh.. Seksi.. Tubuh telanjang kami terlihat seksi bersimbah keringat. Dan
tatapan kami penuh birahi.

Sam mulai menggerakkan penisnya, keluar masuk dengan cepat. Bunyi
gemericak antara penis yang keluar masuk dan vagina yang basah dengan
lendir semakin nyaring terdengar. Dengusan napas dan lenguhan kami juga
makin memacu birahi. Bergantian dengan desah dan erangan, menambah ruang
kamar hotelku penuh dengan hawa birahi. Sesekali kucuri pandang bayangan
kami di cermin. Ahh.. Sangat menarik.

Sam semakin mempercepat kocokannya. Aku pun semakin mendorong pantatku
ke arah belakang. Tak ingin kehilangan setiap momen keluar masuknya
penis kekar itu.

“Aggh.. Dea.. Hampir Deeaa..”

Sam makin menggenjot keras penisnya. Memompa, menyodok hingga badanku
tersentak-sentak ke depan. Tangannya juga semakin liar meraba semua
lekuk tubuhku. Pantatku diremasnya tak karuan. Kadang buah dadaku pun
diremas seperti orang kegemasan. Putingku pun tak lepas dari
plintirannya. Pertahananku mulai lemah, lahar birahi serasa ingin meluap
di titik puncak. Jari jari tangan kiriku bermain liar di ujung klitoris.
Ohh..

“Samm.. Ga tahann..” Penis Sam kurasakan makin menegang, membesar,
mengeras.. Lenguhannya pun sudah berubah menjadi erangan tak jelass..
Nafas kami terdengar tak beraturan.
“Keluarr.. Deaa..”
“Aghh..”

Aku pun sudah tak bisa menahan bendungan lahar birahiku. Oougghh..
Kudorong pantatku ke belakang bersamaan dengan hentakan dan semburan
cairan nikmat Sam berulang kali, memenuhi liang vaginaku yang juga penuh
dengan lendir nikmat. Lututku terasa lemas sekali. Sam dengan cepat
membawa aku kembali ke tempat tidur. Kami menjatuhkan diri dan berbaring
telentang. Ohh.. Nikmatnya. Napas kami masih terdengar berat. Wajah dan
tubuh kami bersimbah keringat. Benar-benar nikmat. Sam membelai halus
pipiku dan menciumku lembut mesra.

“It was so great, Dea. Thanks”
“You’re welcome, Sam.”

Kami berciuman kembali. Sambil berpelukan. Tanpa selembar benang pun di
tubuh kami.

hmmm…..malam jumat depan aku akan ke TWT lagi………

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: